Senin, 12 Oktober 2015

Hitam Putih Chapter 1 (Cerbung)



                         HITAM PUTIH _CHAPTER 1_








 “Selamat siang, Pak”

Begitulah sapaan ramah karyawannya yang dibalas dengan anggukan kecil dan tatapan elang khasnya yang tak pernah memudar dari wajahnya. Dia menelusuri lantai perusahaannya atau yang lebih tepatnya cabang perusahaannya dengan langkah tegap. Auranya masih menampakkan betapa dinginnya ciptaan Tuhan yang satu ini. Kini dia sudah berada di sebuah ruangan. Yang tentunya adalah sebuah ruangan lift. Dia menghela nafas kasar. Sudah tujuh belas tahun dia tidak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Trauma. Alasan satu-satunya yang membuat pria tampan dengan tatapan elang ini ingin mengubur dalam-dalam kenangannya. Dia menatap nanar pintu lift itu. Tujuh belas tahun yang lalu, pintu lift ini begitu menegangkan. Black White Romance, pintu lift, jeritan wanita, dan lumuran darah berputar menjadi satu di kepala pria ini.

 “Berhentilah Cakka! Itu hanya masa lalu mu! Kini kau sudah punya masa depan!” batinnya.

Yap!! Lelaki itu adalah –Cakka Kawekas Nuraga-. Pemilik perusahaan Diamond corp yang berpusat di Amerika Serikat tepatnya di Washington Dc. Sementara tempat dia berdiri saat ini adalah cabang perusahaannya. Tujuh belas tahun pria ini menghilang dari Indonesia. Dan entah dapat dorongan dari mana, pria ini kembali lagi ke negri kelahirannya seakan-akan telah melupakan trauma masa lalunya.

Dua menit kemudian, pintu lift terbuka. Dia hampir sampai ke tempat tujuannya. Apalagi kalau bukan ruang rapat. Dia memejamkan matanya sebentar, menghirup oksigen dalam-dalam dan menghembuskannya. Kini dia sudah siap untuk bertempur pikirnya. Cakka melangkahkan kakinya menuju ruang rapat. Pandangannya masih lurus kedepan. Baru saja diraihnya knop pintu tersebut, dia sudah dikejutkan dengan pria yang menatapnya dengan senyuman ramah.

 “K…kau…?” Lirih Cakka.
                                        ********

Sempat terjadi keheningan di ruangan itu. Cakka menatap dalam pria yang ditemuinya tadi yang sampai detik ini masih memasang senyum di wajahnya. Mereka duduk berhadapan, membuat Cakka makin larut dalam masa lalunya. Ya Tuhan! Belum sampai sehari dia berada di Indonesia, ada saja yang membuatnya mengorek-orek kejadian itu.

Pria yang ditemuinya tadi adalah client pentingnya hari ini. Pria tersebut merupakan pemilik Graduation Corp yang katanya akan menanam saham sebesar 30% pada Diamond Corp. Mengingat Graduation Corp adalah perusahaan yang cukup berkuasa, membuat Cakka harus berpikir untuk kedua kalinya ingin melampiaskan amarahnya pada pria di hadapannya saat ini dan ditambah lagi banyak saksi mata disini. Dia harus profesional pikirnya.

Rapat pun dimulai. Cakka menjelaskan semuanya secara terperinci, tanpa melupakannya sedikit pun. Terlihat wajah puas dari pihak Graduation Corp dan anggukan-anggukan kecil yang membuat Cakka sedikit bernafas lega. Meskipun begitu, matanya tak henti menatap pria dihadapannya seakan takut pria itu hilang dari pengawasannya. Pria tersebut yang sadar akan dirinya ditatap oleh Cakka hanya menyunggingkan senyum ramah. Rapat berakhir mulus tanpa ada kendala sedikit pun. Seluruh ruangan bertepuk tangan tidak terkecuali pria tadi. Mungkin mereka kagum dengan penjelasan Cakka. Satu per satu orang mulai keluar dari ruangan rapat dengan meninggalkan salaman  selamat pada Cakka.  Kini tinggallah Cakka dengan pria itu.
“Senang bekerja dengan anda Pak Cakka!” Pria itu menyunggingkan senyumnya lantas menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Cakka. Cakka tidak membalas jabatan tangan pria itu, sehingga membuat pria tersebut menarik kembali tangannya.

 Pria itu –Alvin Jonathan Sindunata- yang merasa kehadirannya tidak diterima oleh Cakka, lantas meninggalkan ruang rapat. Baru saja dua langkah ia berjalan, suara berat yang sangat terkesan dingin menahannya.

“Kau mau kemana?” Tanya Cakka yang masih menatap lurus kedepan tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap Alvin.

“Makan siang. Kau mau ikut dengan ku?” Tawar Alvin tidak lupa pula menambahkan senyum khasnya. Astaga! Dia benar-benar lelaki pemurah senyum.

“Tidak. Hari ini aku tidak bisa diganggu. Bagaimana dengan besok? Kau tidak akan menolaknya, bukan? Ada yang ingin ku bicarakan.” Alvin memiringkan kepalanya seakan sedang berpikir.

“Tentang tujuh belas tahun yang lalu” Tanya Alvin terang-terangan yang berhasil membuat jantung Cakka memompa lebih cepat dibanding sebelumnya. “Ng.. Baiklah. Aku tunggu pukul dua siang di café Greenpeak” Sambung Alvin cepat yang sudah merasakan bau-bau tidak enak di ruangan rapat ini. Alvin meninggalkan Cakka sendirian di ruangan ini yang tubuhnya mematung mendengar perkataan Alvin. Haruskah ia mengingat masa lalunya itu? Haruskah ia meninggalkan negara tercintanya untuk kembali mengubur kenangan pahit itu? Kenapa semuanya tidak berjalan dengan lancar seperti rencananya? Takdir selalu berkata lain.

Tanpa disadarinya, ia memejam mata dan mulai terbawa alam tidurnya. Dan kini ia sudah seratus persen dibawah alam mimpinya.
                                         ********

Ify –Alyssa Saufika Umari- menatap nanar bangku kosong disebelahnya. Biasanya Sivia lah yang akan menemaninya disaat seperti ini. Sivia Azizah. Perempuan cantik sekaligus sahabat Ify yang selalu menemani Ify, kini tidak dapat hadir untuk mengikuti perkemahan ini. Ify benar-benar merasa diasingkan saat ini. Dia sama sekali tak punya lawan bicara. Teman satu bus nya pun seperti terlihat jijik jika harus sebangku dengan Ify. Ify tersenyum hambar, ia merutuki dirinya sendiri mengapa begitu bersikeukeuh pada bundanya untuk mengikuti Kemah Budaya ini. Ify menghela nafas kasar sembari mengambil tas ranselnya yang dirangkulnya untuk meletakkannya disebelah ify tepatnya di bangku kosong disamping Ify. Jika diperhatikan tas ransel milik Ify terlihat gemuk, berbeda sekali dengan pemiliknya. Ckckck.

Ditatapnya lekat-lekat teman dan kakak kelasnya. Ify merasa terhibur sekali dengan gurauan yang mereka perbuat. Terhibur? Bagaimana bisa kau terhibur? Mereka sama sekali tak berniat menghibur mu! Kau hanya sedang terhibur dengan kebahagian milik orang lain. Ify menolehkan kepalanya keluar kaca jendela bus. Hari sepertinya sedang tidak bersahabat. Mendung dan seakan awan sedang berusaha untuk tidak menjatuhkan tetes demi tetes air hujan. Sama sekali dengan perasaan Ify saat ini. Berusaha menahan air mata untuk tidak terlihat lemah. Dia seakan Dejavu dengan kondisi seperti ini. Cerita bunda akan perahu kertas dan samudra berujung terngiang jelas di telinganya.

“Hidup itu seperti perahu kertas berlayar menuju samudra berujung Fy. Kau harus melewati rintangan demi rintangan untuk mendapatkan kebahagian. Dan sejatinya bahagia tak akan lengkap tanpa bumbu penderitaan dan kesedihan” Ify sangat takjub dengan penjelasan ibunya tentang arti kehidupan. Bagi Ify, bundanya adalah penyair ulung dan penasihat terbaik yang pernah ditemukannya.

“Tapi kenapa bun, Ify punya firasat bahwa perahu kertas Ify tersesat. Dia sedang salah jalur. Ify tidak bisa apa-apa bun. Apakah Ify tidak akan menemukan kebahagiaan dari samudra berujung yang bunda ceritakan?” Lirih Ify. Nafasnya begitu tercekat saat ini. Tak ada yang bisa menjadi tempat berlindungnya saat ini. Dia benar-benar merindukan kehadiran bundanya.

Tiba-tiba suara deheman kecil memecah lamunan Ify. Ify mendongak menatap pria yang berdiri di hadapannya. Tanpa disadarinya, kedua alisnya sedang bertaut melihat sosok itu.

 “Bolehkah aku duduk disini?” Tanyanya sambil menunjuk bangku disebelah Ify yang sudah tergeletak manis ranselnya disana. “No another place here!” Lanjutnya dengan menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan seakan mencari sesuatu. Refleks Ify juga menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan seperti yang diakukan pria ini. Yap! Pria ini benar! Tidak ada bangku yang tersisa. Ify menggigit bibir bawahnya. Ia lantas mengangguk kecil. Pria itu tersenyum kepada Ify, lantas mengambil ransel Ify dan meletakkannya dalam pangkuannya. Seketika membuat Ify menjadi salah tingkah. Dia kembali menoleh ke luar kaca jendela bus. Berusaha menahan malunya agar pria disampingnya ini tak menyadari betapa salah tingkahnya Ify saat ini. Pria yang dicintai Ify sekaligus kakak kelasnya ini selalu saja membuat Ify kaku dan tak bisa melawan. Siapa lagi kalau bukan ‘Mario Stevano Aditya Haling’. Ketua OSIS dan Pratama dalam gugus depan kegiatan pramuka sekolahnya ini. Pria yang sudah menjadi first lovenya saat mereka mengikuti sebuah kursus bahasa Inggris ketika waktu itu Ify baru saja resmi menjadi siswi kelas tujuh SMP. Tapi sayang, tak banyak yang tahu menahu soal itu kecuali dirinya, Sivia, dan.. mungkin Rio-begitulah panggilannya-. Ify cukup sadar diri untuk berharap memiliki Rio. Mana mungkin Rio menyukainya? Dirinya tidak pantas mendapat cinta Rio. Lagian, jika Rio menyukainya, mengapa Rio selama ini tak pernah menyatakan perasaannya? Ah.. sudahlah! Tak usah dipikirkan! Nikmati saja keberuntungan yang dewi fortuna berikan hari ini!

Tak bisa dipungkiri, jantung Ify berdesir hebat. Sedari tadi dia tak berani menatap kedua bola mata milik Rio. Sehingga membuat kening Rio menghasilkan lipatan-lipatan kasar.  Seakan pandai bertelepati Rio sudah tahu mengapa perempuan disebelahnya ini bersikap aneh. Ternyata salah tingkah pikirnya. Rio tersenyum sinis, lantas mendekatkan kepalanya ke telinga Ify seakan ingin berbisik. Ify yang sangat tidak siap menerima perlakuan Rio hanya dapat meneguk ludah sekedar membasahi kerongkongannya yang terasa mongering, menatap kedua bola tajam milik Rio. Jarak mereka saat ini sangat dekat sekali membuat orang disekitar mereka ikut meneguk ludah berharap Rio tidak diluar kendali.

“Jangan berpikir aneh! Aku tidak mungkin menyukai mu! Aku hanya terpaksa. Berhentilah bermimpi tinggi Alyssa!” Ucap rio pelan tetapi tegas tepat di telinga kanan Ify. Ucapannya begitu tajam, membuat Ify sangat kalut saat ini. Tubuh Ify bergetar hebat. Orang-orang yang menyaksikan kejadian tadi hanya tertawa geli dan menatap tajam ke arah Ify. ‘Perempuan tak sadar diri’ Mungkin itulah arti tatapan mereka. Ify tetap tersenyum kea rah Rio.

“Terima kasih kak Rio! Kakak sangat pandai mempermalukan ku!” Ucap Ify ramah. Ramah sekali. Dia seolah-olah terlihat bahagia atas tingkah Rio. Topeng mu sangat bagus Alyssa! Padahal hatinya saat ini tengah hancur layaknya kepingan baja. Baja? Tentu! Tapi kini tinggal kepingan. Begitu mudahnya seorang Mario membuat seorang Alyssa terbang melayang ke puncak langit lalu dihempaskan begitu saja kedalam jurang paling dalam. Kau terjebak cinta buta Alyssa!
                                         ********
 Wanita paruh baya itu menatap kosong langit-langit kamarnya. Sudah berapa kali ia menghela nafas berat. Dia terus memperhatikan langit-langit kamarnya seakan-akan ada sesuatu disana.

 “Bagaimana kabar mu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau sudah menemukan pengganti ku? Apakah kau sudah melupakan kejadian itu? Apakah kau tahu tiap malam aku merindukan mu? Kau tau bagaimana perasaan ku saat ini?” Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut wanita itu. Tanpa terasa, Kristal-kristal bening mengalir lembut di pipinya.

 “HANCUR!!” Lirihnya.
                                         ********
Cakka terbangun dari tidurnya. Keringat telah membanjiri  tubuhnya. Dia meneguk ludah dalam-dalam. Ternyata mimpi pikirnya. Cakka memegang keningnya yang terasa pusing sekali. Diliriknya arloji di tangannya. Sudah 3 jam dia tertidur di ruangan ini. Dengan malas dia bangkit dari kursi dan mulai beranjak meninggalkan ruang rapat. Niatnya terhenti ketika mendapati sebuah memo diatas meja. Kedua alisnya tertaut menatap heran memo diatas meja.

“Ini bukan kertas memo resmi dari perusahaan” gumamnya datar. Dibacanya memo tersebut dan alangkah terkejutnya saat mendapati nama penulis memo. Seketika rahangnya mengetat dan diremasnya memo yang berada ditangannya.

 “Untuk apa lagi dia kemari?” Ucap Cakka geram. “Kau ternyata bermain api” Mata elangnya kian menajam disertai senyum sinis khasnya yang tak pernah memudar. Permainan dimulai.
                                          ********

 Via –Sivia Azizah- membolak-balikkan sebuah majalah dengan malas. Nyeri di kepalanya membuat ia harus berada di ruangan yang Via pastikan akan dibencinya seumur hidup apalagi kalau bukan Rumah Sakit. Via menjulukinya sebagai Ruang Pucat. Ckck. Via begitu fanatic dengan Novel favorit nya itu ‘Laskar Pelangi’. Alasannya sederhana, karena semua tetralogi Laskar Pelangi yang mengajarkan Via bahwa Impossible itu gak ada. Semuanya dapat diraih jika kita bermimpi. Menurut Via, Sang penulis novel kesayangannya itu –Andrea Hirata- satu prinsip dengannya. Via percaya bahwa semua motivasi, gurauan, dan prinsip hidup dalam suatu tulisan erat kaitannya dengan penulis. Sebab itulah, Via menjadikan Andrea Hirata sebagai tokoh idolanya. Walau Via tidak pernah bertemu dengan penulis best seller itu, Via yakin jika dia bermimpi dan berusaha kelak akan ada waktunya, waktu dimana Via bertemu dengan seseorang yang telah mengubah pola pikirnya dan akan disampaikannya beribu terima kasih pada orang itu atas segala motivasinya.

Sudah berulang kali dibolak-baliknya halaman majalah tersebut. Tak ada sedikit pun niat di kepalanya untuk membacanya.Kepalanya begitu sakit dan semua terasa berputar. Dokter dan Mamanya bilang dia tidak apa-apa, hanya kecapaian saja. Tiba-tiba tangan Via berhenti membolak-balik majalah dan membuka halaman yang mampu membuat Via sedikit bergetar.

“KEMAH BUDAYA” Via menatap nanar sub title dan gambar yang cukup besar di halaman itu. Segerombolan anak mengenakan seragam pramuka sedang berpose menampakkan senyum termanis yang mereka punya dengan background sebuah tenda berwana cokelat senada tentunya dengan seragam mereka. Seketika bayangan wajah Ify sedang tersenyum bahagia berputar di kepalanya. Via memejamkan matanya.

 “Kangen gue sama lo fy, Lo sama anak-anak udah sampai belum? Lo pasti dikacangin kan sama mereka? Coba aja gue gak kenak penyakit biadap ini!” Via mendengus sebal. Dia benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya yang satu itu.

“Mereka jahat banget sama lo fy. Salah lo apa sama mereka? Apalagi kak Rio! Dia gak punya hati fy. Kak Rio nyakitin lo disana?” Via tercekat. Kristal bening itu mengalir lembut membentuk sungai kecil di pipinya.
         “Tapi kenapa kita mencintai orang yang sama fy?”
                                  ********

 Melodi yang dihasilkan gitar Rio terdengar indah. Petikan-petikan dari tangan kekar Rio membuat para audien bertepuk tangan bahkan ada yang menjerit-jerit saking terkesima dengan perfoma Rio. Rio tertawa renyah menanggapi tingkah teman-temannya. Mereka kini sedang menikmati waktu luang seperti bercengkerama atau bernyanyi mengusir penat setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Tentunya mereka bersantai seperti ini setelah memasang tenda dan membuat dapur.

Mereka bergotong royong untuk mempercepat pekerjaan. Bergotong royong yang merupakan salah satu budaya bangsa Indoneia yang hampir punah. Setelah pekerjaan berakhir, mereka membentang terpal untuk berkumpul sebelum waktunya terlelap. Tak lupa pula candaan mereka diselingi dengan cemilan khas anak perkemahan, apalagi kalau bukan sepiring goreng ubi yang renyah dan segelas kopi susu hangat yang harus diminum satu berdua. Alasannya agar regu piket yang mengurus segala urusan dapur dan tenda tidak kerepotan mencuci gelas kotor. Itulah yang membuat kegiatan pramuka berbeda dengan kegiatan lain. Pramuka mengajarkan seseorang untuk berbagi terhadap sesama dan tidak egois melalui hal kecil sekali pun. Dan yang paling penting adalah pramuka mengajarkan kita untuk bekerja keras dan hidup sederhana.

“Swumppwah ewnawk bwangwet gowreng ubwinwya. RENYAH!” Celoteh Ozy yang mendapat tanggapan tawaan  lepas dari temannya. Ozy Adriansyah –Begitu lengkapnya- memang sangat jago dalam bidang makanan. Semua orang yang mengenal Ozy pasti setuju seratus persen dengan fakta itu. Ozy jago sekali menghabiskan makanan. Meskipun badannya kurus, bahkan lebih kurus dari Ify. Kesan pertama bertemu dengan Ozy, tidak menyangka bahwa makhluk kurus kering ini adalah rekor dalam menghabiskan makanan. Jadi disarankan hati-hati jika mengundang Ozy makan bersama.

“Gimana kalau kita main Truth or Dare?” Tawar Rio sambil menaikkan alisnya 3 kali. Anggota perkemahan hanya tertawa renyah menanggapi tingkah kocak Rio, tidak terkecuali Ify.

“Oke. Sekarang kita buat lingkaran” Hanya Angel yang merespond pertanyaan Rio. Sebenarnya Ify ingin berkata demikian, hanya saja ia kalah start dengan Angel. Lagi pula, Rio tidak suka bukan dengan Ify?

Mereka mulai berbaris membentuk lingkaran besar. Sengaja memberi jarak yang besar antara yang satu dengan yang lain agar sekalipun bersebelahan tetap mendapatkan kesempatan untuk bertanya.

Permainan dimulai. Dengan sebuah botol air mineral yang menjadi acuan. Siapa yang mendapat pangkal botol, maka dialah yang berhak mengajukan pertanyaan dan begitu sebaliknya. Sebagai penawar permainan, Rio berhak menjadi pemutar botol yang pertama kali. Rio menahan botol, kemudian tangannya mulai memutar botol itu. Dua detik pertama, botol masih bergerak cepat dan masuk detik ketiga geraknya kian melambat. Anak-anak tampak tegang dan berdoa dalam hati agar mendapat pangkal botol. Dan.. Ah! Pangkal botol menghadap ke arah Angel dan moncong botol tepat mengarah pada Rio. Rio merutuki dirinya sendiri, sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya. Sementara Angel, Jangan ditanya! Ia sudah ber-yess bahagia disertai jeritan khas nya yang membuat Ify menutup telingga.

“Truth or Dare?” Tanya Angel langsung.

“Karena gue cowok, jadi gue pilih dare” Jawab Rio mantap.

Kaum hawa bertepuk tangan dengan pilihan Rio. Ify hanya tersenyum geli menanggapi tingkah Rio. Angel tampak berpikir keras mencari tantangan yang tepat untuk Rio. Dan, aha! Angel tersenyum licik, anak TK pun juga tau kalau Angel sudah menentukannya.

“Marahin Ify sekarang jugak!” Angel tersenyum sinis pada Ify. Suasana menjadi hening, tatkala Ify hanya mentap datar.

“Apa maksud mu?” Ucap Rio tak kalah datarnya. Ada sedikit kelegaan di wajah Ify. “Kak Rio tidak akan tega” batin Ify.

Angel memiringkan kepalanya. “Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Kau punya kesempatan bukan?”

Deg!!

Apa kata Angel? Kak Rio dari dulu ingin melakukan itu? Kak Rio tega sekali. Rio berdiri dan berjaan mendekati Ify. Ify sudah lingling, tak ada lagi senyum dibibirnya. Benteng pertahanannya sudah rapuh.

“Berdiri Fy” Rio tidak melihat Ify. Tatapannya lurus, tampaknya dia sedang berpikir. Sekuat mungkin Ify bangkit. Dia tak ingin terlihat lemah di depan siapapun, meskipun Orang itu adalah Rio. Suasana menjadi tegang. Mereka bingung, harus bagaimana. Rio dan Ify sama-sama bungkam. Tak ada niat untuk memulai percakapan. Rio seperti terhipnotis dengan mata bulat Ify. Ada sebuah perasaan yang menahannya dan tentunya Rio tidak tahu apa itu.

PLAK!

Sebuah tamparan mulus tepat mendarat di wajah seseorang. Dan seseorang itu bukanlah Ify, melainkah Rio. Siapa lagi yang mendaratkan tamparan itu kalau bukan Ify. Rio memegangi wajahnya yang terkena bekas tamparan, ada rasa perih di pipinya yang tentunya tidak seperih apa yang dirasakan Ify saat ini.

‘Kak Rio jahat” Kristal bening mulai tumpah dari kelopak matanya. Dia berlari, berlari, dan berlari. Tak peduli dengan orang-orang yang melihatnya, tak peduli dengan jumlah tetesan air mata yang di keluarkannya, tak peduli betapa larutnya malam, tidak peduli dimana ia saat ini. Hanya ada satu di kepalanya. “Aku benci kak Rio”.
                                        ********
Sebuah mobil Lomborgini dengan nomor plat B 0511 CK memasuki rumah megah. Seorang pelayan dengan hormat  mebukakan pintu mobil itu. Seorang pria tampan keluar dari mobil tersebut. Dia melepas kacamatanya lantas bertanya “Kemana anakku? Apakah dia ada di rumah?”

“Tuan muda Rio sedang mengikuti perkemahan, Tuan Cakka”

Cakka tak menghiraukan perkataan pelayannya. Kepalanya saat ini sedang pusing. Dengan langkah tegap, dia berjalan memasuki rumahnya yang  bagai istana. Langkahnya terhenti ketika mendapati sosok yang kini sedang membelakanginya. Cakka yakin sosok itu adalah perempuan. Rambut pirangnya yang panjang digerai kebelakang. Cakka seperti mengenali sosok itu.

“Kau siapa?” Tanya Cakka yang saat ini sedang tidak bisa diganggu.

Sosok itu membalikkan tubuhnya. Cakka tetap tidak mengenali siapa yang dihadapannya saat ini, karena sosok didepannya ini mengenakan kaca mata hitam. Dilihat dari bentuknya, Cakka yakin bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa ataupun tetangga yang sedang ingin bertandang ke rumahnya.

Perempuan itu melepaskan kaca mata hitamnya. “Wellcome Cakka Kawekas Nuraga”. Cakka membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia semakin memperjelas penglihatannya. Dan sekarang dia yakin, bahwa yang di depannya adalah seseorang yang dicarinya selama ini.

“Olivia Ruth? Benarkah kau Olivia Ruth?” Cakka tertawa bahagia. Dia memeluk wanita yang dipanggilnya “Olivia Ruth”. Dia sangat merindukan sosok dengan gelar most wanted itu. Olivia membalas pelukan hangat milik Cakka. Dia meletakkan dagunya di atas bahu Cakka. Dia merindukan teman lamanya yang sekarang tampak lebih dewasa, setelah tujuh belas tahun mereka tidak bertemu.

“Kau masih hidup? Aku merindukan mu”  Tanpa sadar air mata Cakka menetes. Air mata bahagia, karena kini Cakka merasakan bahwa dia belum terlambat menyelesaikan masalahnya yang sudah menggantung sejak peristiwa 17 tahun yang lalu.

Bagai dihempas dari langit paling tinggi dan jatuh ke dalam jurang paling dalam, Olivia terdiam. Cakka mengingatkannya tentang apa tujuannya ke rumah Cakka dan kejutan yang mampu membuat Cakka kaget. Olivia meremas bajunya, dia memejamkan matanya agar tidak terlihat gugup. Olivia menghela nafas berat.

Olivia menggigit bibir bawahnya ”Kedatangan ku ke sini…untuk memberi tahu mu tentang sesuatu yang selama ini ku pendam sendiri dan juga hal yang membuat hidup mu…. hancur”

“Ayo duduk!” Pinta Cakka. Mereka berdua duduk berhadapan. Olivia memandang sekitar, merasa kagum dengan berbagai ornament unik rumah Cakka.

“Tadi aku berjumpa dengan Alvin” Perkataan Cakka mampu membuat Olivia tersentak kaget. Ia membulatkan matanya. “Dia masih hidup? Ini sulit dipercaya” Olivia menggigit jarinya cemas. Cakka mengangguk setuju. Mereka berdua masih tak percaya, mengingat betapa mengenaskannya keadaan Alvin saat itu. “Dia client besar ku. Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang. Jika sedikit saja aku salah mengambil keputusan, maka semuanya akan berakhir mengerikan. Dia orang yang licik.” Kali ini Olivia mengangguk setuju. Cakka menyandarkan badannya ke badan kursi sambil memejamkan matanya. Dia merasa bebannya sedikit terangkat setelah bercerita ke sahabat lamanya.

“Oh iya. Tadi kau bilang ingin menyampaikan hal yang kelihatannya penting sekali, sampai membuat kau si gelar most wanted jauh-jauh datang kemari.” Cakka tertawa renyah, tidak untuk Olivia yang hanya diam. “Ayo cerita!” Olivia masih tetap terdiam. Entah mengapa dia tiba-tiba blank. Olivia kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk tidak menambah beban Cakka. Jujur,ia belum siap untuk mengatakan rahasia terbesar dalam hidupnya meskipun sudah 17 tahun ia menyembunyikannya

Olivia tiba-tiba berdiri. “Aku pulang”. Cakka mengkerutkan keningnya. “Kenapa buru-buru sekali? Kau bahkan belum bicara apapun.” ‘Kau sepertinya saat ini sedang banyak masalah. Tenang saja! Lain waktu aku akan menemui mu, tidak untuk sekarang”

“Perlu ku antar?’ tawar Cakka. “Tidak usah. Aku bisa sendiri.” Olivia memberikan senyum manis miliknya. Ia berjalan dengan langkah yang sangat anggun, keluar dari rumah Cakka. Kata-kata Cakka masih terngiang jelas di telinganya. “Bagaimana mungkin dia masih hidup. Ini bisa jadi masalah besar.” Olivia bergumam tidak jelas. Ia memegang keningnya yag tiba-tiba terasa berat.
         
 TIIIIITT
Suara klakson mobil yang panjang dan juga begitu nyaring mengagetkan Olivia. Ia tidak sadar bahwa dirinya kini sudah berada di tengah jalan. Refleks ia berpindah ke pinggir jalan. Olivia menatap mobil yang hampir saja menabraknya kalau saja sopir tersebut tidak sigap. Olivia merasa bersalah karena telah mengganggu pengguna jalan.
       
“Maaf,Pak. Saya tadi sedikit tidak focus”

Pegendara mobil mewah itu membuka kaca jendela depan mobilnya yang disebelah kanan. Menampakkan wajahnya yang begitu tampan jika disertai senyum manisnya. Ia melambaikan tangannya kepada Olivia, lantas menutup kembali kaca jendela mobilnya dan setelah itu melajukan mobilnya. Olivia kaget bukan main. Matanya melotot reflek saat mendapati wajah pemilik mobil Jazz dengan nomor plat B 1210 AJ. Tubuhnya mematung seketika. Kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya hingga membuatnya tersungkur.

“Al.. Alvin..” Ucapnya terbata-bata
                                ********
Terlihat seorang pria memainkan ponselnya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Pelayan cafè datang membawa daftar makanan.
“Bapak pesan apa?” tanyanya ramah

 “Jus lemon dua.”

“Baiklah. Pesanan Bapak akan diantar lima menit lagi”
Pria itu –Alvin- melirik arlojinya. Dia memutar bola matanya.“Kau lama sekali Cakka.”    

Sebuah minivan putih berhenti di depan café. Seorang pengawal membukakan pintu. Alvin hanya melihatnya dari kejauhan, membiarkan sang pemilik mobil tersebut berjalan mendekatinya.

“Maaf, membuat mu menunggu.” Permintaan maaf macam apa itu? Sangat datar sekali.

“Tidak apa.” Jawab Alvin tersenyum. Padahal hatinya saat ini sudah dongkol setengah mati. Ingin rasanya Alvin mencincang-cincang makhluk yang menurutnya bukan manusia di hadapannya.

Alvin menyeruput jus lemonnya, sekedar membasahi kerongkogan yang mendadak kering “Ada apa?” Tanya Alvin. “Bukankah kau sangat sibuk?” Alvin sangat tahu pertanyaannya adalah konyol. Ia kehilangan ide untuk memecah keheningan.

“Memangnya aku sibuk apa?” Tanya Cakka balik dengan wajahnya yang sama sekali tak bersahabat.

“Sibuk bekerja tentunya. Mengurus perusahaan sebesar itu, bukankah merepotkan?” Jawab Alvin tak mau kalah.

“Cih,-“ Cakka tersenyum sinis. Cakka mendekatkan wajahnya pada Alvin. Menatap penuh kebencian pada sahabat lamanya yang kini sudah berubah menjadi musuh abadi untuknya. Kedua tangan Cakka mengepal dengan kuat, seakan ucapan Alvin adalah sindiran telak untuknya. Alvin hanya menanggapi datar. “Untuk apa aku bekerja? Siapa yang harus ku hidupi? Aku tidak punya istri dan anak.” Cakka mengendurkan tatapannya, menatap lurus ke depan seakan menerawang masa lalu. “Dan semua itu karena kau!” Tatapan Cakka seutunya berubah menjadi nyala api.

“Maaf!” Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Alvin. Alvin hanya tak ingin emosi Cakka naik satu tingkat sehingga berada di level kalap. Ia lelah dengan Cakka yang selalu memojokkannya, seoalah-olah dirinyalah tokoh antagonis dalam kehidupan Cakka. Ingin rasanya Alvin menjelaskan semuanya, menjelaskan bahwa Cakka salah, bahwa Cakka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apa mungkin Cakka percaya? Alvin hanya bisa pasrah, menyerahkan semuanya pada sang waktu. Hingga akhirnya waktulah yang menjawab

“Maaf mu tidak akan pernah mengembalikan mereka.”
                                   *****
“Ma, Sivia kapan pulangnya?” Dengan wajah yang dibuat seprihatin mungkin, Sivia mencoba merayu orang yang dipanggilnya “Ma”. Sudah lima hari, Sivia menghadapi hari-harinya di ruangan yang hanya bernuansa putih. Penyakit biadap yang bersemayam di tubuhnya sungguh membuat Sivia dongkol. Bagaimana tidak ia sudah melewatkan kegiatan yang selalu ditunggunya setiap akhir tahun, dan semuanya hancur seketika, ketika penyakit yang hanya termasuk kategori ‘pusing’ menghadangnya. Belum lagi semua yang ada dihadapannya berwarna putih, membuat Sivia merasakan ajalnya semakin dekat.

“Tentunya sampai kau sembuh total.” Wajah memelas Sivia sama sekali tak membantu, karena mamanya sangat berkonsetrasi dengan telepon genggamnya-Selalu begitu-

“Ma..” Suara Sivia terdengar begitu lirih. Sebuah kebiasaan yang selalu dianggapnya sebagai jurus jitu, sesuatu yang terdengar seperti anak kecil merengek meminta permen. Sungguh, membuat hati ibu mana pun tersentuh, tapi tidak untuk mamanya. “Lihat Sivia bentar ma..” Suara Sivia mulai meninggi. Dia harus sedikit kerja keras.

Perhatian mamanya teralihkan. Wajahnya datar sekali, bukan seperti perempuan yang bernama “IBU” kebanyakan yang akan setiap detik membelai lembut anaknya jika sang anak sakit. Sivia ingin merasakannya, merasakan bagaima kasih sayang tulus seorang Ibu. Sivia ingin disuapkan bubur ketika sakit, dikecup mesra keningnya, dibelai rambutnya dan itu dilakukan oleh Ibunya sendiri.

“Mama bilang Via cuma pusing kan?” Sivia memulai monolognya.Dia melepas paksa infuse yang melekat di tangannya. Ada rasa perih menyelimuti dirinya, namun bertahan di ruangan ini lebih perih rasanya.

Mata mamanya membulat sempurna, tak percaya anaknya senekad itu. “Hey! Kenapa kau lepas infuse mu?” Mamanya reflek berdiri. Tatapannya mengisyaratkan bahwa dia sangat cemas sekali.

Sivia memaksakan dirinya untuk berdiri, meskipun semuanya terasa berputar. Semakin kokoh Sivia berdiri, semakin sakit kepalanya. Sivia merutuki setengah mati penyakitnya. Tangannya menggenggam erat besi yang terdapat di ranjang, menetralkan rasa sakit kepalanya dengan membiasakan berdiri.  Mata Sivia terpejam menahan rasa sakit agar terlihat kuat didepan orang tuanya.

Sivia melangkahkan kakinya perlahan. Baru satu langkah, sakit itu datang menyergapnya kembali. Ya Tuhan, penyakit apa ini? Mamanya hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya ia membopong anaknya dan membelai lembut rambut Sivia, namun ada hal lain yang menjadi batas antara ia dan anaknya.

Kerja keras Sivia membuahkan hasil, karena kini jaraknya dan mamanya tak kurang dari satu meter. Sehingga Sivia dapat dengan mudah merangkul dan memeluk seseorang yang benar-benar dirindukannya. Perasaan kesal karena harus dirawat inap hilang seketika saat Sivia dapat merasakan betapa hangatnya pelukan seorang Ibu. Sayang, hangatnya pelukan seorang Ibu tak dapat dinikmatinya lebih dari satu menit. Lihatlah! Mamanya dengan tidak berdosa memdorong Sivia, sehingga perempuan berwajah pucat itu terjatuh sebab kondisinya belum stabil. Sivia cengo tak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Mamanya mendorongnya karena tak ingin berpelukan dengannya, sebegitu hinakah ia?

Mama Sivia membalikkan badannya, tak ingin lama-lama melihat sang anak. Dokter dan beberpa perawat hanya diam memperhatikan pertunjukan gratis di ambang pintu. Begitu melihat wanita itu menuju mereka, dengan sigap mereka bergeser memberi jalan.

“Kalian urus anak itu.” Hanya itu yang disampaikannya.
                                      *******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar