HITAM PUTIH _CHAPTER 1_
“Selamat
siang, Pak”
Begitulah sapaan ramah
karyawannya yang dibalas dengan anggukan kecil dan tatapan elang khasnya yang
tak pernah memudar dari wajahnya. Dia menelusuri lantai perusahaannya atau yang
lebih tepatnya cabang perusahaannya dengan langkah tegap. Auranya masih
menampakkan betapa dinginnya ciptaan Tuhan yang satu ini. Kini dia sudah berada
di sebuah ruangan. Yang tentunya adalah sebuah ruangan lift. Dia menghela nafas
kasar. Sudah tujuh belas tahun dia tidak menginjakkan kaki di tanah
kelahirannya. Trauma. Alasan satu-satunya yang membuat pria tampan dengan
tatapan elang ini ingin mengubur dalam-dalam kenangannya. Dia menatap nanar
pintu lift itu. Tujuh belas tahun yang lalu, pintu lift ini begitu menegangkan.
Black White Romance, pintu lift, jeritan wanita, dan lumuran darah berputar
menjadi satu di kepala pria ini.
“Berhentilah Cakka! Itu hanya masa lalu mu!
Kini kau sudah punya masa depan!” batinnya.
Yap!! Lelaki itu adalah –Cakka
Kawekas Nuraga-. Pemilik perusahaan Diamond corp yang berpusat di Amerika
Serikat tepatnya di Washington Dc. Sementara tempat dia berdiri saat ini adalah
cabang perusahaannya. Tujuh belas tahun pria ini menghilang dari Indonesia. Dan
entah dapat dorongan dari mana, pria ini kembali lagi ke negri kelahirannya
seakan-akan telah melupakan trauma masa lalunya.
Dua menit kemudian, pintu lift
terbuka. Dia hampir sampai ke tempat tujuannya. Apalagi kalau bukan ruang
rapat. Dia memejamkan matanya sebentar, menghirup oksigen dalam-dalam dan
menghembuskannya. Kini dia sudah siap untuk bertempur pikirnya. Cakka
melangkahkan kakinya menuju ruang rapat. Pandangannya masih lurus kedepan. Baru
saja diraihnya knop pintu tersebut, dia sudah dikejutkan dengan pria yang
menatapnya dengan senyuman ramah.
“K…kau…?” Lirih Cakka.
********
Sempat terjadi keheningan di
ruangan itu. Cakka menatap dalam pria yang ditemuinya tadi yang sampai detik
ini masih memasang senyum di wajahnya. Mereka duduk berhadapan, membuat Cakka
makin larut dalam masa lalunya. Ya Tuhan! Belum sampai sehari dia berada di
Indonesia, ada saja yang membuatnya mengorek-orek kejadian itu.
Pria yang ditemuinya tadi adalah
client pentingnya hari ini. Pria tersebut merupakan pemilik Graduation Corp
yang katanya akan menanam saham sebesar 30% pada Diamond Corp. Mengingat
Graduation Corp adalah perusahaan yang cukup berkuasa, membuat Cakka harus
berpikir untuk kedua kalinya ingin melampiaskan amarahnya pada pria di
hadapannya saat ini dan ditambah lagi banyak saksi mata disini. Dia harus
profesional pikirnya.
Rapat pun dimulai. Cakka
menjelaskan semuanya secara terperinci, tanpa melupakannya sedikit pun.
Terlihat wajah puas dari pihak Graduation Corp dan anggukan-anggukan kecil yang
membuat Cakka sedikit bernafas lega. Meskipun begitu, matanya tak henti menatap
pria dihadapannya seakan takut pria itu hilang dari pengawasannya. Pria
tersebut yang sadar akan dirinya ditatap oleh Cakka hanya menyunggingkan senyum
ramah. Rapat berakhir mulus tanpa ada kendala sedikit pun. Seluruh ruangan
bertepuk tangan tidak terkecuali pria tadi. Mungkin mereka kagum dengan
penjelasan Cakka. Satu per satu orang mulai keluar dari ruangan rapat dengan
meninggalkan salaman selamat pada
Cakka. Kini tinggallah Cakka dengan pria
itu.
“Senang bekerja dengan anda Pak
Cakka!” Pria itu menyunggingkan senyumnya lantas menyodorkan tangan untuk
bersalaman dengan Cakka. Cakka tidak membalas jabatan tangan pria itu, sehingga
membuat pria tersebut menarik kembali tangannya.
Pria itu –Alvin Jonathan Sindunata- yang
merasa kehadirannya tidak diterima oleh Cakka, lantas meninggalkan ruang rapat.
Baru saja dua langkah ia berjalan, suara berat yang sangat terkesan dingin
menahannya.
“Kau mau kemana?” Tanya Cakka
yang masih menatap lurus kedepan tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap
Alvin.
“Makan siang. Kau mau ikut dengan
ku?” Tawar Alvin tidak lupa pula menambahkan senyum khasnya. Astaga! Dia
benar-benar lelaki pemurah senyum.
“Tidak. Hari ini aku tidak bisa
diganggu. Bagaimana dengan besok? Kau tidak akan menolaknya, bukan? Ada yang
ingin ku bicarakan.” Alvin memiringkan kepalanya seakan sedang berpikir.
“Tentang tujuh belas tahun yang
lalu” Tanya Alvin terang-terangan yang berhasil membuat jantung Cakka memompa
lebih cepat dibanding sebelumnya. “Ng.. Baiklah. Aku tunggu pukul dua siang di
café Greenpeak” Sambung Alvin cepat yang sudah merasakan bau-bau tidak enak di
ruangan rapat ini. Alvin meninggalkan Cakka sendirian di ruangan ini yang
tubuhnya mematung mendengar perkataan Alvin. Haruskah ia mengingat masa lalunya
itu? Haruskah ia meninggalkan negara tercintanya untuk kembali mengubur
kenangan pahit itu? Kenapa semuanya tidak berjalan dengan lancar seperti
rencananya? Takdir selalu berkata lain.
Tanpa disadarinya, ia memejam
mata dan mulai terbawa alam tidurnya. Dan kini ia sudah seratus persen dibawah
alam mimpinya.
********
Ify –Alyssa Saufika Umari- menatap
nanar bangku kosong disebelahnya. Biasanya Sivia lah yang akan menemaninya
disaat seperti ini. Sivia Azizah. Perempuan cantik sekaligus sahabat Ify yang
selalu menemani Ify, kini tidak dapat hadir untuk mengikuti perkemahan ini. Ify
benar-benar merasa diasingkan saat ini. Dia sama sekali tak punya lawan bicara.
Teman satu bus nya pun seperti terlihat jijik jika harus sebangku dengan Ify.
Ify tersenyum hambar, ia merutuki dirinya sendiri mengapa begitu bersikeukeuh
pada bundanya untuk mengikuti Kemah Budaya ini. Ify menghela nafas kasar
sembari mengambil tas ranselnya yang dirangkulnya untuk meletakkannya disebelah
ify tepatnya di bangku kosong disamping Ify. Jika diperhatikan tas ransel milik
Ify terlihat gemuk, berbeda sekali dengan pemiliknya. Ckckck.
Ditatapnya lekat-lekat teman dan
kakak kelasnya. Ify merasa terhibur sekali dengan gurauan yang mereka perbuat.
Terhibur? Bagaimana bisa kau terhibur? Mereka sama sekali tak berniat menghibur
mu! Kau hanya sedang terhibur dengan kebahagian milik orang lain. Ify
menolehkan kepalanya keluar kaca jendela bus. Hari sepertinya sedang tidak
bersahabat. Mendung dan seakan awan sedang berusaha untuk tidak menjatuhkan
tetes demi tetes air hujan. Sama sekali dengan perasaan Ify saat ini. Berusaha
menahan air mata untuk tidak terlihat lemah. Dia seakan Dejavu dengan kondisi
seperti ini. Cerita bunda akan perahu kertas dan samudra berujung terngiang
jelas di telinganya.
“Hidup itu seperti perahu kertas
berlayar menuju samudra berujung Fy. Kau harus melewati rintangan demi
rintangan untuk mendapatkan kebahagian. Dan sejatinya bahagia tak akan lengkap
tanpa bumbu penderitaan dan kesedihan” Ify sangat takjub dengan penjelasan
ibunya tentang arti kehidupan. Bagi Ify, bundanya adalah penyair ulung dan
penasihat terbaik yang pernah ditemukannya.
“Tapi kenapa bun, Ify punya
firasat bahwa perahu kertas Ify tersesat. Dia sedang salah jalur. Ify tidak
bisa apa-apa bun. Apakah Ify tidak akan menemukan kebahagiaan dari samudra
berujung yang bunda ceritakan?” Lirih Ify. Nafasnya begitu tercekat saat ini.
Tak ada yang bisa menjadi tempat berlindungnya saat ini. Dia benar-benar merindukan
kehadiran bundanya.
Tiba-tiba suara deheman kecil
memecah lamunan Ify. Ify mendongak menatap pria yang berdiri di hadapannya.
Tanpa disadarinya, kedua alisnya sedang bertaut melihat sosok itu.
“Bolehkah aku duduk disini?” Tanyanya sambil
menunjuk bangku disebelah Ify yang sudah tergeletak manis ranselnya disana. “No
another place here!” Lanjutnya dengan menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan
seakan mencari sesuatu. Refleks Ify juga menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan
seperti yang diakukan pria ini. Yap! Pria ini benar! Tidak ada bangku yang
tersisa. Ify menggigit bibir bawahnya. Ia lantas mengangguk kecil. Pria itu
tersenyum kepada Ify, lantas mengambil ransel Ify dan meletakkannya dalam
pangkuannya. Seketika membuat Ify menjadi salah tingkah. Dia kembali menoleh ke
luar kaca jendela bus. Berusaha menahan malunya agar pria disampingnya ini tak
menyadari betapa salah tingkahnya Ify saat ini. Pria yang dicintai Ify
sekaligus kakak kelasnya ini selalu saja membuat Ify kaku dan tak bisa melawan.
Siapa lagi kalau bukan ‘Mario Stevano Aditya Haling’. Ketua OSIS dan Pratama
dalam gugus depan kegiatan pramuka sekolahnya ini. Pria yang sudah menjadi
first lovenya saat mereka mengikuti sebuah kursus bahasa Inggris ketika waktu
itu Ify baru saja resmi menjadi siswi kelas tujuh SMP. Tapi sayang, tak banyak
yang tahu menahu soal itu kecuali dirinya, Sivia, dan.. mungkin Rio-begitulah
panggilannya-. Ify cukup sadar diri untuk berharap memiliki Rio. Mana mungkin
Rio menyukainya? Dirinya tidak pantas mendapat cinta Rio. Lagian, jika Rio
menyukainya, mengapa Rio selama ini tak pernah menyatakan perasaannya? Ah.. sudahlah!
Tak usah dipikirkan! Nikmati saja keberuntungan yang dewi fortuna berikan hari
ini!
Tak bisa dipungkiri, jantung Ify
berdesir hebat. Sedari tadi dia tak berani menatap kedua bola mata milik Rio.
Sehingga membuat kening Rio menghasilkan lipatan-lipatan kasar. Seakan pandai bertelepati Rio sudah tahu
mengapa perempuan disebelahnya ini bersikap aneh. Ternyata salah tingkah
pikirnya. Rio tersenyum sinis, lantas mendekatkan kepalanya ke telinga Ify
seakan ingin berbisik. Ify yang sangat tidak siap menerima perlakuan Rio hanya
dapat meneguk ludah sekedar membasahi kerongkongannya yang terasa mongering,
menatap kedua bola tajam milik Rio. Jarak mereka saat ini sangat dekat sekali
membuat orang disekitar mereka ikut meneguk ludah berharap Rio tidak diluar
kendali.
“Jangan berpikir aneh! Aku tidak
mungkin menyukai mu! Aku hanya terpaksa. Berhentilah bermimpi tinggi Alyssa!”
Ucap rio pelan tetapi tegas tepat di telinga kanan Ify. Ucapannya begitu tajam,
membuat Ify sangat kalut saat ini. Tubuh Ify bergetar hebat. Orang-orang yang
menyaksikan kejadian tadi hanya tertawa geli dan menatap tajam ke arah Ify.
‘Perempuan tak sadar diri’ Mungkin itulah arti tatapan mereka. Ify tetap
tersenyum kea rah Rio.
“Terima kasih kak Rio! Kakak sangat
pandai mempermalukan ku!” Ucap Ify ramah. Ramah sekali. Dia seolah-olah
terlihat bahagia atas tingkah Rio. Topeng mu sangat bagus Alyssa! Padahal
hatinya saat ini tengah hancur layaknya kepingan baja. Baja? Tentu! Tapi kini
tinggal kepingan. Begitu mudahnya seorang Mario membuat seorang Alyssa terbang
melayang ke puncak langit lalu dihempaskan begitu saja kedalam jurang paling
dalam. Kau terjebak cinta buta Alyssa!
********
Wanita paruh baya itu menatap kosong
langit-langit kamarnya. Sudah berapa kali ia menghela nafas berat. Dia terus
memperhatikan langit-langit kamarnya seakan-akan ada sesuatu disana.
“Bagaimana kabar mu? Apakah kau baik-baik
saja? Apakah kau sudah menemukan pengganti ku? Apakah kau sudah melupakan
kejadian itu? Apakah kau tahu tiap malam aku merindukan mu? Kau tau bagaimana
perasaan ku saat ini?” Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut wanita itu.
Tanpa terasa, Kristal-kristal bening mengalir lembut di pipinya.
“HANCUR!!” Lirihnya.
********
Cakka terbangun dari tidurnya.
Keringat telah membanjiri tubuhnya. Dia
meneguk ludah dalam-dalam. Ternyata mimpi pikirnya. Cakka memegang keningnya
yang terasa pusing sekali. Diliriknya arloji di tangannya. Sudah 3 jam dia
tertidur di ruangan ini. Dengan malas dia bangkit dari kursi dan mulai beranjak
meninggalkan ruang rapat. Niatnya terhenti ketika mendapati sebuah memo diatas
meja. Kedua alisnya tertaut menatap heran memo diatas meja.
“Ini bukan kertas memo resmi dari
perusahaan” gumamnya datar. Dibacanya memo tersebut dan alangkah terkejutnya
saat mendapati nama penulis memo. Seketika rahangnya mengetat dan diremasnya
memo yang berada ditangannya.
“Untuk apa lagi dia kemari?” Ucap Cakka geram.
“Kau ternyata bermain api” Mata elangnya kian menajam disertai senyum sinis
khasnya yang tak pernah memudar. Permainan dimulai.
********
Via –Sivia Azizah- membolak-balikkan sebuah
majalah dengan malas. Nyeri di kepalanya membuat ia harus berada di ruangan
yang Via pastikan akan dibencinya seumur hidup apalagi kalau bukan Rumah Sakit.
Via menjulukinya sebagai Ruang Pucat. Ckck. Via begitu fanatic dengan Novel
favorit nya itu ‘Laskar Pelangi’. Alasannya sederhana, karena semua tetralogi
Laskar Pelangi yang mengajarkan Via bahwa Impossible itu gak ada. Semuanya
dapat diraih jika kita bermimpi. Menurut Via, Sang penulis novel kesayangannya
itu –Andrea Hirata- satu prinsip dengannya. Via percaya bahwa semua motivasi,
gurauan, dan prinsip hidup dalam suatu tulisan erat kaitannya dengan penulis.
Sebab itulah, Via menjadikan Andrea Hirata sebagai tokoh idolanya. Walau Via
tidak pernah bertemu dengan penulis best seller itu, Via yakin jika dia
bermimpi dan berusaha kelak akan ada waktunya, waktu dimana Via bertemu dengan
seseorang yang telah mengubah pola pikirnya dan akan disampaikannya beribu
terima kasih pada orang itu atas segala motivasinya.
Sudah berulang kali
dibolak-baliknya halaman majalah tersebut. Tak ada sedikit pun niat di
kepalanya untuk membacanya.Kepalanya begitu sakit dan semua terasa berputar.
Dokter dan Mamanya bilang dia tidak apa-apa, hanya kecapaian saja. Tiba-tiba
tangan Via berhenti membolak-balik majalah dan membuka halaman yang mampu membuat
Via sedikit bergetar.
“KEMAH BUDAYA” Via menatap nanar
sub title dan gambar yang cukup besar di halaman itu. Segerombolan anak
mengenakan seragam pramuka sedang berpose menampakkan senyum termanis yang
mereka punya dengan background sebuah tenda berwana cokelat senada tentunya
dengan seragam mereka. Seketika bayangan wajah Ify sedang tersenyum bahagia
berputar di kepalanya. Via memejamkan matanya.
“Kangen gue sama lo fy, Lo sama anak-anak udah
sampai belum? Lo pasti dikacangin kan sama mereka? Coba aja gue gak kenak
penyakit biadap ini!” Via mendengus sebal. Dia benar-benar mengkhawatirkan
sahabatnya yang satu itu.
“Mereka jahat banget sama lo fy.
Salah lo apa sama mereka? Apalagi kak Rio! Dia gak punya hati fy. Kak Rio
nyakitin lo disana?” Via tercekat. Kristal bening itu mengalir lembut membentuk
sungai kecil di pipinya.
“Tapi kenapa kita mencintai orang yang
sama fy?”
********
Melodi yang dihasilkan gitar Rio terdengar
indah. Petikan-petikan dari tangan kekar Rio membuat para audien bertepuk
tangan bahkan ada yang menjerit-jerit saking terkesima dengan perfoma Rio. Rio
tertawa renyah menanggapi tingkah teman-temannya. Mereka kini sedang menikmati
waktu luang seperti bercengkerama atau bernyanyi mengusir penat setelah
melewati perjalanan yang cukup panjang. Tentunya mereka bersantai seperti ini
setelah memasang tenda dan membuat dapur.
Mereka bergotong royong untuk
mempercepat pekerjaan. Bergotong royong yang merupakan salah satu budaya bangsa
Indoneia yang hampir punah. Setelah pekerjaan berakhir, mereka membentang
terpal untuk berkumpul sebelum waktunya terlelap. Tak lupa pula candaan mereka
diselingi dengan cemilan khas anak perkemahan, apalagi kalau bukan sepiring
goreng ubi yang renyah dan segelas kopi susu hangat yang harus diminum satu berdua.
Alasannya agar regu piket yang mengurus segala urusan dapur dan tenda tidak
kerepotan mencuci gelas kotor. Itulah yang membuat kegiatan pramuka berbeda
dengan kegiatan lain. Pramuka mengajarkan seseorang untuk berbagi terhadap
sesama dan tidak egois melalui hal kecil sekali pun. Dan yang paling penting
adalah pramuka mengajarkan kita untuk bekerja keras dan hidup sederhana.
“Swumppwah ewnawk bwangwet
gowreng ubwinwya. RENYAH!” Celoteh Ozy yang mendapat tanggapan tawaan lepas dari temannya. Ozy Adriansyah –Begitu
lengkapnya- memang sangat jago dalam bidang makanan. Semua orang yang mengenal
Ozy pasti setuju seratus persen dengan fakta itu. Ozy jago sekali menghabiskan
makanan. Meskipun badannya kurus, bahkan lebih kurus dari Ify. Kesan pertama
bertemu dengan Ozy, tidak menyangka bahwa makhluk kurus kering ini adalah rekor
dalam menghabiskan makanan. Jadi disarankan hati-hati jika mengundang Ozy makan
bersama.
“Gimana kalau kita main Truth or
Dare?” Tawar Rio sambil menaikkan alisnya 3 kali. Anggota perkemahan hanya
tertawa renyah menanggapi tingkah kocak Rio, tidak terkecuali Ify.
“Oke. Sekarang kita buat
lingkaran” Hanya Angel yang merespond pertanyaan Rio. Sebenarnya Ify ingin
berkata demikian, hanya saja ia kalah start dengan Angel. Lagi pula, Rio tidak
suka bukan dengan Ify?
Mereka mulai berbaris membentuk
lingkaran besar. Sengaja memberi jarak yang besar antara yang satu dengan yang
lain agar sekalipun bersebelahan tetap mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
Permainan dimulai. Dengan sebuah
botol air mineral yang menjadi acuan. Siapa yang mendapat pangkal botol, maka
dialah yang berhak mengajukan pertanyaan dan begitu sebaliknya. Sebagai penawar
permainan, Rio berhak menjadi pemutar botol yang pertama kali. Rio menahan
botol, kemudian tangannya mulai memutar botol itu. Dua detik pertama, botol
masih bergerak cepat dan masuk detik ketiga geraknya kian melambat. Anak-anak
tampak tegang dan berdoa dalam hati agar mendapat pangkal botol. Dan.. Ah!
Pangkal botol menghadap ke arah Angel dan moncong botol tepat mengarah pada
Rio. Rio merutuki dirinya sendiri, sepertinya dewi fortuna sedang tidak
berpihak kepadanya. Sementara Angel, Jangan ditanya! Ia sudah ber-yess bahagia disertai jeritan khas nya
yang membuat Ify menutup telingga.
“Truth or Dare?” Tanya Angel
langsung.
“Karena gue cowok, jadi gue pilih
dare” Jawab Rio mantap.
Kaum hawa bertepuk tangan dengan pilihan
Rio. Ify hanya tersenyum geli menanggapi tingkah Rio. Angel tampak berpikir
keras mencari tantangan yang tepat untuk Rio. Dan, aha! Angel tersenyum licik,
anak TK pun juga tau kalau Angel sudah menentukannya.
“Marahin Ify sekarang jugak!” Angel
tersenyum sinis pada Ify. Suasana menjadi hening, tatkala Ify hanya mentap
datar.
“Apa maksud mu?” Ucap Rio tak
kalah datarnya. Ada sedikit kelegaan di wajah Ify. “Kak Rio tidak akan tega”
batin Ify.
Angel memiringkan kepalanya.
“Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Kau punya kesempatan bukan?”
Deg!!
Apa kata Angel? Kak Rio dari dulu
ingin melakukan itu? Kak Rio tega sekali. Rio berdiri dan berjaan mendekati Ify.
Ify sudah lingling, tak ada lagi senyum dibibirnya. Benteng pertahanannya sudah
rapuh.
“Berdiri Fy” Rio tidak melihat
Ify. Tatapannya lurus, tampaknya dia sedang berpikir. Sekuat mungkin Ify
bangkit. Dia tak ingin terlihat lemah di depan siapapun, meskipun Orang itu
adalah Rio. Suasana menjadi tegang. Mereka bingung, harus bagaimana. Rio dan
Ify sama-sama bungkam. Tak ada niat untuk memulai percakapan. Rio seperti
terhipnotis dengan mata bulat Ify. Ada sebuah perasaan yang menahannya dan
tentunya Rio tidak tahu apa itu.
PLAK!
Sebuah tamparan mulus tepat
mendarat di wajah seseorang. Dan seseorang itu bukanlah Ify, melainkah Rio.
Siapa lagi yang mendaratkan tamparan itu kalau bukan Ify. Rio memegangi
wajahnya yang terkena bekas tamparan, ada rasa perih di pipinya yang tentunya
tidak seperih apa yang dirasakan Ify saat ini.
‘Kak Rio jahat” Kristal bening
mulai tumpah dari kelopak matanya. Dia berlari, berlari, dan berlari. Tak
peduli dengan orang-orang yang melihatnya, tak peduli dengan jumlah tetesan air
mata yang di keluarkannya, tak peduli betapa larutnya malam, tidak peduli
dimana ia saat ini. Hanya ada satu di kepalanya. “Aku benci kak Rio”.
********
Sebuah mobil Lomborgini dengan
nomor plat B 0511 CK memasuki rumah megah. Seorang pelayan dengan hormat mebukakan pintu mobil itu. Seorang pria
tampan keluar dari mobil tersebut. Dia melepas kacamatanya lantas bertanya
“Kemana anakku? Apakah dia ada di rumah?”
“Tuan muda Rio sedang mengikuti
perkemahan, Tuan Cakka”
Cakka tak menghiraukan perkataan
pelayannya. Kepalanya saat ini sedang pusing. Dengan langkah tegap, dia
berjalan memasuki rumahnya yang bagai
istana. Langkahnya terhenti ketika mendapati sosok yang kini sedang membelakanginya.
Cakka yakin sosok itu adalah perempuan. Rambut pirangnya yang panjang digerai
kebelakang. Cakka seperti mengenali sosok itu.
“Kau siapa?” Tanya Cakka yang
saat ini sedang tidak bisa diganggu.
Sosok itu membalikkan tubuhnya.
Cakka tetap tidak mengenali siapa yang dihadapannya saat ini, karena sosok
didepannya ini mengenakan kaca mata hitam. Dilihat dari bentuknya, Cakka yakin
bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa ataupun tetangga yang sedang ingin
bertandang ke rumahnya.
Perempuan itu melepaskan kaca
mata hitamnya. “Wellcome Cakka Kawekas Nuraga”. Cakka membulatkan matanya tidak
percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia semakin memperjelas penglihatannya. Dan
sekarang dia yakin, bahwa yang di depannya adalah seseorang yang dicarinya
selama ini.
“Olivia Ruth? Benarkah kau Olivia
Ruth?” Cakka tertawa bahagia. Dia memeluk wanita yang dipanggilnya “Olivia
Ruth”. Dia sangat merindukan sosok dengan gelar most wanted itu. Olivia
membalas pelukan hangat milik Cakka. Dia meletakkan dagunya di atas bahu Cakka.
Dia merindukan teman lamanya yang sekarang tampak lebih dewasa, setelah tujuh
belas tahun mereka tidak bertemu.
“Kau masih hidup? Aku merindukan
mu” Tanpa sadar air mata Cakka menetes.
Air mata bahagia, karena kini Cakka merasakan bahwa dia belum terlambat
menyelesaikan masalahnya yang sudah menggantung sejak peristiwa 17 tahun yang
lalu.
Bagai dihempas dari langit paling
tinggi dan jatuh ke dalam jurang paling dalam, Olivia terdiam. Cakka
mengingatkannya tentang apa tujuannya ke rumah Cakka dan kejutan yang mampu
membuat Cakka kaget. Olivia meremas bajunya, dia memejamkan matanya agar tidak
terlihat gugup. Olivia menghela nafas berat.
Olivia menggigit bibir bawahnya
”Kedatangan ku ke sini…untuk memberi tahu mu tentang sesuatu yang selama ini ku
pendam sendiri dan juga hal yang membuat hidup mu…. hancur”
“Ayo duduk!” Pinta Cakka. Mereka
berdua duduk berhadapan. Olivia memandang sekitar, merasa kagum dengan berbagai
ornament unik rumah Cakka.
“Tadi aku berjumpa dengan Alvin”
Perkataan Cakka mampu membuat Olivia tersentak kaget. Ia membulatkan matanya.
“Dia masih hidup? Ini sulit dipercaya” Olivia menggigit jarinya cemas. Cakka
mengangguk setuju. Mereka berdua masih tak percaya, mengingat betapa
mengenaskannya keadaan Alvin saat itu. “Dia client besar ku. Aku tidak tau
harus berbuat apa sekarang. Jika sedikit saja aku salah mengambil keputusan,
maka semuanya akan berakhir mengerikan. Dia orang yang licik.” Kali ini Olivia
mengangguk setuju. Cakka menyandarkan badannya ke badan kursi sambil memejamkan
matanya. Dia merasa bebannya sedikit terangkat setelah bercerita ke sahabat
lamanya.
“Oh iya. Tadi kau bilang ingin
menyampaikan hal yang kelihatannya penting sekali, sampai membuat kau si gelar
most wanted jauh-jauh datang kemari.” Cakka tertawa renyah, tidak untuk Olivia
yang hanya diam. “Ayo cerita!” Olivia masih tetap terdiam. Entah mengapa dia
tiba-tiba blank. Olivia kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk tidak
menambah beban Cakka. Jujur,ia belum siap untuk mengatakan rahasia terbesar
dalam hidupnya meskipun sudah 17 tahun ia menyembunyikannya
Olivia tiba-tiba berdiri. “Aku
pulang”. Cakka mengkerutkan keningnya. “Kenapa buru-buru sekali? Kau bahkan
belum bicara apapun.” ‘Kau sepertinya saat ini sedang banyak masalah. Tenang
saja! Lain waktu aku akan menemui mu, tidak untuk sekarang”
“Perlu ku antar?’ tawar Cakka.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri.” Olivia memberikan senyum manis miliknya. Ia
berjalan dengan langkah yang sangat anggun, keluar dari rumah Cakka. Kata-kata
Cakka masih terngiang jelas di telinganya. “Bagaimana mungkin dia masih hidup.
Ini bisa jadi masalah besar.” Olivia bergumam tidak jelas. Ia memegang
keningnya yag tiba-tiba terasa berat.
TIIIIITT
Suara klakson mobil yang panjang
dan juga begitu nyaring mengagetkan Olivia. Ia tidak sadar bahwa dirinya kini
sudah berada di tengah jalan. Refleks ia berpindah ke pinggir jalan. Olivia
menatap mobil yang hampir saja menabraknya kalau saja sopir tersebut tidak
sigap. Olivia merasa bersalah karena telah mengganggu pengguna jalan.
“Maaf,Pak. Saya tadi sedikit
tidak focus”
Pegendara mobil mewah itu membuka
kaca jendela depan mobilnya yang disebelah kanan. Menampakkan wajahnya yang
begitu tampan jika disertai senyum manisnya. Ia melambaikan tangannya kepada
Olivia, lantas menutup kembali kaca jendela mobilnya dan setelah itu melajukan
mobilnya. Olivia kaget bukan main. Matanya melotot reflek saat mendapati wajah
pemilik mobil Jazz dengan nomor plat B 1210 AJ. Tubuhnya mematung seketika.
Kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya hingga membuatnya tersungkur.
“Al.. Alvin..” Ucapnya
terbata-bata
********
Terlihat seorang pria memainkan
ponselnya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Sepertinya dia
sedang menunggu seseorang. Pelayan cafè datang membawa daftar makanan.
“Bapak pesan apa?” tanyanya ramah
“Jus lemon dua.”
“Baiklah. Pesanan Bapak akan
diantar lima menit lagi”
Pria itu –Alvin- melirik
arlojinya. Dia memutar bola matanya.“Kau lama sekali Cakka.”
Sebuah minivan putih berhenti di
depan café. Seorang pengawal membukakan pintu. Alvin hanya melihatnya dari
kejauhan, membiarkan sang pemilik mobil tersebut berjalan mendekatinya.
“Maaf, membuat mu menunggu.”
Permintaan maaf macam apa itu? Sangat datar sekali.
“Tidak apa.” Jawab Alvin
tersenyum. Padahal hatinya saat ini sudah dongkol setengah mati. Ingin rasanya
Alvin mencincang-cincang makhluk yang menurutnya bukan manusia di hadapannya.
Alvin menyeruput jus lemonnya,
sekedar membasahi kerongkogan yang mendadak kering “Ada apa?” Tanya Alvin.
“Bukankah kau sangat sibuk?” Alvin sangat tahu pertanyaannya adalah konyol. Ia
kehilangan ide untuk memecah keheningan.
“Memangnya aku sibuk apa?” Tanya
Cakka balik dengan wajahnya yang sama sekali tak bersahabat.
“Sibuk bekerja tentunya. Mengurus
perusahaan sebesar itu, bukankah merepotkan?” Jawab Alvin tak mau kalah.
“Cih,-“ Cakka tersenyum sinis.
Cakka mendekatkan wajahnya pada Alvin. Menatap penuh kebencian pada sahabat
lamanya yang kini sudah berubah menjadi musuh abadi untuknya. Kedua tangan
Cakka mengepal dengan kuat, seakan ucapan Alvin adalah sindiran telak untuknya.
Alvin hanya menanggapi datar. “Untuk apa aku bekerja? Siapa yang harus ku
hidupi? Aku tidak punya istri dan anak.” Cakka mengendurkan tatapannya, menatap
lurus ke depan seakan menerawang masa lalu. “Dan semua itu karena kau!” Tatapan
Cakka seutunya berubah menjadi nyala api.
“Maaf!” Hanya kata itu yang
terlontar dari mulut Alvin. Alvin hanya tak ingin emosi Cakka naik satu tingkat
sehingga berada di level kalap. Ia lelah dengan Cakka yang selalu memojokkannya,
seoalah-olah dirinyalah tokoh antagonis dalam kehidupan Cakka. Ingin rasanya
Alvin menjelaskan semuanya, menjelaskan bahwa Cakka salah, bahwa Cakka tak tahu
apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apa mungkin Cakka percaya? Alvin hanya bisa
pasrah, menyerahkan semuanya pada sang waktu. Hingga akhirnya waktulah yang
menjawab
“Maaf mu tidak akan pernah
mengembalikan mereka.”
*****
“Ma, Sivia kapan pulangnya?”
Dengan wajah yang dibuat seprihatin mungkin, Sivia mencoba merayu orang yang
dipanggilnya “Ma”. Sudah lima hari, Sivia menghadapi hari-harinya di ruangan
yang hanya bernuansa putih. Penyakit biadap yang bersemayam di tubuhnya sungguh
membuat Sivia dongkol. Bagaimana tidak ia sudah melewatkan kegiatan yang selalu
ditunggunya setiap akhir tahun, dan semuanya hancur seketika, ketika penyakit
yang hanya termasuk kategori ‘pusing’ menghadangnya. Belum lagi semua yang ada
dihadapannya berwarna putih, membuat Sivia merasakan ajalnya semakin dekat.
“Tentunya sampai kau sembuh
total.” Wajah memelas Sivia sama sekali tak membantu, karena mamanya sangat
berkonsetrasi dengan telepon genggamnya-Selalu begitu-
“Ma..” Suara Sivia terdengar
begitu lirih. Sebuah kebiasaan yang selalu dianggapnya sebagai jurus jitu,
sesuatu yang terdengar seperti anak kecil merengek meminta permen. Sungguh,
membuat hati ibu mana pun tersentuh, tapi tidak untuk mamanya. “Lihat Sivia
bentar ma..” Suara Sivia mulai meninggi. Dia harus sedikit kerja keras.
Perhatian mamanya teralihkan.
Wajahnya datar sekali, bukan seperti perempuan yang bernama “IBU” kebanyakan
yang akan setiap detik membelai lembut anaknya jika sang anak sakit. Sivia
ingin merasakannya, merasakan bagaima kasih sayang tulus seorang Ibu. Sivia ingin
disuapkan bubur ketika sakit, dikecup mesra keningnya, dibelai rambutnya dan
itu dilakukan oleh Ibunya sendiri.
“Mama bilang Via cuma pusing
kan?” Sivia memulai monolognya.Dia melepas paksa infuse yang melekat di
tangannya. Ada rasa perih menyelimuti dirinya, namun bertahan di ruangan ini
lebih perih rasanya.
Mata mamanya membulat sempurna,
tak percaya anaknya senekad itu. “Hey! Kenapa kau lepas infuse mu?” Mamanya
reflek berdiri. Tatapannya mengisyaratkan bahwa dia sangat cemas sekali.
Sivia memaksakan dirinya untuk
berdiri, meskipun semuanya terasa berputar. Semakin kokoh Sivia berdiri,
semakin sakit kepalanya. Sivia merutuki setengah mati penyakitnya. Tangannya
menggenggam erat besi yang terdapat di ranjang, menetralkan rasa sakit kepalanya
dengan membiasakan berdiri. Mata Sivia
terpejam menahan rasa sakit agar terlihat kuat didepan orang tuanya.
Sivia melangkahkan kakinya
perlahan. Baru satu langkah, sakit itu datang menyergapnya kembali. Ya Tuhan,
penyakit apa ini? Mamanya hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Ingin
rasanya ia membopong anaknya dan membelai lembut rambut Sivia, namun ada hal
lain yang menjadi batas antara ia dan anaknya.
Kerja keras Sivia membuahkan
hasil, karena kini jaraknya dan mamanya tak kurang dari satu meter. Sehingga
Sivia dapat dengan mudah merangkul dan memeluk seseorang yang benar-benar
dirindukannya. Perasaan kesal karena harus dirawat inap hilang seketika saat
Sivia dapat merasakan betapa hangatnya pelukan seorang Ibu. Sayang, hangatnya
pelukan seorang Ibu tak dapat dinikmatinya lebih dari satu menit. Lihatlah! Mamanya
dengan tidak berdosa memdorong Sivia, sehingga perempuan berwajah pucat itu terjatuh
sebab kondisinya belum stabil. Sivia cengo tak percaya dengan apa yang sudah
terjadi. Mamanya mendorongnya karena tak ingin berpelukan dengannya, sebegitu
hinakah ia?
Mama Sivia membalikkan badannya,
tak ingin lama-lama melihat sang anak. Dokter dan beberpa perawat hanya diam
memperhatikan pertunjukan gratis di ambang pintu. Begitu melihat wanita itu
menuju mereka, dengan sigap mereka bergeser memberi jalan.
“Kalian urus anak itu.” Hanya itu
yang disampaikannya.
*******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar