BELIEVE IN LOVE
---Dilarang Keras Mengcopy Paste-----
Gadis berdagu lancip itu mulai menutup lembaran terakhir buku
diarynya. Menatap lirih pemuda hitam manis dengan gitar coklat sedang tersenyum
dalam foto. Tangannya membelai lembut foto tersebut. Mengingat dan membingkai
setiap lekukan wajah kokoh itu dalam memori. Angannya melayang membayangkan
jika pria hitam manis itu miliknya. Jari lentiknya tersentak saat mendapati
benda di leher pemuda tersebut. Benda yang menjadi salah satu dari banyak
unsure tembok tinggi penghalang cinta mereka. Membuat gadis berdagu lancip itu
mengubur dalam-dalam mimpinya. Kalung salip.
“Andai waktu dapat diputar, andai mesin waktu itu ada,aku tak
akan pernah memilih untuk mencintai mu. Tapi kenapa takdir mempertemukan kita
dalam bayang cinta namun tidak memberi kesempatan untuk kita bersatu?’
Mata beningnya terus mengeluarkan air mata tiada henti. Tidak
peduli akan resikonya, tidak peduli akan matanya yang tanpak lelah memproduksi
Kristal bening. Karena rasa itu selalu bergemuruh, meneriakkan semangat,
meneriakkan bahwa cinta perlu diperjuangkan.
******
“Fy, kak Rio!” Desis Sivia pelan sambil mengedipkan matanya.
Bertindak senormal mungkin, agar pria yangdisebut namanya tidak menyadari hal
itu.
Ify sudah merasakan kehadiran Rio. Cinta itu begitu kental.
Seakan pemilik cinta adalah dua kutub magnet yang berbeda, akan saling tarik
menarik jika didekatkan.
Bola mata indah itu menatap sengit pemilik mata elang yang
hanya berjarak tiga meter. Sesuai dengan namanya, elang tidak akan mau begitu
sajakan melepas mangsanya?. Sempat terjadi adu tatapan antara dua makhluk yang
sedang dilanda pahitnya cinta. Tangan keduanya mengepal dengan kuat, rahang mereka
mengetat, dan sungguh tatapan itulah yang mematikan. Karena disana kau tidak
dapat berbohong, disana kau tidak bisa bilang benci dia tapi tak bisa tidur
karenanya. Dan karena mata adalah refleksi hati.
Si pelaku pasif –Sivia- hanya membiarkan dua insane itu
melepaskan kerinduan dengan cara mereka sendiri yang jujur Sivia akui
membuatnya bergidik ngeri. Tangannya tak henti memperbaiki kerudung putih yang
sebenarnya sudah rapi tanpa sentuhan lembut Sivia. Dia benar-benar risih akan
adegan yang menurutnya sudah diluar batas.
“Ekhem” Sivia berdehem kecil memecah keheningan. “Jangan pake
bahasa isyarat!’ Sivia tersenyum menggoda Ify dan Rio. Mengingatkan pada
sahabat kecilnya bahwa yang dilakukannya adalah larangan Allah.
Ify mengerti akan
kegelisahan Sivia. Sungguh, dia hanya lepas kendali. “Ayo kita balik!” Seakan
ucapan Ify adah perintah besar, Sivia dengan sigap menggandeng tangan Ify dan
menjauhkannya dari Rio. Sivia hanya tak ingin melihat Ify semakin lama bertemu
dengan Rio, ia takut Ify tersiksa.
“Fy, kamu harus selesaikan semuanya.” Sivia tersenyum lembut
sambil menggosok-gosok pelan bahu Ify. Menyalurkan sedikit kekuatan yang
dimilikinya. “Kamu harus selesaikan sama kak Rio. Bilang kalau semuanya udah
berakhir. Kalian berbeda dan selamanya kalian tak bisa bersatu.Kamu harus
lanjutin hidup kamu Fy.” Tatapan menyejukkan Sivia membuat Ify tergoda. Namun,
lagi-lagi rasa itu meneriakkannya dan kini bahkan lebih besar untuk menyalahkan
ucapan Sivia. Memilih antara dua pilihan yang sama-sama baik, bukankah itu sulit?
“Aku gak tau Vi.” Ify menjawab pasrah. Otaknya membenarkan
seluruh ucapan Via, tapi tidak untuk hatinya. Perasaan itu bergemuruh memaki
Sivia.
*******
“Nanti ada tamu special.” Mama Ify mengerling nakal pada Ify.
Memberi kode pada papa Ify sambil tersenyum aneh.
Ify mengerutkan kening, tidak biasanya kedua orang tuanya
bertingkah seperti dua remaja seumuran dengan Ify.
TING TONG!
Suara bel memecah keheningan. Mama Ify semakin tersenyum aneh.
Dan entah mengapa Ify menjadi gelisah
“Tamu specialnya sudah datang.
Dibalik pintu muncul seorang pria yang sangat asing bagi Ify,
tersenyum manis padanya. Mungkin seumuran dengan Ify atau 3 tahun lebih tua
dari nya. Pria dengan penampilan yangtidak jauh beda dengan papa Ify. Memakai
baju muslim dan sebuah peci tersemat di kepalanya. Jantung Ify memompa dengan
cepat. Ia menatap dalam pria itu, entah mengapa Ify yakin pria itu akan jadi
masalah baru dalam hidupnya. Ify menghela napas. Ayolah, satu masalah saja
belum selesai!
*******
Ify menangis dibalik selimut tebal. Waktu sudah menunjukkan
dini hari, tetapi mata cantiknya tetap tak bisa terpejam. Ia terus berharap
bahwa yang dialaminya hanyalah ilusi semata. Semakin kuat ia menentang, semakin
jelas terlihat bahwa ini adalah kenyataan. Dan dengan berat hati, Ify harus mengakuinya.
Perjodohan? Ia akan dijodohkan dengan seorang pria yang sama sekali tak pernah
dikenalnya apalagi sampai menaruh hati pada pria itu. Pria itu lulusan kairo?
Peduli apa Ify. Ia punya banyak cabang perusahan? Ify tidak gila harta. Mereka
akan dinikahkan dalam waktu dekat? Bencana besar akan terjadi begitulah yang
terlintas diotak gadis cantik ini. Ingin rasanya ia amnesia pada saat itu juga.
Melupakan cinta tanpa kepastiannya dengan Rio dan siap membina rumah tangga
dengan pria yang kalau Ify tidak salah dengar namanya Cakka. Ya, Cakka Kawekas
Nuraga. Sebuah nama yang indah.
*******
Langkah kakinya terhenti karena kini ada sepasang kaki yang
menghalanginya. Ia mendongak untuk mengetahui siapa yang telah menghadangnya.
Seketika napasnya tercekat saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya. Pria
yang sama sekali tak pernah Ify harapkan kehadirannya. Tapi cinta, lagi-lagi
cinta yang menuntun mereka untuk bertemu.
“Kenapa kamu ngehindar dari aku?” Rio sudah membulatkan
tekadnya untuk bicara terang-terangan pada Ify. Karena sejak kejadian tempo lalu,
Ify tak penah lagi berkomunikasi dengannya bahkan menjauhinya. Kejadian yang
seharusnya Rio lah yang marah, Rio lah yang menghindar. Justru si gadis berdagu
tirus itu malah menghindar darinya. Bukankah perempuan begitu? Tidak mau
disalahkan. Rio diusir secara tidak terhormat dari kediaman Ify, karena
dianggap membawa pengaruh negative untuk Ify. Alhasil Ify dan Rio tidak tidur
semalaman.
Ify menghela napas. Memenuhi rongga dadanya dengan oksigen
pagi yang segar dan belum terkontaminasi dengan karbonmanoksida atau zat kimia
sejenisnya. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding. Mempersiapkan diri untuk
bertindak sesuai saran Sivia. Rio hanya diam menunggu jawaban dari bibir gadis
mungil ini.
“Kita udahan aja yah kak!” Ify menatap penuh harapan pada Rio.
Ia sangat berharap Rio menyetujuinya atau bahkan hanya sekedar anggukan, Ify
sangat berharap itu. Sungguh, Ify tak ingin mengatakannya. Rio hanya dian
menatap lurus dan itu cukup membuat Ify tertekan. Karena sedihnya Rio adalah
sedihnya juga. Melihat tak ada tanggapan dari Rio, Ify mulai melanjutkannya. “
Dari segi kepercayaan aja kita beda kak. Gimana kita bisa bersatu? Bukankah
cinta butuh kepercayaan? Orang tua kita juga tidak merestuinya. Dan bukanah
restu orang tua adalah hal yang sangat mujarab? Aku harap kakak ngerti.” Dengan
sekuat tenaga, Ify menahan air matanya yang entah mengapa belakangan ini sangat
mudah meleleh membanjiri pipi mulusnya. Setiap jenis tulangnya bergetar
membuktikan bahwa mereka tidak terima. Tapi, apa boleh buat? Siap tidak siap
tetap harus siap.
Rio mengetatkan rahangnya. Semua jarinya ia kepalkan. Hanya
dengan cara inilah yang ia lakukan untuk menutupi kerapuhannya, menutupi betapa
remuk hatinya saat ini. Rio tak terima, tapi ia juga tidak bisa mengelak. Yang
Ify katakan seluruhnya adalah benar. Mereka tidak akan bisa bersatu sampai
kapan pun.
Rio memejamkan matanya. Berpikir matang-matang akan
pilihannya. Sudah saatnya ia harus melepaskan Ify. Semuanya hanya percuma jika
pada akhirnya mereka tidak bisa menerima keputusan. Cinta mereka hanyalah
imajinasi dan akan selalu begitu.
Rio mengangguk sambil tersenyum. Ada sedikit kelegaan diantara
keduanya. Rio bisa merasakan senyum hangat di wajah Ify. Senyuman yang sangat
dirindukannya.
“Tapi, nanti kamu datang ke taman jam 4!” Lanjut Rio masih
dengan senyum manisnya. Ify mengkerutkan keningnya. Rio selalu bisa mengubah
keadaan. “Kita cuma jalan-jalan kok.” Seakan mempunyai kemampuan telepati, Rio
tau apa yang dipikirkan Ify. Belum sempat Ify mengiyakan, Rio sudah menghilang
daari hadapan Ify.
*****
“Kamu udah baikan sama kak Rio?” Sivia tak sengaja melihat Rio
dan Ify. Ada kebahagiaan didalam dadanya. Namun tak bisa dipungkiri, ia cukup
khawagtir dengan keadaan ini. Ify bukanlah Sivia yang tahan banting akan
cobaan. Ify hanyalah gadis lemah yang akan menangis jika semua berjalan diluar
rencananya.
“Udah.” Ify menjawab dengan antusias. ‘Kak Rio juga ngajakin
aku ke taman jam 4.” Masih dengan senyum bahagianya, Ify berbicara hangat.
Seakan masalah yang dihadangnya sudah selesai.
“Ooh..” Sivia meng-oo kan mulutnya. Sekedar tak ingin merusak
kebahagiaan sahabatnya. Dia tak ingin melihat sahabatnya kembali meneteskan air
mata.
Ify membuka diary pink miiknya. Tangan mungilnya dengan lihai
membuka kunci buku diary. Ia ingin mencurahkan pada teman curhat kedua setelah
Sivia, mencurahkan betapa bahagianya ia hari ini. ‘Ada yang kurang’ Batin Ify.
Ify lupa menulis cerita perjodohannya. Perjodohan itu membuat selera menulisnya
menurun. Ify kembali menutup buku diarynya. Mendaak Ify tak selera hidup.
“Kenapa?” Tanya Sivia.
Ify menghela napas kasar. Ia tak suka dijodohkan. Dipaksa
menikah dengan seorang yang sama sekali tak pernah kita harapkan kehadirannya,
bukankah itu sebuah penderitaan?
“Aku bakalan nikah dalam waktu dekat sama orang pilihan papa
dan mama.” Ify benar-benar pasrah kali ini. Ia sama skali tak keberatan dengan
permintaan Rio. Karena mungkin itu akan jadi terakhir kalinya dia melihat
senyuman manis milik pemuda mata elangnya.
Sivia tersenyum hambar. Merasa prihatin dengan nasib
sahabatnya. Ia juga tak bisa apa-apa jika berada di posisi Ify. Sivia merasa
tak da gunanya ia menjadi, bahka ia tak bisa meringankan sedikit beban Ify.
‘Sabar Fy. Allah gak bakalan ngasih cobaan yang gak bisa kamu lewati. Believe
in your heart!”
********
Masih dapat terasa dengan jelas, aroma khas dari tangisan
awan. Embun bergelayut manja di bunga dandelion, menggoda setiap makhluk untuk
memetiknya. Kupu-kupu terbang bebas seakan tak punya masalah. Ribuan atau
bahkan jutaan semut merah kembali melanjutkan tugasnya. Berbeda sekali dengan
perasaan pemuda hitam manis ini. Badannya sudah basah kuyup terkena siraman
hujan.Tak ada perasaan kedinginan terlintas dibenaknya. Hanya ada rasa khawatir
menunggu sang gadis pujaan menepati janji. Tangannya menggenggam erat benda
dalam genggamanya, seakan tak ingin benda tersebut lepas dari hadapannya.
“Kak Rio..” Sapa seorang gadis dengan lembut.
Mendengar namanya disebut, hati pemuda ini mendadak cerah.
Pikirannya kembali jernih setelah dipaksa untu bersabar menunggu gadis pujaan.
Dan perasaan itu kembali hancur lebur saat mengetahui bukan Ify yang
memanggilnya.
“Kak Rio ngapain basah kuyup disini?” Tanya Sivia heran. Ia
bingung dengan tingkah kakak kelasnya yang kekanak-kanakan. Padahal, umurnya
lebih tua dari Sivia. Sesaat terlintas kenyataan bahwa Rio habis bermain hujan
di otaknya.Sivia menghapuskan pikiran itu jauh-jauh, membuang hipotesis
konyolnya.
“Lagi nungguin Ify.” Rio kembali menyandarkan punggungnya. Ia
merasa putus asa dan sia-sia telah menunggu sesuatu yang tidak pasti. Meskipun
begitu, tangannya tak henti menggenggam erat benda itu.
Sivia teringat akan Ify, teringat akan perjodohan Ify. Sivia
harus kasih tahu kak Rio, begitulah yang terlintas di hati kecilnya. Ia tak
ingin Rio menanti hal yang sia-sia. Berita perjodohan Ify tentu akan membuat
Rio mengalah dan pergi meninggalkan Ify.
“Ify akan nikah dalam waktu dekat, kak.” Sivia berbicara
dengan nada yang sangat bergetar. Ia tak ingin menyakiti perasaan Rio, Ia hanya
tak ingin Rio terjebak dalam cinta butanya. Ia ingin menunjukkan pada Rio bahwa
ia sedang salah arah.
Bagai dihantam ribuan karang, disayap dengan pisau tumpul,
disengat ribuan lebah, begitulah yang dirasakan Rio. Benda yang digenggamnya dengan
erat jatuh seakan tak ada sedikit pun tenaga yang menyangganya. Hal itu cukup
membuktikan pada Sivia, bahwa pemuda dengan mata elang itu sedang rapuh.
Menunjukka pada dunia bahwa ia benar-benar tak berdaya. Sivia merutuki
ucapannya Ia tak pantas dan tidak memiliki hak untuk mengatakannya. Sivia
menunduk dalam, membayangkan bagaimana ekspresi Ify yang sangat kecewa padanya.
********
Senja sudah berganti menjadi malam seutuhnya. Gadis dengan
dagu tirusnya masih senantiasa di depan meja rias. Memperhatikan secara seksama
bayangan dari wajahnya. Memperhatikan betapa tak berdayanya ia untuk
mempertahankan cintanya. Ify sangat ingin menemui Rio, mencurahkan betapa berat
beban yang sedang dihadapinya. Membagi sedikit keresahan, agar tidurnya lebih
nyenyak. Tak bisa dipungkiri, orang tuanya mengetahui semua itu.
Lamunan Ify buyar seketika saat mengetahui ada yang mengetuk
jedela kamarnya. Kamarnya berada di lantai dua, bukan orang isen yang akan
rela-rela memanjad lantai dua. Pikiran buruk mejalar diseluruh sel otaknya.
Namun, rasa penasaran mengalahkan semuanya.
“Kak Rio!” Ucap Ify tertahan. Ia benar-benar tak menyangka
dengan apa yang ada dihadapannya. Seorang pemuda yang sangat menjaga image nya
bertindak seperti perampok dan itu dilakukannya demi seorang Ify.
“Kamu tadi kok gak datang?’ Rio berbicara hangat seolah-olah
dia baik-baik saja. Ify hanya menunuk dalam, tak sanggup menatap mata elang
pemuda hitam manis tersebut. ‘Kamu bentar lagi mau nikah ya?” Tanya Rio dengan
tawa riangnya yang lebih tepat untuk menertawakan betapa bodohnya ia. Ify
berusaha menahan tangisnya, membuktikan pada pria hitam manis ini bahwa ia
sangat bahagia dengan apa yang dijalaninya. “Semoga kalian berbahagia.” Rio
tersenyum hanya menunjukkan bahwa ia tidak keberatan dengan pilihan gadisnya.
“Selamanya..”
Rio berbalik badan membelakangi Ify. Meninggalkan ruangan yang
menjadi saksi bisu bahwa seorang Mario Stevano Aditya Haling adalah pengem is
cinta. Kini mata elang itu sudah tak kuat lagi menampung beban . Air mata itu
benar-benar menetes di wajah kokoh pemiliknya. Cinta bahkan mampu membuat
seorang berhati batu terlihat lemah di depan orang disayanginya.
“Kak!” Cegah Ify sebelum Ro menghilang dari hadapannya. “Tapi
aku cintanya sama kakak.” Suara yang terdengar sangat lirih, karena pemiliknya
sudah merasa tak berhak mengatakan itu. Rio tersenyum dibalik tangisnya,
tersenyum karena menyadari bahwa gadis yang dipujanya maih memiliki perasaan
yang sama dengannya. Ia bahagia bahwa hati sang gadis masih untuknya.
“Kamu bicara sama siapa Fy?” Tanya mama Ify disebrang pintu
kamar Ify disertai dengan ketukan yang terdengar sangat penasaran.
Jantung keduanya memompa dengan sangat cepat. Ify mendorong
tubuh tegap Rio agar keluar dari kamarnya. “CEPAT PERGI KAK!” Merasa dongkol
dengan Rio tak beranjak dan ketukan Ibunya yang kian terdengar keras.
Bukannya beranjak pergi, justru Rio menghadap Ify dan memperhatikan
wajah cantik milik gadisnya. Membingkai dalam ingatan agar ia tidak lupa dengan
setiap lekukan wajah Ify. Jari jemari Rio bergerak perlahan menyusuri tangan
Ify. Menggenggam hangat tangan mungil yang mungkin ukuranya hanya 2/3
tangannya.
“Believe in me.. Believe in us.. and Believe in love” Kalimat
terakhir yang diucapkan Rio sebelum menghilang dari hadapan Ify. Ify hanya diam
mematung. Ucapan terakhir Rio sungguh membuat dadanya sesak. Dan air mata
kembali menetes tanpa perlu ditahan. Pintu kamar Ify terbuka dan mamanya sudah
berdiri menjulang disana. Menatap bingung apa yang terjdi dengan anak
satu-satunya. Ify berhamburan memeluk mamanya. Mengeluarkan semua keluh
kesahnya pada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya. Memeluk erat agar
beban itu tak akan lagi bersemayam dalam ingatan. Serumit ini kah coban Tuhan? Sungguh
Ify ingin berteriak sekeras yang ia bisa, memberitahu pada alam bahwa ia tidak
takut dengan masalah yang membungkusnya. Hati mamanya tersentuh melihat betapa hebatnya
anak nya saat ini. Membelai dengan lembut rambut Ify. Berusaha menenangkan
anaknya. Berusaha meyakinkan gadis kecilnya bahwa Tuhan itu Mahaadil.
Rio menangis dengan memeluk lututnya. Melepas semua yang
dirasakan melalu air mata. Hanya itu yang bisa ia lakukan.Dan satu lagi yang
bisa ia perjuangkan demi cinta ia dan gadisnya… ‘Keyakinan’
Ini bukanlah cerita Romeo dan Juliet yang rela mati demi cinta
mereka, bukan pula sebuah cerita cinta yang memiliki akhir bahagia ataupun
akhir yang sedih. Ini hanyalah sebuah cerita seonggok manusia yang yakin akan
keyakinan cintanya, yakin bahwa cinta bisa melenyapkan kemustahilan. Ya! Ini
hanyalah cerita sebuah keyakinan.