Senin, 12 Oktober 2015

Believe In Love (Cerpen RiFy)



BELIEVE IN LOVE


---Dilarang Keras Mengcopy Paste-----




Gadis berdagu lancip itu mulai menutup lembaran terakhir buku diarynya. Menatap lirih pemuda hitam manis dengan gitar coklat sedang tersenyum dalam foto. Tangannya membelai lembut foto tersebut. Mengingat dan membingkai setiap lekukan wajah kokoh itu dalam memori. Angannya melayang membayangkan jika pria hitam manis itu miliknya. Jari lentiknya tersentak saat mendapati benda di leher pemuda tersebut. Benda yang menjadi salah satu dari banyak unsure tembok tinggi penghalang cinta mereka. Membuat gadis berdagu lancip itu mengubur dalam-dalam mimpinya. Kalung salip.

“Andai waktu dapat diputar, andai mesin waktu itu ada,aku tak akan pernah memilih untuk mencintai mu. Tapi kenapa takdir mempertemukan kita dalam bayang cinta namun tidak memberi kesempatan untuk kita bersatu?’

Mata beningnya terus mengeluarkan air mata tiada henti. Tidak peduli akan resikonya, tidak peduli akan matanya yang tanpak lelah memproduksi Kristal bening. Karena rasa itu selalu bergemuruh, meneriakkan semangat, meneriakkan bahwa cinta perlu diperjuangkan.
                                                    ******
“Fy, kak Rio!” Desis Sivia pelan sambil mengedipkan matanya. Bertindak senormal mungkin, agar pria yangdisebut namanya tidak menyadari hal itu.

Ify sudah merasakan kehadiran Rio. Cinta itu begitu kental. Seakan pemilik cinta adalah dua kutub magnet yang berbeda, akan saling tarik menarik jika didekatkan.

Bola mata indah itu menatap sengit pemilik mata elang yang hanya berjarak tiga meter. Sesuai dengan namanya, elang tidak akan mau begitu sajakan melepas mangsanya?. Sempat terjadi adu tatapan antara dua makhluk yang sedang dilanda pahitnya cinta. Tangan keduanya mengepal dengan kuat, rahang mereka mengetat, dan sungguh tatapan itulah yang mematikan. Karena disana kau tidak dapat berbohong, disana kau tidak bisa bilang benci dia tapi tak bisa tidur karenanya. Dan karena mata adalah refleksi hati.
Si pelaku pasif –Sivia- hanya membiarkan dua insane itu melepaskan kerinduan dengan cara mereka sendiri yang jujur Sivia akui membuatnya bergidik ngeri. Tangannya tak henti memperbaiki kerudung putih yang sebenarnya sudah rapi tanpa sentuhan lembut Sivia. Dia benar-benar risih akan adegan yang menurutnya sudah diluar batas.

“Ekhem” Sivia berdehem kecil memecah keheningan. “Jangan pake bahasa isyarat!’ Sivia tersenyum menggoda Ify dan Rio. Mengingatkan pada sahabat kecilnya bahwa yang dilakukannya adalah larangan Allah.

 Ify mengerti akan kegelisahan Sivia. Sungguh, dia hanya lepas kendali. “Ayo kita balik!” Seakan ucapan Ify adah perintah besar, Sivia dengan sigap menggandeng tangan Ify dan menjauhkannya dari Rio. Sivia hanya tak ingin melihat Ify semakin lama bertemu dengan Rio, ia takut Ify tersiksa.

“Fy, kamu harus selesaikan semuanya.” Sivia tersenyum lembut sambil menggosok-gosok pelan bahu Ify. Menyalurkan sedikit kekuatan yang dimilikinya. “Kamu harus selesaikan sama kak Rio. Bilang kalau semuanya udah berakhir. Kalian berbeda dan selamanya kalian tak bisa bersatu.Kamu harus lanjutin hidup kamu Fy.” Tatapan menyejukkan Sivia membuat Ify tergoda. Namun, lagi-lagi rasa itu meneriakkannya dan kini bahkan lebih besar untuk menyalahkan ucapan Sivia. Memilih antara dua pilihan yang sama-sama baik, bukankah itu sulit?

“Aku gak tau Vi.” Ify menjawab pasrah. Otaknya membenarkan seluruh ucapan Via, tapi tidak untuk hatinya. Perasaan itu bergemuruh memaki Sivia.
                                            *******

“Nanti ada tamu special.” Mama Ify mengerling nakal pada Ify. Memberi kode pada papa Ify sambil tersenyum aneh.

Ify mengerutkan kening, tidak biasanya kedua orang tuanya bertingkah seperti dua remaja seumuran dengan Ify.

TING TONG!

Suara bel memecah keheningan. Mama Ify semakin tersenyum aneh. Dan entah mengapa Ify menjadi gelisah

“Tamu specialnya sudah datang.

Dibalik pintu muncul seorang pria yang sangat asing bagi Ify, tersenyum manis padanya. Mungkin seumuran dengan Ify atau 3 tahun lebih tua dari nya. Pria dengan penampilan yangtidak jauh beda dengan papa Ify. Memakai baju muslim dan sebuah peci tersemat di kepalanya. Jantung Ify memompa dengan cepat. Ia menatap dalam pria itu, entah mengapa Ify yakin pria itu akan jadi masalah baru dalam hidupnya. Ify menghela napas. Ayolah, satu masalah saja belum selesai!
                                         *******
Ify menangis dibalik selimut tebal. Waktu sudah menunjukkan dini hari, tetapi mata cantiknya tetap tak bisa terpejam. Ia terus berharap bahwa yang dialaminya hanyalah ilusi semata. Semakin kuat ia menentang, semakin jelas terlihat bahwa ini adalah kenyataan. Dan dengan berat hati, Ify harus mengakuinya. Perjodohan? Ia akan dijodohkan dengan seorang pria yang sama sekali tak pernah dikenalnya apalagi sampai menaruh hati pada pria itu. Pria itu lulusan kairo? Peduli apa Ify. Ia punya banyak cabang perusahan? Ify tidak gila harta. Mereka akan dinikahkan dalam waktu dekat? Bencana besar akan terjadi begitulah yang terlintas diotak gadis cantik ini. Ingin rasanya ia amnesia pada saat itu juga. Melupakan cinta tanpa kepastiannya dengan Rio dan siap membina rumah tangga dengan pria yang kalau Ify tidak salah dengar namanya Cakka. Ya, Cakka Kawekas Nuraga. Sebuah nama yang indah.
                                          *******
Langkah kakinya terhenti karena kini ada sepasang kaki yang menghalanginya. Ia mendongak untuk mengetahui siapa yang telah menghadangnya. Seketika napasnya tercekat saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya. Pria yang sama sekali tak pernah Ify harapkan kehadirannya. Tapi cinta, lagi-lagi cinta yang menuntun mereka untuk bertemu.

“Kenapa kamu ngehindar dari aku?” Rio sudah membulatkan tekadnya untuk bicara terang-terangan pada Ify. Karena sejak kejadian tempo lalu, Ify tak penah lagi berkomunikasi dengannya bahkan menjauhinya. Kejadian yang seharusnya Rio lah yang marah, Rio lah yang menghindar. Justru si gadis berdagu tirus itu malah menghindar darinya. Bukankah perempuan begitu? Tidak mau disalahkan. Rio diusir secara tidak terhormat dari kediaman Ify, karena dianggap membawa pengaruh negative untuk Ify. Alhasil Ify dan Rio tidak tidur semalaman.

Ify menghela napas. Memenuhi rongga dadanya dengan oksigen pagi yang segar dan belum terkontaminasi dengan karbonmanoksida atau zat kimia sejenisnya. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding. Mempersiapkan diri untuk bertindak sesuai saran Sivia. Rio hanya diam menunggu jawaban dari bibir gadis mungil ini.

“Kita udahan aja yah kak!” Ify menatap penuh harapan pada Rio. Ia sangat berharap Rio menyetujuinya atau bahkan hanya sekedar anggukan, Ify sangat berharap itu. Sungguh, Ify tak ingin mengatakannya. Rio hanya dian menatap lurus dan itu cukup membuat Ify tertekan. Karena sedihnya Rio adalah sedihnya juga. Melihat tak ada tanggapan dari Rio, Ify mulai melanjutkannya. “ Dari segi kepercayaan aja kita beda kak. Gimana kita bisa bersatu? Bukankah cinta butuh kepercayaan? Orang tua kita juga tidak merestuinya. Dan bukanah restu orang tua adalah hal yang sangat mujarab? Aku harap kakak ngerti.” Dengan sekuat tenaga, Ify menahan air matanya yang entah mengapa belakangan ini sangat mudah meleleh membanjiri pipi mulusnya. Setiap jenis tulangnya bergetar membuktikan bahwa mereka tidak terima. Tapi, apa boleh buat? Siap tidak siap tetap harus siap.

Rio mengetatkan rahangnya. Semua jarinya ia kepalkan. Hanya dengan cara inilah yang ia lakukan untuk menutupi kerapuhannya, menutupi betapa remuk hatinya saat ini. Rio tak terima, tapi ia juga tidak bisa mengelak. Yang Ify katakan seluruhnya adalah benar. Mereka tidak akan bisa bersatu sampai kapan pun.
Rio memejamkan matanya. Berpikir matang-matang akan pilihannya. Sudah saatnya ia harus melepaskan Ify. Semuanya hanya percuma jika pada akhirnya mereka tidak bisa menerima keputusan. Cinta mereka hanyalah imajinasi dan akan selalu begitu.

Rio mengangguk sambil tersenyum. Ada sedikit kelegaan diantara keduanya. Rio bisa merasakan senyum hangat di wajah Ify. Senyuman yang sangat dirindukannya.

“Tapi, nanti kamu datang ke taman jam 4!” Lanjut Rio masih dengan senyum manisnya. Ify mengkerutkan keningnya. Rio selalu bisa mengubah keadaan. “Kita cuma jalan-jalan kok.” Seakan mempunyai kemampuan telepati, Rio tau apa yang dipikirkan Ify. Belum sempat Ify mengiyakan, Rio sudah menghilang daari hadapan Ify.
                                             *****

“Kamu udah baikan sama kak Rio?” Sivia tak sengaja melihat Rio dan Ify. Ada kebahagiaan didalam dadanya. Namun tak bisa dipungkiri, ia cukup khawagtir dengan keadaan ini. Ify bukanlah Sivia yang tahan banting akan cobaan. Ify hanyalah gadis lemah yang akan menangis jika semua berjalan diluar rencananya.

“Udah.” Ify menjawab dengan antusias. ‘Kak Rio juga ngajakin aku ke taman jam 4.” Masih dengan senyum bahagianya, Ify berbicara hangat. Seakan masalah yang dihadangnya sudah selesai.
 
“Ooh..” Sivia meng-oo kan mulutnya. Sekedar tak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya. Dia tak ingin melihat sahabatnya kembali meneteskan air mata.
 
Ify membuka diary pink miiknya. Tangan mungilnya dengan lihai membuka kunci buku diary. Ia ingin mencurahkan pada teman curhat kedua setelah Sivia, mencurahkan betapa bahagianya ia hari ini. ‘Ada yang kurang’ Batin Ify. Ify lupa menulis cerita perjodohannya. Perjodohan itu membuat selera menulisnya menurun. Ify kembali menutup buku diarynya. Mendaak Ify tak selera hidup.

“Kenapa?” Tanya Sivia.

Ify menghela napas kasar. Ia tak suka dijodohkan. Dipaksa menikah dengan seorang yang sama sekali tak pernah kita harapkan kehadirannya, bukankah itu sebuah penderitaan?

“Aku bakalan nikah dalam waktu dekat sama orang pilihan papa dan mama.” Ify benar-benar pasrah kali ini. Ia sama skali tak keberatan dengan permintaan Rio. Karena mungkin itu akan jadi terakhir kalinya dia melihat senyuman manis milik pemuda mata elangnya.

Sivia tersenyum hambar. Merasa prihatin dengan nasib sahabatnya. Ia juga tak bisa apa-apa jika berada di posisi Ify. Sivia merasa tak da gunanya ia menjadi, bahka ia tak bisa meringankan sedikit beban Ify. ‘Sabar Fy. Allah gak bakalan ngasih cobaan yang gak bisa kamu lewati. Believe in your heart!”
                                             ********

Masih dapat terasa dengan jelas, aroma khas dari tangisan awan. Embun bergelayut manja di bunga dandelion, menggoda setiap makhluk untuk memetiknya. Kupu-kupu terbang bebas seakan tak punya masalah. Ribuan atau bahkan jutaan semut merah kembali melanjutkan tugasnya. Berbeda sekali dengan perasaan pemuda hitam manis ini. Badannya sudah basah kuyup terkena siraman hujan.Tak ada perasaan kedinginan terlintas dibenaknya. Hanya ada rasa khawatir menunggu sang gadis pujaan menepati janji. Tangannya menggenggam erat benda dalam genggamanya, seakan tak ingin benda tersebut lepas dari hadapannya.

“Kak Rio..” Sapa seorang gadis dengan lembut.

Mendengar namanya disebut, hati pemuda ini mendadak cerah. Pikirannya kembali jernih setelah dipaksa untu bersabar menunggu gadis pujaan. Dan perasaan itu kembali hancur lebur saat mengetahui bukan Ify yang memanggilnya.

“Kak Rio ngapain basah kuyup disini?” Tanya Sivia heran. Ia bingung dengan tingkah kakak kelasnya yang kekanak-kanakan. Padahal, umurnya lebih tua dari Sivia. Sesaat terlintas kenyataan bahwa Rio habis bermain hujan di otaknya.Sivia menghapuskan pikiran itu jauh-jauh, membuang hipotesis konyolnya.

“Lagi nungguin Ify.” Rio kembali menyandarkan punggungnya. Ia merasa putus asa dan sia-sia telah menunggu sesuatu yang tidak pasti. Meskipun begitu, tangannya tak henti menggenggam erat benda itu.
 
Sivia teringat akan Ify, teringat akan perjodohan Ify. Sivia harus kasih tahu kak Rio, begitulah yang terlintas di hati kecilnya. Ia tak ingin Rio menanti hal yang sia-sia. Berita perjodohan Ify tentu akan membuat Rio mengalah dan pergi meninggalkan Ify.

“Ify akan nikah dalam waktu dekat, kak.” Sivia berbicara dengan nada yang sangat bergetar. Ia tak ingin menyakiti perasaan Rio, Ia hanya tak ingin Rio terjebak dalam cinta butanya. Ia ingin menunjukkan pada Rio bahwa ia sedang salah arah.
 
Bagai dihantam ribuan karang, disayap dengan pisau tumpul, disengat ribuan lebah, begitulah yang dirasakan Rio. Benda yang digenggamnya dengan erat jatuh seakan tak ada sedikit pun tenaga yang menyangganya. Hal itu cukup membuktikan pada Sivia, bahwa pemuda dengan mata elang itu sedang rapuh. Menunjukka pada dunia bahwa ia benar-benar tak berdaya. Sivia merutuki ucapannya Ia tak pantas dan tidak memiliki hak untuk mengatakannya. Sivia menunduk dalam, membayangkan bagaimana ekspresi Ify yang sangat kecewa padanya.
                                       ********
Senja sudah berganti menjadi malam seutuhnya. Gadis dengan dagu tirusnya masih senantiasa di depan meja rias. Memperhatikan secara seksama bayangan dari wajahnya. Memperhatikan betapa tak berdayanya ia untuk mempertahankan cintanya. Ify sangat ingin menemui Rio, mencurahkan betapa berat beban yang sedang dihadapinya. Membagi sedikit keresahan, agar tidurnya lebih nyenyak. Tak bisa dipungkiri, orang tuanya mengetahui semua itu.

Lamunan Ify buyar seketika saat mengetahui ada yang mengetuk jedela kamarnya. Kamarnya berada di lantai dua, bukan orang isen yang akan rela-rela memanjad lantai dua. Pikiran buruk mejalar diseluruh sel otaknya. Namun, rasa penasaran mengalahkan semuanya.

“Kak Rio!” Ucap Ify tertahan. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang ada dihadapannya. Seorang pemuda yang sangat menjaga image nya bertindak seperti perampok dan itu dilakukannya demi seorang Ify.

“Kamu tadi kok gak datang?’ Rio berbicara hangat seolah-olah dia baik-baik saja. Ify hanya menunuk dalam, tak sanggup menatap mata elang pemuda hitam manis tersebut. ‘Kamu bentar lagi mau nikah ya?” Tanya Rio dengan tawa riangnya yang lebih tepat untuk menertawakan betapa bodohnya ia. Ify berusaha menahan tangisnya, membuktikan pada pria hitam manis ini bahwa ia sangat bahagia dengan apa yang dijalaninya. “Semoga kalian berbahagia.” Rio tersenyum hanya menunjukkan bahwa ia tidak keberatan dengan pilihan gadisnya. “Selamanya..”

Rio berbalik badan membelakangi Ify. Meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bisu bahwa seorang Mario Stevano Aditya Haling adalah pengem is cinta. Kini mata elang itu sudah tak kuat lagi menampung beban . Air mata itu benar-benar menetes di wajah kokoh pemiliknya. Cinta bahkan mampu membuat seorang berhati batu terlihat lemah di depan orang disayanginya.

“Kak!” Cegah Ify sebelum Ro menghilang dari hadapannya. “Tapi aku cintanya sama kakak.” Suara yang terdengar sangat lirih, karena pemiliknya sudah merasa tak berhak mengatakan itu. Rio tersenyum dibalik tangisnya, tersenyum karena menyadari bahwa gadis yang dipujanya maih memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia bahagia bahwa hati sang gadis masih untuknya.

“Kamu bicara sama siapa Fy?” Tanya mama Ify disebrang pintu kamar Ify disertai dengan ketukan yang terdengar sangat penasaran.

Jantung keduanya memompa dengan sangat cepat. Ify mendorong tubuh tegap Rio agar keluar dari kamarnya. “CEPAT PERGI KAK!” Merasa dongkol dengan Rio tak beranjak dan ketukan Ibunya yang kian terdengar keras.

Bukannya beranjak pergi, justru Rio menghadap Ify dan memperhatikan wajah cantik milik gadisnya. Membingkai dalam ingatan agar ia tidak lupa dengan setiap lekukan wajah Ify. Jari jemari Rio bergerak perlahan menyusuri tangan Ify. Menggenggam hangat tangan mungil yang mungkin ukuranya hanya 2/3 tangannya.

“Believe in me.. Believe in us.. and Believe in love” Kalimat terakhir yang diucapkan Rio sebelum menghilang dari hadapan Ify. Ify hanya diam mematung. Ucapan terakhir Rio sungguh membuat dadanya sesak. Dan air mata kembali menetes tanpa perlu ditahan. Pintu kamar Ify terbuka dan mamanya sudah berdiri menjulang disana. Menatap bingung apa yang terjdi dengan anak satu-satunya. Ify berhamburan memeluk mamanya. Mengeluarkan semua keluh kesahnya pada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya. Memeluk erat agar beban itu tak akan lagi bersemayam dalam ingatan. Serumit ini kah coban Tuhan? Sungguh Ify ingin berteriak sekeras yang ia bisa, memberitahu pada alam bahwa ia tidak takut dengan masalah yang membungkusnya.  Hati mamanya tersentuh melihat betapa hebatnya anak nya saat ini. Membelai dengan lembut rambut Ify. Berusaha menenangkan anaknya. Berusaha meyakinkan gadis kecilnya bahwa Tuhan itu Mahaadil.

Rio menangis dengan memeluk lututnya. Melepas semua yang dirasakan melalu air mata. Hanya itu yang bisa ia lakukan.Dan satu lagi yang bisa ia perjuangkan demi cinta ia dan gadisnya… ‘Keyakinan’

Ini bukanlah cerita Romeo dan Juliet yang rela mati demi cinta mereka, bukan pula sebuah cerita cinta yang memiliki akhir bahagia ataupun akhir yang sedih. Ini hanyalah sebuah cerita seonggok manusia yang yakin akan keyakinan cintanya, yakin bahwa cinta bisa melenyapkan kemustahilan. Ya! Ini hanyalah cerita sebuah keyakinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar