Cinta Tanpa Syarat Chapter 1
------------Dilarang keras mengcopy paste--------------
------------Dilarang keras mengcopy paste--------------
Gagang telepon rumah yang digenggam tangannya jatuh seakan
tak ada sedikitpun tenaga yang menyangga. Suara berat disebrang sana
sayup-sayup terdengar mengisyaratkan bahwa orang itu berbicara dengan keras. Seluruh
tubuh gadis itu bergetar. Sungguh, sesuatu yang sangat tak ingin didengarnya.
Tidak butuh waktu lama, hingga tubuh tegapnya tumbang. Dadanya penuh sesak.
Ingin sekali ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, namun isak tangis menahan
paru-parunya. Isak tangis yang terdengar begitu pilu. Rambut ikalnya yang
tertata rapi menjadi sasaran amukan. Ditatapnya lekat-lekat gagang telepon
rumah yang sudah terjatuh ke lantai. Untuk pertama kali, ia berharap jika salah
dengar.
****
Gadis dengan koper besar memeluk satu-satu orang-orang yang menyambutnya. Raut kerinduan terpampang nyata di wajah gadis itu. Dia tersenyum hangat.
"Fy, ada apa kau datang jauh-jauh dari Roma ke Istanbul?" Tanya wanita paruh baya yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa bahagia dengan kejutan yang didapatkannya.
"Why not? Turki adalah negara kelahiran ku." Wanita itu -Ify- berpura-pura kesal. Pertanyaan ibunya seakan tak ingin mengharapkan kedatangannya. Walaupun Ify tahu bahwa itu tidak benar.
"Tentunya juga untuk merayakan ulang tahun ku." Ulang tahun. Sesuatu yang selalu ditunggu-tunggunya. Sungguh, kehangatan keluarga membuatnya damai dari segala kesibukan yang menghimpit selama ini.
"Ooh, beberapa hari lagi kau akan dewasa." Pria dengan setelan jas yang rapi memasukkan tangannya ke dalam kantung celana. Meskipun rambutnya sudah memutih, namun karismatik yang ia miliki tak pernah pudar. Memimpin perusahaan terbesar di Istanbul, bukankan itu sesuatu yang 'Wah' ? Pria yang selalu suka membuat orang lain terkejut. Ify sangat menyayanginya. Gadis itu berusaha menahan haru jika mengenang masa kecilnya dengan ayahnya.
"Aku ingin kado yang istimewa di ulang tahun ku dari ayah."
****
Begitu polosnya langit malam ini, hanya bertemankan rembulan. Tak ada sedikitpun bintang yang menghiasi. Lain halnya dengan gadis cantik ini. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Matanya terpejam menikmati bau khas kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu pertumbuhannya. Kamar yang sangat luas untuk ditempati satu orang.
"Bagaimana keadaan di Roma, Kak?" Perempuan dengan rambutnya yang terurai menghentikan aksi Ify. Perempuan yang terlihat lebih muda beberapa tahun dari Ify, menjabat sebagai adik kandungnya.
"Baik." Ify tersenyum. Kini adiknya sudah tumbuh besar sama seperti dirinya. Waktu sungguh cepat berlalu. "Bagaimana dengan sekolah mu?" Lanjut Ify. Mendadak gadis cantik ini teringat akan kelulusan adiknya, karena seharusnya adiknya yang bernama Sivia itu sudah lulus tahun ini.
Sivia tersenyum penuh kemenangan. Senyum yang selalu membuat Ify berdecak. Perempuan yang satu ini selalu punya jiwa saing, batin Ify.
"AKU LULUS DENGAN NILAI TERBAIK SE-ISTANBUL!!" Sivia menjerit-jerit tak karuan. Suara lengking Sivia terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
"Astaga! Suaramu menggema di setiap sudut rumah."
Sivia terkekeh malu karena dirinya ibunya terganggu.
"Kemana ayah, bu?" Pertanyaan Ify menghentikan tawa Sivia, mau tak mau gadis berbehel itu mengalihkan pandangannya mengikuti pandangan Ify. Benar saja, ayah mereka sudah rapi dengan setelan jas kebanggaannya dan berjalan menuju lift.
"Ayah mu memang selalu mengecek beberapa file setiap jam segini ."
Ify tidak menyalahkan pekerjaan ayahnya. Dia sering melihat ayahnya seperti itu. Namun ada hal lain yang membuatnya tidak setuju jika ayahnya pergi malam ini juga.
Ify mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar, mencoba memastikan bahwa yang dilihatnya beberapa waktu yang lalu bukanlah ilusi semata. Langit mendung dan angin berhembus kencang.
"Cuacanya sedang buruk. Sebentar lagi akan hujan."
****
Cahaya matahari menembus ventilasi kamar. Mencoba mengintip siapa yang ada di dalamnya. Gadis berdagu tirus itu menyerah. Dia sudah tidak kuat dengan cahaya matahari yang menyilaukan mata. Ify menggeliat berusaha melenturkan otot-ototnya yang kaku. Badannya masih penat, namun matahari mampu mengalahkannya. Sebenarnya gadis itu sudah terjaga dari setengah jam yang lalu, hanya saja matanya sangat berat untuk terbuka.
"Pagi yang cerah!" Sapa Ify menantang matahari. Kebiasaan yang tak pernah hilang dari dulu.
KRING! KRING!
Ify sudah dihadiahi sebuah panggilan telepon rumah. Dengan langkah setengah berlari, gadis berdagu lancip itu mengangkat telepon.
"Halo. Dengan kediaman Denaizer disini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami dari kepolisian."
Ify terdiam. Berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Polisi? Untuk apa polisi menelpon pagi-pagi? Apakah Sivia membuat ulah lagi? Sekelebat pertanyaan muncul di otaknya. Adiknya itu memang hobi membuat masalah.
"Kami membawa kabar buruk. Saya harap keluarga Denaizer tabah menghadapinya."
Ify mengernyitkan keningnya. Tak ada sedikit pun kata terlontar dari bibir tipisnya. Ingin rasanya ia menutup telepon dan mengabaikan saja. Hanya saja ada sisi lain yang membuat Ify penasaran, kabar buruk apa yang dibahas polisi ini?
"Tuan Ahmed Denaizer ditemukan tewas tertembak pistol bersama seorang remaja di mobilnya."
Seketika itu, suasana haru biru menyelimuti gadis berdagu tirus itu.
*****
"Apakah benar dia tunangan mu?"
Pria bertubuh jangkung itu terdiam. Berita kematian tunangannya mampu menghentikan kerja syaraf otaknya. Hati kecilnya terus mematahkan bahwa semua ini hanyalah mimpi dan ketika dia terbangun semuanya akan lenyap dan kembali seperti semula. Dengan ragu, pria itu menyibak kain putih yang menutupi wajah gadisnya. Wajah yang membingkai indah setiap mimpinya.
Benar. Sangat benar. Yaa! Itu tunangannya. Perempuan yang bernama Acha Krysabel. Perempuan yang sudah lama mengisi kekosongan hatinya. Perempuan yang sudah ia tetapkan sebagai "yang terakhir" Perempuan yang dua hari lagi akan resmi menjabat sebagai tunangannya. Kenapa takdir cinta sepahit ini?
"Aku harap kau sabar menghadapinya Rio." Agni mengusap pelan bahu sahabatnya. Dia tahu betapa terpukulnya Rio. Kehilangan bukan hal yang mudah bukan?
Rio memeluk tubuh dingin Acha. Memperhatikan serinci mungkin wajah Acha agar ia tak akan melupakannya. Rio mengeluarkan sebuah benda dari kantung jaketnya. Benda yang sangat berharga baginya. Bahkan Rio tak rela meninggalkan benda itu sendirian. Tapi apa daya, kini benda itu hanya tinggal kenangan bahwa ia pernah akan bertunangan dengan seorang perempuan bernama Acha Krysabel. Rio memasukkan cincin pertunangannya ke jari manis Acha. Sedetik kemudian Rio tersenyum miris, andai saja ia diberi kesempatan melihat senyum Acha ketika ia menyematkan cincin itu.
****
Derap langkah terdengar menggema mewarnai suasana hitam putih rumah sakit. Sekumpulan manusia menangis karena kehilangan. Ify berada diantara mereka. Entah mengapa langkah kakinya terdengar begitu penasaran. Pikirannya bahkan kosong.
"Kau saja yang lihat Fy. Aku tidak tahan melihatnya."
Tak ada yang yakin jika Ify mendengar perkataan ibunya. Langkah kakinya terus menggema. Kontras dengan isi hatinya yang seakan berkata bahwa Ayahnya baik-baik saja.
"Apakah dia Ayah mu?"
Jemari mungil Ify mulai menelusuri kain putih itu. Dan kenyataan memang begitu menyakitkan untuk diterima. Semua keraguan yang melandanya kini sirna tanpa bekas. Apa mau dikata. Memang Ayahnya yang tengah terbujur kalu dihadapannya saat ini.
"Ya dia memang ayah ku." Ify menangis di tubuh ayahnya. Ify masih tidak terima dengan kepergian ayahnya.
"Maaf nona, kau bisa merusak bukti."
"AYAH KU KEDINGINAN DISINI"
Entah apa yang terpikirkan oleh gadis berambut ikal itu. Ia sangat takut jika dihadapkan kenyataan buruk ini.
"Nona Ify. Maaf sebelumnya. Polisi membutuhkan penjelasan mu."
*****
Wartawan masih setia dengan kamera mereka sambil berlari-lari kecil. Berusah mengejar objek untu meminta penjelasannya barang sepatah dua patah kata. Gadis berkaca mata hitam itu berjalan tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya yang hampir putus asa agar ia angkat bicara. Dibalik kaca mata hitam yang membingkai indah matanya, tersimpan gurat kesedihan yang begitu mendalam. Hatinya terus meracau agar orang-orang disekitarnya ini pergi dan tidak menambah keperihan di hatinya lagi. Kenapa mereka hanya mementingkan tugas mereka saja? Tak mengertikah mereka sakitnya ditinggalkan orang yang kita cintai dimalam kebahagian?
****
Ify takjub dengan semua ini. Ledakan yang sempat dikiranya bom, malah kini menjadi unsur ketakjubannya. Lihatlah! Potongan pita yang berkelap kelip jatuh mendarat di puncak kepalanya. Layaknya kupu-kupu yang baru saja mencapai tahap akhir metamorfosis. Ify sangat suka itu, terlebih lagi semua orang yang disayanginya telah berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Demi tuhan yah, Ify suka semuanya." Gadis berdagu tirus itu sama sekali tak merenggangkan pelukannya. Entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya tertahan dan ingin lebih lama lagi memeluk Ayahnya.
"Kau bilang kau sudah besar." Ayahnya tanpa ragu membalas pelukan Ify. Sebuah pelukan yang sangat dirindukan tentunya. Karena saat kau beranjak dewasa, kau tak bisa dengan bebas memeluk ayah mu. Entah mengapa ada benteng pembatas antara ayah dan anak. "Anak ayah..."
****
Kenangan manis tentang pesta ulang tahunnya terputar tanpa ada yang meminta. Ify masih kekeuh bahwa ayahnya belum meninggalkan dunia yang fana ini. Ia tak habis pikir bagaima mungkin ayahnya terbunuh karena tertembak pistol dan ditambah lagi dengan seorang gadis yang seumuran dengannya ikut terbunuh bersama ayahnya. Syok. Stres. Depresi. Mungkin hanya kata-kata itu yang bisa dideskripsikan dari gadis ini.
"Bisa kau katakan nona, bagaimana keadaan malam sebelum Tuan Denaizer meninggal?" Cakka -sang pengintograsi- mengajukan satu pertanyan.
"Saat itu.. Ayah ku mengadakan pesta menyambut kepulangan ku dan juga pesta ulang tahun ku. Tidak banyak yang diundang. Hanya keluarga, sahabat dan karyawan Denaizer holding. Usai pesta, aku kembali ke kamar ku. Dan kemudian adik dan ibu ku ikut bergabung. Aku melihat ayah menaiki lif sekitar jam 12 malam. Ibu bilang ayah memang selalu ke kantor jam segitu untuk memeriksa beberapa file. Setelah itu kami pergi tidur, dan aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya..." Ify menangis terisak. Sesak di dadanya tak mampu diluapkan. Cakka terus mengetik semua ucapan Ify. Tangannya terhenti ketika gadis itu menangis.
"Tenanglah nona."
"Aku bangun dan sudah mendapatkan kabar bahwa ayah ku sudah meninggal."
"Lalu, apa kau tau siapa gadis itu? Apakah kau mengenalnya? Namanya Acha Krysabel."
Ify menggeleng pelan. Jangankan mengenal gadis itu, kalau bukan karena pria ini mungkin ia tak pernah mendengar nama itu.
Merasa belum cukup untuk mendapatkan informasi, Cakka kembali melontarkan pertanyaan.
"Apakah Tuan Denaizer punya wanita simpanan? Apa nona punya hipotesis mengapa wanita itu bisa bersama Tuan Denaizer saat pembunuhan terjadi?"
Entah mengapa ucapan Cakka seakan sindiran telak untuknya. Hatinya yang begitu rapuh kini seperti terbakar batu bara yang begitu panas.
BRAAKK!
Siapapun disana pastinya akan terlonjak kaget. Ify memukul meja mengakibatkan suara hantaman yang terdengar begitu keras. Siapa yang menyangka jika gadis mungil ini kuat juga.
"Jaga bicara mu Pak Polisi! Aku baru saja kehilangan ayah ku dan kau bilang ayah ku punya wanita simpanan?! Dimana hati nurani mu?!"
Ify berdiri. Kilatan mata terpancar di matanya. Siapa anak di dunia ini yang ingin ayahnya direndahkan?
"Tenanglah nona!" Entah untuk ke berapa kalinya Cakka mengatakan kalimat yang sama. Namun setidaknya, usahanya sedikit berhasil. Ify kembali duduk. Tak ada gunanya bukan, jika ia membuat masalah dengan polisi?
"Coba nona ingat-ingat lagi." Sekarang gantian, Cakka yang berdiri. Entah mengapa pria dengan style harajukunya itu berjalan-jalan mengelilingi Ify sambil berpikir. Mata Ify bergerak mengikuti arah kaki Cakka, menunggu apa yang harus diingatnya. "Mungkin Tuan Denaizer penah mengatakan sesuatu tentang gadis itu atau bahkan tak sengaja menyebut nama gadis itu."
Ify bangkit dan menggeram kesal. "TIDAKKAH KAU MENGERTI, AKU BARU SAJA KEHILANGAN. AKU SAMA SEKALI TIDAK TAHU MENAHU TENTANG GADIS ITU. APAKAH KAU SUDAH PUAS?!!" Walaupun Ify berbicara dengan volume yang tak bisa dikatakan normal, tapi isak tangis terdengar jelas di sela-sela kata yang diucapkannya. Posisi mereka sama-sama berdiri. Ify sepertinya lebih suka marah sambil berdiri, mungkin dengan begitu ia bisa dengan bebas meluapkan amarahnya.
"Nona! Ini bukan masalah puas atau tidak puas. Kami sedang menyelidiki pembunuhan ayah nona. Maka dari itu kami butuh penjelasan yang lengkap." Sepertinya Cakka terpancing emosi. Kesabarannya benar-benar diuji hari ini.
"AKU YAKIN DIA BUKAN WANITA SIMPANAN AYAH KU. DIA HANYALAH GADIS MURAHAN YANG INGIN MEREBUT KEKAYAAN AYAH KU!"
BRAAKK!
Bukan. Bukan Ify yang melakukannya. Apalagi Cakka. Bahkan itu bukanlah pukulan meja melainkan dobrakan pintu. Dobrakan pintu dari seorang pria bernama Rio dan tentunya dengan seorang petugas yang berusaha menahannya dari belakang. "ACHA BUKAN GADIS MURAHAN!" Raut wajahnya sudah tak bisa dijelaskan.
Ify terdiam. Acha? Bukankan dia gadis yang dikatakan tadi? Lalu siapa siapa pria ini? Mengapa dia begitu marah? Apakah dia keluarganya. Batin Ify terus bertanya-tanya.
"Rio, keluarlah!"
Rio sama sekali tak bergeming dari posisinya. Ia menatap lekat-lekat gadis yang telah menghina tunangannya itu. Cakka menghela napas. Seharusnya dia yang paling marah karena menghadapi dua insan yang sama-sama tak bisa diajak kompromi.
"Kalian dengar semuanya!" Rio mengedarkan pandangannya ke arah Cakka dan Ify tak lupa pula petugas yang menahannya. "Aku akan membuktikan sendiri bahwa tunangan ku. Acha Krysabel. Bukan wanita simpan ayah mu atau pun gadis murahan." Telunjuk Rio tepat mengarah pada Ify. Hatinya sangat panas, bahkan untuk berpikir jernih sedikit saja. Rio keluar dari ruangan itu.
Ify terhenyak. Ia sangat merasa bersalah mengatakan hal itu kepada pemuda yang mengaku tunangan Acha. Ify menatap Cakka dalam. "Ini semua salah mu! Karena kau aku bicara kasar!"
****
Rumah dengan kayunya yang telah melapuk menjadi latar selanjutnya. Seorang wanita yang tentunya sudah tua karena rambut yang memutih terlihat sangat cemas. Dan ketika mendapati sang anak pulang dengan wajah kusut kian menambah kecemasannya.
"Bagaimana nak?" Tanya wanita tua itu sekedar memastikan bahwa dugaannya salah.
Rio terdiam. Dalam sekejap ia berlari memeluk ibunya. Tangis yang berusaha ia tahan sedari tadi, kini tumpah ruah dalam dekapan ibunya.
Ibunya mengusap punggung Rio pelan berusaha menenangkan anaknya. "Tabahkan hati mu nak!"
****
"Nona, ada yang ingin berjumpa dengan nona. Katanya ingin mengucapkan belasungkawa."
Lamunan Ify buyar seketika. Dengan terburu-buru jari lentiknya mengusap air mata yang membentuk sungai kecil di pipi.
"Ah.. Kau suruh masuk saja Hulliya."
"Baik nyonya."
Dua orang berpenampilan rapi muncul dari balik pintu. Ify menyipitkan matanya, berusaha mengingat siapa dua pemuda itu. Matanya benar-benar asing dengan mereka. Keheranannya kian bertambah ketika mendapati pria yang satu menjaga pintu masuk sementara pria kedua menghampirinya.
"Saya turut berduka cita atas kepergian Tuan Denaizer." Kata pria itu.
"Ya terima kasih!" Antara sadar dan tidak sadar Ify mengatakannya. Matanya terus meneliti lebih dalam pria yang dihadapannya melalui gerak gerik. "Apakah anda kesini hanya ingin mengucapkan terimakasih?" Entah mengapa firasat Ify mengatakan suatu hal yang buruk akan terjadi.
Pria itu duduk, menampakkan seringaian liciknya. Ia menarik kursi Ify agar lebih dekat dengannya menggunakan kaki. Ify yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba, terlonjak kaget. Pemuda itu mencengkeram dagu Ify dengan jarinya disertai tatapan membunuhnya. Mampu membuat gadis yang sangat tidak suka dagunya dipegang terdiam tak melawan. "Dimana berliannya?"
Ify mengernyitkan keningnya. Dia benar-benar tak mengerti arah pembicaraan pria ini. Apakah dia salah orang?
"Berlian apa?" Ify mulai berani menyuarakan suara.
Pria itu semakin mengeratkan tangannya. Membuat Ify sedikit meringis kesakitan. "Jangan pura-pura tidak tahu!"
"Aku memang tidak tahu." Suara Ify tidak begitu jelas terdengar mungkin karena efek cengkeraman pemuda itu.
"Kau harus menemukan berlian itu!" Ify mengangguk dengan cepat agar pria ini hilang dari hadapannya. "Waktunya sampai lusa. Jika kau tidak juga memberikan berlian itu, kau akan tahu akibatnya." Pria itu melepaskan cengkeramannya. Ify hanya diam berusaha meresapi apa yang baru saja didengarnya. Apakah 2 pria ini yang telah membunuh ayahnya hanya karena berlian? Siapa mereka? Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan satu kalimat saja.
"Jangan sampai ada yang tahu!" Pria itu berdiri meninggalkan ruang kerja Ify bersamaan dengan masuknya Ny.Zerin -Ibu Ify-
"Fy, siapa mereka?" Tanyanya.
"Teman Ayah bu. Mereka ingin mengucapkan belasungkawa."
Ify dengan cepat menyesap air putih yang ada di hadapannya. Berusaha menghilangkan kegugupan yang telah tercipta. "Ooh.. Tapi kenapa yang satunya berjaga di pintu."
Tak bisa dipungkiri tangan Ify bergetar kencang sehingga menjatuhkan gelas berisi air tersebut. Tentu saja itu membuat Ny. Zerin kaget. Ada apa dengan anak gadisnya?
"Kau baik-baik saja Fy?"
"Hmm,, aku baik bu."
****
Gadis dengan koper besar memeluk satu-satu orang-orang yang menyambutnya. Raut kerinduan terpampang nyata di wajah gadis itu. Dia tersenyum hangat.
"Fy, ada apa kau datang jauh-jauh dari Roma ke Istanbul?" Tanya wanita paruh baya yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa bahagia dengan kejutan yang didapatkannya.
"Why not? Turki adalah negara kelahiran ku." Wanita itu -Ify- berpura-pura kesal. Pertanyaan ibunya seakan tak ingin mengharapkan kedatangannya. Walaupun Ify tahu bahwa itu tidak benar.
"Tentunya juga untuk merayakan ulang tahun ku." Ulang tahun. Sesuatu yang selalu ditunggu-tunggunya. Sungguh, kehangatan keluarga membuatnya damai dari segala kesibukan yang menghimpit selama ini.
"Ooh, beberapa hari lagi kau akan dewasa." Pria dengan setelan jas yang rapi memasukkan tangannya ke dalam kantung celana. Meskipun rambutnya sudah memutih, namun karismatik yang ia miliki tak pernah pudar. Memimpin perusahaan terbesar di Istanbul, bukankan itu sesuatu yang 'Wah' ? Pria yang selalu suka membuat orang lain terkejut. Ify sangat menyayanginya. Gadis itu berusaha menahan haru jika mengenang masa kecilnya dengan ayahnya.
"Aku ingin kado yang istimewa di ulang tahun ku dari ayah."
****
Begitu polosnya langit malam ini, hanya bertemankan rembulan. Tak ada sedikitpun bintang yang menghiasi. Lain halnya dengan gadis cantik ini. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Matanya terpejam menikmati bau khas kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu pertumbuhannya. Kamar yang sangat luas untuk ditempati satu orang.
"Bagaimana keadaan di Roma, Kak?" Perempuan dengan rambutnya yang terurai menghentikan aksi Ify. Perempuan yang terlihat lebih muda beberapa tahun dari Ify, menjabat sebagai adik kandungnya.
"Baik." Ify tersenyum. Kini adiknya sudah tumbuh besar sama seperti dirinya. Waktu sungguh cepat berlalu. "Bagaimana dengan sekolah mu?" Lanjut Ify. Mendadak gadis cantik ini teringat akan kelulusan adiknya, karena seharusnya adiknya yang bernama Sivia itu sudah lulus tahun ini.
Sivia tersenyum penuh kemenangan. Senyum yang selalu membuat Ify berdecak. Perempuan yang satu ini selalu punya jiwa saing, batin Ify.
"AKU LULUS DENGAN NILAI TERBAIK SE-ISTANBUL!!" Sivia menjerit-jerit tak karuan. Suara lengking Sivia terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
"Astaga! Suaramu menggema di setiap sudut rumah."
Sivia terkekeh malu karena dirinya ibunya terganggu.
"Kemana ayah, bu?" Pertanyaan Ify menghentikan tawa Sivia, mau tak mau gadis berbehel itu mengalihkan pandangannya mengikuti pandangan Ify. Benar saja, ayah mereka sudah rapi dengan setelan jas kebanggaannya dan berjalan menuju lift.
"Ayah mu memang selalu mengecek beberapa file setiap jam segini ."
Ify tidak menyalahkan pekerjaan ayahnya. Dia sering melihat ayahnya seperti itu. Namun ada hal lain yang membuatnya tidak setuju jika ayahnya pergi malam ini juga.
Ify mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar, mencoba memastikan bahwa yang dilihatnya beberapa waktu yang lalu bukanlah ilusi semata. Langit mendung dan angin berhembus kencang.
"Cuacanya sedang buruk. Sebentar lagi akan hujan."
****
Cahaya matahari menembus ventilasi kamar. Mencoba mengintip siapa yang ada di dalamnya. Gadis berdagu tirus itu menyerah. Dia sudah tidak kuat dengan cahaya matahari yang menyilaukan mata. Ify menggeliat berusaha melenturkan otot-ototnya yang kaku. Badannya masih penat, namun matahari mampu mengalahkannya. Sebenarnya gadis itu sudah terjaga dari setengah jam yang lalu, hanya saja matanya sangat berat untuk terbuka.
"Pagi yang cerah!" Sapa Ify menantang matahari. Kebiasaan yang tak pernah hilang dari dulu.
KRING! KRING!
Ify sudah dihadiahi sebuah panggilan telepon rumah. Dengan langkah setengah berlari, gadis berdagu lancip itu mengangkat telepon.
"Halo. Dengan kediaman Denaizer disini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami dari kepolisian."
Ify terdiam. Berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Polisi? Untuk apa polisi menelpon pagi-pagi? Apakah Sivia membuat ulah lagi? Sekelebat pertanyaan muncul di otaknya. Adiknya itu memang hobi membuat masalah.
"Kami membawa kabar buruk. Saya harap keluarga Denaizer tabah menghadapinya."
Ify mengernyitkan keningnya. Tak ada sedikit pun kata terlontar dari bibir tipisnya. Ingin rasanya ia menutup telepon dan mengabaikan saja. Hanya saja ada sisi lain yang membuat Ify penasaran, kabar buruk apa yang dibahas polisi ini?
"Tuan Ahmed Denaizer ditemukan tewas tertembak pistol bersama seorang remaja di mobilnya."
Seketika itu, suasana haru biru menyelimuti gadis berdagu tirus itu.
*****
"Apakah benar dia tunangan mu?"
Pria bertubuh jangkung itu terdiam. Berita kematian tunangannya mampu menghentikan kerja syaraf otaknya. Hati kecilnya terus mematahkan bahwa semua ini hanyalah mimpi dan ketika dia terbangun semuanya akan lenyap dan kembali seperti semula. Dengan ragu, pria itu menyibak kain putih yang menutupi wajah gadisnya. Wajah yang membingkai indah setiap mimpinya.
Benar. Sangat benar. Yaa! Itu tunangannya. Perempuan yang bernama Acha Krysabel. Perempuan yang sudah lama mengisi kekosongan hatinya. Perempuan yang sudah ia tetapkan sebagai "yang terakhir" Perempuan yang dua hari lagi akan resmi menjabat sebagai tunangannya. Kenapa takdir cinta sepahit ini?
"Aku harap kau sabar menghadapinya Rio." Agni mengusap pelan bahu sahabatnya. Dia tahu betapa terpukulnya Rio. Kehilangan bukan hal yang mudah bukan?
Rio memeluk tubuh dingin Acha. Memperhatikan serinci mungkin wajah Acha agar ia tak akan melupakannya. Rio mengeluarkan sebuah benda dari kantung jaketnya. Benda yang sangat berharga baginya. Bahkan Rio tak rela meninggalkan benda itu sendirian. Tapi apa daya, kini benda itu hanya tinggal kenangan bahwa ia pernah akan bertunangan dengan seorang perempuan bernama Acha Krysabel. Rio memasukkan cincin pertunangannya ke jari manis Acha. Sedetik kemudian Rio tersenyum miris, andai saja ia diberi kesempatan melihat senyum Acha ketika ia menyematkan cincin itu.
****
Derap langkah terdengar menggema mewarnai suasana hitam putih rumah sakit. Sekumpulan manusia menangis karena kehilangan. Ify berada diantara mereka. Entah mengapa langkah kakinya terdengar begitu penasaran. Pikirannya bahkan kosong.
"Kau saja yang lihat Fy. Aku tidak tahan melihatnya."
Tak ada yang yakin jika Ify mendengar perkataan ibunya. Langkah kakinya terus menggema. Kontras dengan isi hatinya yang seakan berkata bahwa Ayahnya baik-baik saja.
"Apakah dia Ayah mu?"
Jemari mungil Ify mulai menelusuri kain putih itu. Dan kenyataan memang begitu menyakitkan untuk diterima. Semua keraguan yang melandanya kini sirna tanpa bekas. Apa mau dikata. Memang Ayahnya yang tengah terbujur kalu dihadapannya saat ini.
"Ya dia memang ayah ku." Ify menangis di tubuh ayahnya. Ify masih tidak terima dengan kepergian ayahnya.
"Maaf nona, kau bisa merusak bukti."
"AYAH KU KEDINGINAN DISINI"
Entah apa yang terpikirkan oleh gadis berambut ikal itu. Ia sangat takut jika dihadapkan kenyataan buruk ini.
"Nona Ify. Maaf sebelumnya. Polisi membutuhkan penjelasan mu."
*****
Wartawan masih setia dengan kamera mereka sambil berlari-lari kecil. Berusah mengejar objek untu meminta penjelasannya barang sepatah dua patah kata. Gadis berkaca mata hitam itu berjalan tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya yang hampir putus asa agar ia angkat bicara. Dibalik kaca mata hitam yang membingkai indah matanya, tersimpan gurat kesedihan yang begitu mendalam. Hatinya terus meracau agar orang-orang disekitarnya ini pergi dan tidak menambah keperihan di hatinya lagi. Kenapa mereka hanya mementingkan tugas mereka saja? Tak mengertikah mereka sakitnya ditinggalkan orang yang kita cintai dimalam kebahagian?
****
Ify takjub dengan semua ini. Ledakan yang sempat dikiranya bom, malah kini menjadi unsur ketakjubannya. Lihatlah! Potongan pita yang berkelap kelip jatuh mendarat di puncak kepalanya. Layaknya kupu-kupu yang baru saja mencapai tahap akhir metamorfosis. Ify sangat suka itu, terlebih lagi semua orang yang disayanginya telah berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Demi tuhan yah, Ify suka semuanya." Gadis berdagu tirus itu sama sekali tak merenggangkan pelukannya. Entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya tertahan dan ingin lebih lama lagi memeluk Ayahnya.
"Kau bilang kau sudah besar." Ayahnya tanpa ragu membalas pelukan Ify. Sebuah pelukan yang sangat dirindukan tentunya. Karena saat kau beranjak dewasa, kau tak bisa dengan bebas memeluk ayah mu. Entah mengapa ada benteng pembatas antara ayah dan anak. "Anak ayah..."
****
Kenangan manis tentang pesta ulang tahunnya terputar tanpa ada yang meminta. Ify masih kekeuh bahwa ayahnya belum meninggalkan dunia yang fana ini. Ia tak habis pikir bagaima mungkin ayahnya terbunuh karena tertembak pistol dan ditambah lagi dengan seorang gadis yang seumuran dengannya ikut terbunuh bersama ayahnya. Syok. Stres. Depresi. Mungkin hanya kata-kata itu yang bisa dideskripsikan dari gadis ini.
"Bisa kau katakan nona, bagaimana keadaan malam sebelum Tuan Denaizer meninggal?" Cakka -sang pengintograsi- mengajukan satu pertanyan.
"Saat itu.. Ayah ku mengadakan pesta menyambut kepulangan ku dan juga pesta ulang tahun ku. Tidak banyak yang diundang. Hanya keluarga, sahabat dan karyawan Denaizer holding. Usai pesta, aku kembali ke kamar ku. Dan kemudian adik dan ibu ku ikut bergabung. Aku melihat ayah menaiki lif sekitar jam 12 malam. Ibu bilang ayah memang selalu ke kantor jam segitu untuk memeriksa beberapa file. Setelah itu kami pergi tidur, dan aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya..." Ify menangis terisak. Sesak di dadanya tak mampu diluapkan. Cakka terus mengetik semua ucapan Ify. Tangannya terhenti ketika gadis itu menangis.
"Tenanglah nona."
"Aku bangun dan sudah mendapatkan kabar bahwa ayah ku sudah meninggal."
"Lalu, apa kau tau siapa gadis itu? Apakah kau mengenalnya? Namanya Acha Krysabel."
Ify menggeleng pelan. Jangankan mengenal gadis itu, kalau bukan karena pria ini mungkin ia tak pernah mendengar nama itu.
Merasa belum cukup untuk mendapatkan informasi, Cakka kembali melontarkan pertanyaan.
"Apakah Tuan Denaizer punya wanita simpanan? Apa nona punya hipotesis mengapa wanita itu bisa bersama Tuan Denaizer saat pembunuhan terjadi?"
Entah mengapa ucapan Cakka seakan sindiran telak untuknya. Hatinya yang begitu rapuh kini seperti terbakar batu bara yang begitu panas.
BRAAKK!
Siapapun disana pastinya akan terlonjak kaget. Ify memukul meja mengakibatkan suara hantaman yang terdengar begitu keras. Siapa yang menyangka jika gadis mungil ini kuat juga.
"Jaga bicara mu Pak Polisi! Aku baru saja kehilangan ayah ku dan kau bilang ayah ku punya wanita simpanan?! Dimana hati nurani mu?!"
Ify berdiri. Kilatan mata terpancar di matanya. Siapa anak di dunia ini yang ingin ayahnya direndahkan?
"Tenanglah nona!" Entah untuk ke berapa kalinya Cakka mengatakan kalimat yang sama. Namun setidaknya, usahanya sedikit berhasil. Ify kembali duduk. Tak ada gunanya bukan, jika ia membuat masalah dengan polisi?
"Coba nona ingat-ingat lagi." Sekarang gantian, Cakka yang berdiri. Entah mengapa pria dengan style harajukunya itu berjalan-jalan mengelilingi Ify sambil berpikir. Mata Ify bergerak mengikuti arah kaki Cakka, menunggu apa yang harus diingatnya. "Mungkin Tuan Denaizer penah mengatakan sesuatu tentang gadis itu atau bahkan tak sengaja menyebut nama gadis itu."
Ify bangkit dan menggeram kesal. "TIDAKKAH KAU MENGERTI, AKU BARU SAJA KEHILANGAN. AKU SAMA SEKALI TIDAK TAHU MENAHU TENTANG GADIS ITU. APAKAH KAU SUDAH PUAS?!!" Walaupun Ify berbicara dengan volume yang tak bisa dikatakan normal, tapi isak tangis terdengar jelas di sela-sela kata yang diucapkannya. Posisi mereka sama-sama berdiri. Ify sepertinya lebih suka marah sambil berdiri, mungkin dengan begitu ia bisa dengan bebas meluapkan amarahnya.
"Nona! Ini bukan masalah puas atau tidak puas. Kami sedang menyelidiki pembunuhan ayah nona. Maka dari itu kami butuh penjelasan yang lengkap." Sepertinya Cakka terpancing emosi. Kesabarannya benar-benar diuji hari ini.
"AKU YAKIN DIA BUKAN WANITA SIMPANAN AYAH KU. DIA HANYALAH GADIS MURAHAN YANG INGIN MEREBUT KEKAYAAN AYAH KU!"
BRAAKK!
Bukan. Bukan Ify yang melakukannya. Apalagi Cakka. Bahkan itu bukanlah pukulan meja melainkan dobrakan pintu. Dobrakan pintu dari seorang pria bernama Rio dan tentunya dengan seorang petugas yang berusaha menahannya dari belakang. "ACHA BUKAN GADIS MURAHAN!" Raut wajahnya sudah tak bisa dijelaskan.
Ify terdiam. Acha? Bukankan dia gadis yang dikatakan tadi? Lalu siapa siapa pria ini? Mengapa dia begitu marah? Apakah dia keluarganya. Batin Ify terus bertanya-tanya.
"Rio, keluarlah!"
Rio sama sekali tak bergeming dari posisinya. Ia menatap lekat-lekat gadis yang telah menghina tunangannya itu. Cakka menghela napas. Seharusnya dia yang paling marah karena menghadapi dua insan yang sama-sama tak bisa diajak kompromi.
"Kalian dengar semuanya!" Rio mengedarkan pandangannya ke arah Cakka dan Ify tak lupa pula petugas yang menahannya. "Aku akan membuktikan sendiri bahwa tunangan ku. Acha Krysabel. Bukan wanita simpan ayah mu atau pun gadis murahan." Telunjuk Rio tepat mengarah pada Ify. Hatinya sangat panas, bahkan untuk berpikir jernih sedikit saja. Rio keluar dari ruangan itu.
Ify terhenyak. Ia sangat merasa bersalah mengatakan hal itu kepada pemuda yang mengaku tunangan Acha. Ify menatap Cakka dalam. "Ini semua salah mu! Karena kau aku bicara kasar!"
****
Rumah dengan kayunya yang telah melapuk menjadi latar selanjutnya. Seorang wanita yang tentunya sudah tua karena rambut yang memutih terlihat sangat cemas. Dan ketika mendapati sang anak pulang dengan wajah kusut kian menambah kecemasannya.
"Bagaimana nak?" Tanya wanita tua itu sekedar memastikan bahwa dugaannya salah.
Rio terdiam. Dalam sekejap ia berlari memeluk ibunya. Tangis yang berusaha ia tahan sedari tadi, kini tumpah ruah dalam dekapan ibunya.
Ibunya mengusap punggung Rio pelan berusaha menenangkan anaknya. "Tabahkan hati mu nak!"
****
"Nona, ada yang ingin berjumpa dengan nona. Katanya ingin mengucapkan belasungkawa."
Lamunan Ify buyar seketika. Dengan terburu-buru jari lentiknya mengusap air mata yang membentuk sungai kecil di pipi.
"Ah.. Kau suruh masuk saja Hulliya."
"Baik nyonya."
Dua orang berpenampilan rapi muncul dari balik pintu. Ify menyipitkan matanya, berusaha mengingat siapa dua pemuda itu. Matanya benar-benar asing dengan mereka. Keheranannya kian bertambah ketika mendapati pria yang satu menjaga pintu masuk sementara pria kedua menghampirinya.
"Saya turut berduka cita atas kepergian Tuan Denaizer." Kata pria itu.
"Ya terima kasih!" Antara sadar dan tidak sadar Ify mengatakannya. Matanya terus meneliti lebih dalam pria yang dihadapannya melalui gerak gerik. "Apakah anda kesini hanya ingin mengucapkan terimakasih?" Entah mengapa firasat Ify mengatakan suatu hal yang buruk akan terjadi.
Pria itu duduk, menampakkan seringaian liciknya. Ia menarik kursi Ify agar lebih dekat dengannya menggunakan kaki. Ify yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba, terlonjak kaget. Pemuda itu mencengkeram dagu Ify dengan jarinya disertai tatapan membunuhnya. Mampu membuat gadis yang sangat tidak suka dagunya dipegang terdiam tak melawan. "Dimana berliannya?"
Ify mengernyitkan keningnya. Dia benar-benar tak mengerti arah pembicaraan pria ini. Apakah dia salah orang?
"Berlian apa?" Ify mulai berani menyuarakan suara.
Pria itu semakin mengeratkan tangannya. Membuat Ify sedikit meringis kesakitan. "Jangan pura-pura tidak tahu!"
"Aku memang tidak tahu." Suara Ify tidak begitu jelas terdengar mungkin karena efek cengkeraman pemuda itu.
"Kau harus menemukan berlian itu!" Ify mengangguk dengan cepat agar pria ini hilang dari hadapannya. "Waktunya sampai lusa. Jika kau tidak juga memberikan berlian itu, kau akan tahu akibatnya." Pria itu melepaskan cengkeramannya. Ify hanya diam berusaha meresapi apa yang baru saja didengarnya. Apakah 2 pria ini yang telah membunuh ayahnya hanya karena berlian? Siapa mereka? Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan satu kalimat saja.
"Jangan sampai ada yang tahu!" Pria itu berdiri meninggalkan ruang kerja Ify bersamaan dengan masuknya Ny.Zerin -Ibu Ify-
"Fy, siapa mereka?" Tanyanya.
"Teman Ayah bu. Mereka ingin mengucapkan belasungkawa."
Ify dengan cepat menyesap air putih yang ada di hadapannya. Berusaha menghilangkan kegugupan yang telah tercipta. "Ooh.. Tapi kenapa yang satunya berjaga di pintu."
Tak bisa dipungkiri tangan Ify bergetar kencang sehingga menjatuhkan gelas berisi air tersebut. Tentu saja itu membuat Ny. Zerin kaget. Ada apa dengan anak gadisnya?
"Kau baik-baik saja Fy?"
"Hmm,, aku baik bu."
~~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar