Teror Lukisan Chapter1
Rio Berjalan perlahan menyusuri tangga. Di tangannya sudah
terdapat sepiring nasi dan segelas air mineral. Dia membuka knop pintu sebuah
ruangan yang hanya ada satu disana dan mendapati seorang gadis. Perawakannya
tak terurus, wajah pucat pasi, dan rambut yang dibiarkan terurai tak beraturan,
menambah kesan menyeramkan. Rio tersenyum miring. Ia melangkahkan kakinya
mendekati sosok itu, yang masih sibuk dengan dunianya, memoleskan cat air dan
meratakannya serta menggabungkan beberapa warna pada sebuah kanvas. Rio
menyibakkan rambut gadis itu, sehingga menampakkan wajah pucatnya.
‘Makan dulu ya
Fy!”
Ify-Alyssa
Saufika Umari- adiknya Rio –Mario Stevano Aditya Haling-. Ify mengangguk, walau
tak bergeming dari posisinya.Rio mulai menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam
mulutnya. Tidak lebih dari lima menit, telepon genggam milik Rio bordering
nyaring, membuat Ify terlonjak kaget.
“Lain kali akan
ku ganti nada deringnya” Rio tersenyum manis, berusaha menenangkan adiknya yang
terlihat kaget berlebihan. Rio mengangkat telepon itu
“Halo.” Suara
berat disebrang sana yang sangat dihafal Rio.
“Halo. Ada apa
Alvin? Kau tahu kan, aku sudah mengambil cuti hari ini!” Rio berubah kesal.
“Aku tahu!” Alvin mendengus kasar.
“Lalu?” Rio
menaikkan sebelah alisnya, meski Alvin tidak akan menyadarinya.
“Aku mendapat
bingkisan. Isinya sebuah lukisan. Aku tidak tahu apa maksud dari lukisan ini.”
“Kenapa
menghubungi ku?” Rio masih bingung dengan tujuan Alvin.
“Aku butuh
bantuan mu.” Suara Alvin melemas.
“Apakah aku
dibayar untuk itu?”
“Mungkin
tidak.” Alvin menjawab ragu-ragu. “Tapi, aku rasa ini ada hubunganya dengan
kasus di Menara Tua” Tambah Alvin, sebelum Rio menutup telepon.
Rio tampak
berpikir. ‘Baiklah aku kesana segera!”
*********
Rio membolak
balikkan sebuah benda persegi panjang di hadapannya. Alvin hanya diam
memperhatikan Rio. Rio menyerah.
“Aku sama
sekali tidak menemukan petunjuk apapun” terselip nada menyesal.
“Aku disuruh
kepolisian untuk menyelidiki Menara Tua di balik bukit” Alvin mulai angkat
bicara. “Menurut data yang diterima , setiap malam penduduk disekitar sana
selalu mendengar suara bergemuruh yang datangnya seperti jauh dari dalam tanah.
Ada juga yang pernah melihat sekumpulan cahaya dengan berbagai warna
berpendar-pendar layaknya pelangi. Kemarin malam, aku mendatangi tempat itu.
Tidak ada suara bergemuruh ataupun cahaya seperti pelangi yang dikatakan
penduduk. Aku hanya menemukan pagar yang tertutup rapat dan anjing galak yang
besar. Aku mengendap-endap, mencari jalan untuk menerobos pagar itu. Tak ada
jalan masuk disana.Tapi, sekilas aku menemukan bayangan. Aku merasa ada
kejanggalan disana. Hari sudah larut, jadi ku putuskan untuk menyelidikinya
besok. Anehnya, mobil ku bergerak sangat pelan, padahal aku sama sekali tidak
menginjak rem. Lagi pula, jalanannya menurun. Aku juga merasakan hal yang sama
ketika mendaki, namun aku menghiraukannya. Tapi bukankan ini suatu keanehan
jika terjadi pada jalanan menurun? Paginya, aku sudah menemukan lukisan ini di
depan pintu Apartment ku.”
Rio berpikir
keras. “Siapa yang menghuni bangunan Menara Tua itu?”
“Tidak ada.
Penduduk sekitar bilang tidak ada yang menghuni bangunan itu, kecuali anjing
galak yang ku ceritakan tadi”
Mereka kembali
diam, berusaha menemukan solusi dari
kasus aneh yang mereka dapatkan. Tiba-tiba, Rio mendapat ide.
“Adikku tahu
banyak tentang lukisan, mungkin kita bisa minta bantuannya” Kata Rio.
‘Adik mu yang
mana?” Alvin bertanya dengan polos. Rio memutar bola matanya kesal
“Tentu saja
Ify! Adikku hanya satu”
“Maksudmu,
adik mu yang tidak wa-“
“Adikku tidak
gila!” Rio memotong ucapan Alvin, ia sangat sensitive jika membahas Ify.
‘Maafkan aku!’
Alvin menyesal. “Tapi, apa kau yakin Ify bisa membantu?” Jujur, Alvin meragukan
ide Rio.
“Ify adalah
gadis yang hebat” Jawab Rio sinis.
Mereka sudah tiba di rumah Rio.
Bergegas menuju kamarIfy. Ify tampak terkejut dengan kedatangan Rio dan Alvin,
namun dia mengabaikan mereka dan kembali dengan kegiatan melukisnya. Alvin
sangat terkejut melihat Ify yang sangat berbeda dengan Ify yang dikenalnya
dulu.
“Kakak datang
bersama Alvin” Rio tersenyum manis pada Ify. Ify tetap tak menghiraukannya.
Rio berjongkok,
menyamai tingginya dengan Ify.
“Kakak boleh
Tanya sesuatu gak?”
Ify menatap Rio
sebentar, lalu kembali ke posisi semula. Rio meminta Alvin, untuk memberikan
lukisan itu padanya.
“Kamu tahu ini
lukisan apa?” Tanya Rio penuh harap.
Ify menghentikan
aktivitsnya. Ia menatap lama pada lukisan itu, walaupun hanya sebuah tatapan
datar. Rio yakin, Ify sedang berpikir. Ify menatap bergantian pada Rio dan
Alvin. Dia angkat bicara “Segitiga kematian”
****
“Wow, lukisan
yang indah!” Gadis itu berdecak kagum. Ia memperhatikan detil demi detil benda
yang ada ditangannya. “Dari mana kau mendapatkannya? Aku ingin tahu siapa
pelukisnya.” Gadis itu meletakkan kembali lukisan yang diambilnya,menunggu
jawaban Alvin.
“Kau tidak akan
bicara seperti itu jika tahu apa yang ada dibalik lukisan itu.” Alvin menjawab
dengan malas.
“Yasudah,
katakan pada ku sekarang!” Gadis itu mengambil posisi mendekati Alvin.
“Aku takut,
nanti kau terbawa mimpi.” Alvin tersenyum nakal.
“Aku bukan anak
kecil lagi.” Gadis itu mendegus kesal.
“Semacam
terror. Ify bilang, itu lukisan segitiga kematian.”
“Aku tidak
mengerti.”
‘Aku tidak
heran.” EKspresi Alvin datar. “Kasus yang belum terpecahkan dan pelakunya tidak
ingin polisi ikut campur, kira-kira begitulah maksud teror ini”
Gadis itu hanya
diam, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya, terlihat jelas ia sedang khawatir.
“Tenanglah! Aku
akan baik-baik saja!” Alvin sangat tahu bahwa gadisnya itu penakut. Dia menggenggam
tangan mungil milik gadis tersebut, menyalurkan kekuatan padanya. Mata mereka
berdua saling beradu.
KLEK!
“Oops!
Sepertinya aku salah masuk ruangan.”
Mereka
melepaskan tangan masing-masing, karena kini Rio sudah berdiri menjulang
sebagai saksi bisu cinta mereka. Keduanya terlihat salah tingkah. Alvin dengan
tingkah gelagapannya yang lucu dan Pipi gadisnya yang memerah. Rio? Jangan
ditanya! Dia sudah tertawa lebar dari tadi.
“Ternyata ada
Agni disini!’ Rio tersenyum misterius seolah memojokkan Alvin.
Agni hanya
menunduk malu dan keluar disertai langkah seribu. Hal itu membuat Rio tertawa
geli.
“Kau membuatnya
takut!’ Alvin kembali dengan wajah masa-bodohnya.
“Takut?
Memangnya aku monster?”
“Gingsul mu
terlihat seperti vampire.” Alvin tertawa lepas, yang menurut Rio sama sekali
tidak ada lucunya.
“Kau terlalu
banyak menonton film.” Sindir Rio.
“Apa ada
perkembangan?” Alvin mengalihkan pembicaraan. Dia yakin kedatangan Rio pasti
ada hubungannya dengan kasus di menara tua, karena tidak mungkin si pemalas itu
repot-repot datang ke apartemennya hanya untuk menanyakan kabar.
“Tidak.” Mata
Rio menangkap sebuah lukisan, “apa kau dapat lukisan ini lagi?”
“Tidak juga.”
“Yasudah,
malam ini kita akan check ke sana.”
‘Kenapa harus
malam?” Protes Alvin, dia teringat bagaimana menyeramkannya tempat itu disaat
malam hari.
“Nanti siang,
aku harus mengantarkan Ify check up.”
Alvin
mendengus pasrah, “terserah kau saja.”
*****
“Kau yakin ini
tempatnya?” Rio memandang ke luar jendela mobil, hanya gelap yang dapat
dilihatnya.
“Pertanyaan
bodoh macam apa itu? Baru dua hari yang lalu aku ke sini, dan kau menanyakan
APA-AKU-YAKIN,” Mata Alvin tidak beralih, ia masih tetap focus pada jalanan
yang bergelombang. Hingga akhirnya mereka mulai memasuki kawasan ‘mistis’ yang
ditandai dengan mobil mendaki pelan sekali.
“Bisa kau
tambah kecepatannya? Ini rasanya seperti menunggangi semut.” Protes Rio.
‘Ini sudah
yang paling kencang!” Alvin menggerutu kesal.
“Benarkah?”
Rio hanya melongo tak percaya.
Mereka tiba di
puncak bukit. Mata Rio hanya mendapati sebuah bangunan menara tua yang
dikelilingi pagar dan ada Anjing galak yang menjaganya.
“Apa tidak
ada jalan masuk ke sana?” Rio menggosok-gosokkan tangannya, suhu di puncak
sangatlah dingin.
“Tidak ada.”
Berbeda dengan Rio, Alvin hanya memasukkan tangannya ke dalam saku celana
dengan gaya stay-coolnya.
“Lalu
bagaimana cara anjing itu keluar masuk?”
‘Anjing itu
tidak pernah keluar dari tempat persembunyiannya.”
“Itu
mustahil! Bagaimana caranya dia mendapatkan makanan?”
“Apa kau ke
sini hanya ingin bertanya bagaimana cara anjing itu bertahan hidup?” Sindir
Alvin telak.
“Ayo kita
telusuri!” Rio memimpin sedangkan Alvin hanya mengekorinya dari belakang sambil
melihat kiri kanan. ‘Pasti akan terlihat menarik jika siang hari.’ Batin Alvin.
Mereka sudah
selesai mengelilingi bangunan menara tua itu, dan benar saja memang tidak ada
jalan masuk. Pagarnya didesign khusus sehingga tidak ada yang bisa melewati
pagar itu.
Rio
berjongkok, lelah juga harus mengelilingi bangunan yang bisa dikatakan tidak
kecil itu. Ia menyandarkan punggungnya pada pagar dan meluruskan kakinya, tak
lama kemudian ada yang mengganjal pada tubuh Rio. Ia terlihat seperti
kehilangan sadar dan kejang-kejang. Alvin yang menyadari perubahan itu dengan
cepat mengambil kayu yang berada didepannya dan memukulkannya pada tubuh Rio.
Rio tumbang dengan kondisi tak sadarkan diri disertai tubuhnya yang kaku.
Alvin menatap
bergantian pada Rio dan pagar itu. “Jadi pagar ini dialiri listrik.” Gumam
Alvin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar