Senin, 12 Oktober 2015

Teror Lukisan Chapter 1



                                Teror Lukisan Chapter1



Rio Berjalan perlahan menyusuri tangga. Di tangannya sudah terdapat sepiring nasi dan segelas air mineral. Dia membuka knop pintu sebuah ruangan yang hanya ada satu disana dan mendapati seorang gadis. Perawakannya tak terurus, wajah pucat pasi, dan rambut yang dibiarkan terurai tak beraturan, menambah kesan menyeramkan. Rio tersenyum miring. Ia melangkahkan kakinya mendekati sosok itu, yang masih sibuk dengan dunianya, memoleskan cat air dan meratakannya serta menggabungkan beberapa warna pada sebuah kanvas. Rio menyibakkan rambut gadis itu, sehingga menampakkan wajah pucatnya.
          ‘Makan dulu ya Fy!”
        Ify-Alyssa Saufika Umari- adiknya Rio –Mario Stevano Aditya Haling-. Ify mengangguk, walau tak bergeming dari posisinya.Rio mulai menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya. Tidak lebih dari lima menit, telepon genggam milik Rio bordering nyaring, membuat Ify terlonjak kaget.
        “Lain kali akan ku ganti nada deringnya” Rio tersenyum manis, berusaha menenangkan adiknya yang terlihat kaget berlebihan. Rio mengangkat telepon itu
         “Halo.” Suara berat disebrang sana yang sangat dihafal Rio.
        “Halo. Ada apa Alvin? Kau tahu kan, aku sudah mengambil cuti hari ini!”  Rio berubah kesal.
        “Aku tahu!” Alvin mendengus kasar.
        “Lalu?” Rio menaikkan sebelah alisnya, meski Alvin tidak akan menyadarinya.
        “Aku mendapat bingkisan. Isinya sebuah lukisan. Aku tidak tahu apa maksud dari lukisan ini.”
         “Kenapa menghubungi ku?” Rio masih bingung dengan tujuan Alvin.
         “Aku butuh bantuan mu.” Suara Alvin melemas.
         “Apakah aku dibayar untuk itu?”
         “Mungkin tidak.” Alvin menjawab ragu-ragu. “Tapi, aku rasa ini ada hubunganya dengan kasus di Menara Tua” Tambah Alvin, sebelum Rio menutup telepon.
          Rio tampak berpikir. ‘Baiklah aku kesana segera!”
                                         *********
          Rio membolak balikkan sebuah benda persegi panjang di hadapannya. Alvin hanya diam memperhatikan Rio. Rio menyerah.
         “Aku sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun” terselip nada menyesal.
          “Aku disuruh kepolisian untuk menyelidiki Menara Tua di balik bukit” Alvin mulai angkat bicara. “Menurut data yang diterima , setiap malam penduduk disekitar sana selalu mendengar suara bergemuruh yang datangnya seperti jauh dari dalam tanah. Ada juga yang pernah melihat sekumpulan cahaya dengan berbagai warna berpendar-pendar layaknya pelangi. Kemarin malam, aku mendatangi tempat itu. Tidak ada suara bergemuruh ataupun cahaya seperti pelangi yang dikatakan penduduk. Aku hanya menemukan pagar yang tertutup rapat dan anjing galak yang besar. Aku mengendap-endap, mencari jalan untuk menerobos pagar itu. Tak ada jalan masuk disana.Tapi, sekilas aku menemukan bayangan. Aku merasa ada kejanggalan disana. Hari sudah larut, jadi ku putuskan untuk menyelidikinya besok. Anehnya, mobil ku bergerak sangat pelan, padahal aku sama sekali tidak menginjak rem. Lagi pula, jalanannya menurun. Aku juga merasakan hal yang sama ketika mendaki, namun aku menghiraukannya. Tapi bukankan ini suatu keanehan jika terjadi pada jalanan menurun? Paginya, aku sudah menemukan lukisan ini di depan pintu Apartment ku.”
          Rio berpikir keras. “Siapa yang menghuni bangunan Menara Tua itu?”
          “Tidak ada. Penduduk sekitar bilang tidak ada yang menghuni bangunan itu, kecuali anjing galak yang ku ceritakan tadi”
          Mereka kembali diam, berusaha menemukan  solusi dari kasus aneh yang mereka dapatkan. Tiba-tiba, Rio mendapat ide.
          “Adikku tahu banyak tentang lukisan, mungkin kita bisa minta bantuannya” Kata Rio.
          ‘Adik mu yang mana?” Alvin bertanya dengan polos. Rio memutar bola matanya kesal
          “Tentu saja Ify! Adikku hanya satu”
          “Maksudmu, adik mu yang tidak wa-“
          “Adikku tidak gila!” Rio memotong ucapan Alvin, ia sangat sensitive jika membahas Ify.
          ‘Maafkan aku!’ Alvin menyesal. “Tapi, apa kau yakin Ify bisa membantu?” Jujur, Alvin meragukan ide Rio.
           “Ify adalah gadis yang hebat” Jawab Rio sinis.

           Mereka sudah tiba di rumah Rio. Bergegas menuju kamarIfy. Ify tampak terkejut dengan kedatangan Rio dan Alvin, namun dia mengabaikan mereka dan kembali dengan kegiatan melukisnya. Alvin sangat terkejut melihat Ify yang sangat berbeda dengan Ify yang dikenalnya dulu.
       “Kakak datang bersama Alvin” Rio tersenyum manis pada Ify. Ify tetap tak menghiraukannya.
        Rio berjongkok, menyamai tingginya dengan Ify.
        “Kakak boleh Tanya sesuatu gak?”
        Ify menatap Rio sebentar, lalu kembali ke posisi semula. Rio meminta Alvin, untuk memberikan lukisan itu padanya.
        “Kamu tahu ini lukisan apa?” Tanya Rio penuh harap.
        Ify menghentikan aktivitsnya. Ia menatap lama pada lukisan itu, walaupun hanya sebuah tatapan datar. Rio yakin, Ify sedang berpikir. Ify menatap bergantian pada Rio dan Alvin. Dia angkat bicara “Segitiga kematian”
                                                   ****
        “Wow, lukisan yang indah!” Gadis itu berdecak kagum. Ia memperhatikan detil demi detil benda yang ada ditangannya. “Dari mana kau mendapatkannya? Aku ingin tahu siapa pelukisnya.” Gadis itu meletakkan kembali lukisan yang diambilnya,menunggu jawaban Alvin.
        “Kau tidak akan bicara seperti itu jika tahu apa yang ada dibalik lukisan itu.” Alvin menjawab dengan malas.
         “Yasudah, katakan pada ku sekarang!” Gadis itu mengambil posisi mendekati Alvin.
         “Aku takut, nanti kau terbawa mimpi.” Alvin tersenyum nakal.
         “Aku bukan anak kecil lagi.” Gadis itu mendegus kesal.
         “Semacam terror. Ify bilang, itu lukisan segitiga kematian.”
         “Aku tidak mengerti.”
         ‘Aku tidak heran.” EKspresi Alvin datar. “Kasus yang belum terpecahkan dan pelakunya tidak ingin polisi ikut campur, kira-kira begitulah maksud teror ini”
         Gadis itu hanya diam, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya, terlihat jelas ia sedang khawatir.
         “Tenanglah! Aku akan baik-baik saja!” Alvin sangat tahu bahwa gadisnya itu penakut. Dia menggenggam tangan mungil milik gadis tersebut, menyalurkan kekuatan padanya. Mata mereka berdua saling beradu.
           KLEK!
         “Oops! Sepertinya aku salah masuk ruangan.”
         Mereka melepaskan tangan masing-masing, karena kini Rio sudah berdiri menjulang sebagai saksi bisu cinta mereka. Keduanya terlihat salah tingkah. Alvin dengan tingkah gelagapannya yang lucu dan Pipi gadisnya yang memerah. Rio? Jangan ditanya! Dia sudah tertawa lebar dari tadi.
        “Ternyata ada Agni disini!’ Rio tersenyum misterius seolah memojokkan Alvin.
         Agni hanya menunduk malu dan keluar disertai langkah seribu. Hal itu membuat Rio tertawa geli.
        “Kau membuatnya takut!’ Alvin kembali dengan wajah masa-bodohnya.
        “Takut? Memangnya aku monster?”
         “Gingsul mu terlihat seperti vampire.” Alvin tertawa lepas, yang menurut Rio sama sekali tidak ada lucunya.
          “Kau terlalu banyak menonton film.” Sindir Rio.
         “Apa ada perkembangan?” Alvin mengalihkan pembicaraan. Dia yakin kedatangan Rio pasti ada hubungannya dengan kasus di menara tua, karena tidak mungkin si pemalas itu repot-repot datang ke apartemennya hanya untuk menanyakan kabar.
          “Tidak.” Mata Rio menangkap sebuah lukisan, “apa kau dapat lukisan ini lagi?”
           “Tidak juga.”
           “Yasudah, malam ini kita akan check ke sana.”
           ‘Kenapa harus malam?” Protes Alvin, dia teringat bagaimana menyeramkannya tempat itu disaat malam hari.
           “Nanti siang, aku harus mengantarkan Ify check up.”
            Alvin mendengus pasrah, “terserah kau saja.”
                                                   *****
           “Kau yakin ini tempatnya?” Rio memandang ke luar jendela mobil, hanya gelap yang dapat dilihatnya.
           “Pertanyaan bodoh macam apa itu? Baru dua hari yang lalu aku ke sini, dan kau menanyakan APA-AKU-YAKIN,” Mata Alvin tidak beralih, ia masih tetap focus pada jalanan yang bergelombang. Hingga akhirnya mereka mulai memasuki kawasan ‘mistis’ yang ditandai dengan mobil mendaki pelan sekali.
            “Bisa kau tambah kecepatannya? Ini rasanya seperti menunggangi semut.” Protes Rio.
            ‘Ini sudah yang paling kencang!” Alvin menggerutu kesal.
            “Benarkah?” Rio hanya melongo tak percaya.
           Mereka tiba di puncak bukit. Mata Rio hanya mendapati sebuah bangunan menara tua yang dikelilingi pagar dan ada Anjing galak yang menjaganya.
           “Apa tidak ada jalan masuk ke sana?” Rio menggosok-gosokkan tangannya, suhu di puncak sangatlah dingin.
           “Tidak ada.” Berbeda dengan Rio, Alvin hanya memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya stay-coolnya.
           “Lalu bagaimana cara anjing itu keluar masuk?”
           ‘Anjing itu tidak pernah keluar dari tempat persembunyiannya.”
           “Itu mustahil! Bagaimana caranya dia mendapatkan makanan?”
           “Apa kau ke sini hanya ingin bertanya bagaimana cara anjing itu bertahan hidup?” Sindir Alvin telak.
           “Ayo kita telusuri!” Rio memimpin sedangkan Alvin hanya mengekorinya dari belakang sambil melihat kiri kanan. ‘Pasti akan terlihat menarik jika siang hari.’ Batin Alvin.
           Mereka sudah selesai mengelilingi bangunan menara tua itu, dan benar saja memang tidak ada jalan masuk. Pagarnya didesign khusus sehingga tidak ada yang bisa melewati pagar itu.
           Rio berjongkok, lelah juga harus mengelilingi bangunan yang bisa dikatakan tidak kecil itu. Ia menyandarkan punggungnya pada pagar dan meluruskan kakinya, tak lama kemudian ada yang mengganjal pada tubuh Rio. Ia terlihat seperti kehilangan sadar dan kejang-kejang. Alvin yang menyadari perubahan itu dengan cepat mengambil kayu yang berada didepannya dan memukulkannya pada tubuh Rio. Rio tumbang dengan kondisi tak sadarkan diri disertai tubuhnya yang kaku.
           Alvin menatap bergantian pada Rio dan pagar itu. “Jadi pagar ini dialiri listrik.” Gumam Alvin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar