RUANG DAN WAKTU
-------------------------------DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE-------------------------------
Saat bibir tak mampu lagi
bertutur. Saat kelenjar terbesar dalam tubuh tak mampu lagi menampung beban. Saat
kepala tak mampu lagi mencerna. Dan masih banyak saat-saat yang lain dimana
hanyalah mata yang berperan ketika tetes demi tetes terjun bebas membanjiri
asa. Ketahuilah semua akan indah pada waktunya.
****
Rambut indah yang bergelombang
itu kini hanya tampak seperti gulungan benang hitam, karena pemiliknya dengan
sadis menjadikan landasan air yang terjun curam membasahi tubuh. Gurat
kesedihan tercetak pada wajahnya yang selalu menampilkan keceriaan. Bibir yang
memutih mampu terkalahkan dengan rasa panas menyelimuti jiwa.
Keluarga. Satu kata yang mungkin
tidak selalu kau lafalkan setiap harinya. Satu kata yang mungkin tak pernah kau
ucapkan secara lisan bahwa kau menyayangi atau bahkan mencintainya. Karena
semua itu tidak perlu.Karena keluarga terukir manis dalam sanubari tanpa perlu
diungkapkan.
Apa arti keluarga untuk mu? Tanpa
mereka, mungkin kau tidak akan melihat betapa indahnya ciptaan sang kuasa.
Tanpa mereka, mungkin kau tidak bisa berdiri menapaki bumi sambil menantang
matahari. Tapi bagaimana jika suatu yang sangat berharga dan utama itu, rusak,
dan kau tidak tahu apa penyebabnya?
Perceraian. Satu kata yang juga
jarang terlontar dari bibir dan tak pernah pula singgah di otak. Namun
bagaimana jika kata yang selalu terabaikan itu menyelinap masuk ke setiap
aliran tubuh? Kata yang akan melekat abadi menjadi bagian kehidupan. Keluarga
yang selalu tampak utuh, namun kini terpecah. Lalu, apa keharmonisan yang
tercipta selama ini? Apakah semua hanya topeng?
“Gue benci semuanya!”
****
“Satu kelas heboh gara-gara lo
gak masuk kelas.” Pemuda itu –Gabriel- memecah keheningan.Ia menatap penuh
kagum pada semua lukisan di kamar sahabatnya. Walaupun banyak dari lukisan itu
yang Iel tak mengerti karena hanya berupa perpaduan antara garis horizontal dan
vertikal, namun ada sensasi damai menyapu matanya.
Agni, gadis yang jadi lawan
bicara Iel hanya diam tanpa ekspresi. Tak ada niat untuk mengucap sepatah kata
atau setidaknya merespon dengan bahasa tubuh.
“Ini semua lukisan lo? Keren
banget!” Iel memiringkan kepalanya menunjuk semua lukisan yang sejak tadi
menyita perhatiannya. Sekelabat pertanyaan memenuhi kepalanya. Bahkan pria
jangkung itu sempat berpikir bahwa Agni sudah salah minum obat.
Agni mengangguk. Bibirnya sulit
sekali terangkat barang tersenyum sekali pun. Iel bahkan tak melihat raut
over-PD yang selalu tergambar di setiap perkataan Agni. Tapi tak bisakah gadis
itu sedikit membuat lelucon, agar tak hanya dirinya saja yang kelihatan
bersemangat?
“Orang tua lo mana? Kok sepi?”
Kembali mengulangi hal yang sama, Iel mencari pertanyaan yang sekiranya dijawab
dengan lisan.
Agni menunduk dalam. Ucapan
Gabriel seakan hantaman baginya yang sejak tadi berusaha dihindari. Di matanya
masih tersimpan dengan jelas peristiwa bersejarah yang mungkin tak perlu repot-repot
baginya untuk menghapal tanggal kejadian. Peristiwa dimana ia dengan senyum
polosnya tidak sabar bertemu dengan sang Ayah. Dimana ia disambut kedua orang
tuanya tak kalah pula dengan wajah tanpa dosa mereka. Dimana kedua orang tuanya
dengan tenang mengatakan bahwa mereka telah resmi berpisah. Ingin sekali gadis
dengan watak periang itu terbangun dari tidur panjangnya.
“Gue capek Iel. Mau istirahat.”
Agni menarik selimut Angry Birdnya dan sengaja menutupi seluruh tubuh. Agar ia
dengan leluasa menangis melepaskan beban hidup.
Iel terhenyak. Ini bukan lah Agni
yang dikenalnya. Seberapa kesalnya gadis itu kepadanya, tak pernah Iel melihat
Agni sedingin ini. Mau tidak mau pria jangkung itu melangkahkan kakinya
menjauhi Agni, sang gadis yang entah sejak kapan memenuhi ruang kosong hatinya.
“Get well soon Ag!”
****
Sakit. Perih. Sesak. Semua
bercampur aduk membuat siapa pun penderitanya mual. Tiga hari berlalu dan tak
ada yang dapat mengobati luka mendalam gadis ini. Agni menggigit jarinya. Suatu
kebiasaan buruk yang selalu dilakukannya untuk menutupi kerapuhan. Tentunya
dalam dekapan Iel.
Iel bisa merasakan betapa
hangatnya nafas Agni. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat pria ini bisa
merasakan setiap kesulitan yang sedang dialami Agni. Wajah Agni yang memar
karena bekas tamparan ayahnya sungguh membuat Iel meringis. Hatinya kian remuk
saat mengetahui bahwa dirinya masih berstatuskan tokoh polos dan sama sekali
tidak tahu apa yang terjadi pada gadis pujaannya.
“Bisa lo jelasin ke gue
sebenarnya ada apa?” Tanya Iel sambil tersenyum. Kedua bola matanya tak sedikit
pun beranjak dari wajah cantik Agni. Demi Tuhan dia tidak tau, sejak kapan rasa
itu muncul. Tapi biarlah mengalah, biarkan dia mengalah dengan sang pedang. Biarkan
sepotong hati tulusnya mengalah dengan ruang dan waktu. Because true space without true
time, just in vain.
“Everything has changed. Gue gak
penah nyangka kalau gue bakalan masuk
dibagian deretan anak korban broken home. Jauh lebih sakit dari yang gue
bayangin. Mereka bukan lagi 2 orang anak remaja yang dengan gampangnya
memutuskan semua sudah berakhir. Disini ada gue, ada gue yang gak tau harus
gimana, ada gue yang bahkan takut dengan kenyataan.”
Agni menyeka air mata yang memenuhi
pelupuk matanya. Gadis berponi sealis itu menyandarkan kepalanya ke bahu
Gabriel. Tidak tahu jika pemuda yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu
menahan napas. Entahlah, Gabriel seperti merasakan setruman kecil di tubuhnya.
Tidak ada yang salah. Hanya saja cinta telah mengubah semuanya. “Jika memang
ini nyatanya, salahkah jika aku minta agar Tuhan memberi mimpi yang lebih baik
dari realita hidup ku? Aku rela meskipun tidur panjang untuk mimpi yang indah.”
Iel terdiam. Dia tidak tahu jika
pujaannya sedang terluka. Kenapa gadis periang itu merahasiakan ini darinya?
Sebegitu tidak pentingkah ia dari kehidupan Agni? Perlahan, pelukan Iel
merenggang.
“Jangan lepaskan!” Agni merangkul tangan
Gabriel. Mendekatkan tubuhnya kepada pemuda jangkung itu. Dia tidak tahu apa
yang sedang dilakukannya. Tapi entah mengapa setiap mendengar jantung Gabriel
berdetak ada susunan nada harmonis memenuhi gendang telinganya. Dan seketika
itu juga, ia dapat memejam mata dengan melupakan beban masalah. “Gue gak yakin
jika nanti gue bisa ngejalanin ini semua. Tapi ketahuilah, detak jantung lo
buat gue hidup kembali.”
****
“Ag, bintang itu indah ya..” Iel
mengadahkan kepalanya menghadap langit. Tidak tahu kenapa pria itu mendadak
menyukai bintang. Tangannya masih setia memetik asal senar gitar tanpa menekan
chord mana pun.
“Oh
ya?
Tapi menurut gue, bulan lebih indah.” Jawab Agni sambil menuangkan teh hangat
ke cangkir Iel. Aroma teh hijau menyeruak masuk kedalam paru-parunya, seakan
memberikan jalan agar sesak di dadanya hilang. Gadis itu melongok melihat
langit yang sepenuhnya telah berubah menjadi kelam. Ia melirik Iel yang
ikut-ikutan menatap bulan yang sama. Agni tersenyum.
“Bagusan juga bintang kemana-mana
Ag. Bintang itu kaya permata. Bintang juga sulit ditebak, buktinya gak ada yang
tau pasti berapa jumlah bintang kan?” Balas Iel dengan bermacam argumennya.
Pemuda hitam manis itu menatap dengan teliti wajah Agni saat tersenyum ditambah
lagi terpaan angin yang mengenai anak rambut Agni. Tanpa sadar bibir tipisnya ikut
melengkung.
“Itulah sebabnya mengapa pria
cendrung menilai sesuatu dengan fisik atau berpikir secara logika.” Agni
menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Iel. “Memang bintang jauh lebih indah
dibandingkan bulan. Tapi perempuan lebih suka sesuatu yang bermakna khias. Saat
gue melihat bulan, saat itu juga ada milyaran manusia di dunia memandang buan
yang sama. Dan mungkin, diantara milyaran manusia itu, terdapat orang yang gue sayangi.
Dengan begitu, bulan akan menyampaikan pesan gue kepada mereka.”
“Jujur, gue gak ngerti Ag.” Iel
tertawa, Agni pun ikut tertawa. Wajar saja Iel tiak mengerti. Makna seperti itu
tidak mungkin dimengerti otak Iel yang hanya berorientasi pada logika.
Iel memandang ombak. Deburan
ombak yang saling berpacu membuatnya damai. Dia tidak tahu mengapa mengajak
Agni ke pantai. Tapi, melihat tak banyak manusia yang menyesakkan membuat Iel
yakin bahwa pilihannya tidak salah. “Ag, gimana kalau semuanya udah berubah?”
“Maksudnya?”
“Ya.. semuanya udah berubah.” Iel
menarik napas dalam, semoga keputusannya kali ini tepat. “Tentang persahabatan
kita, tentang semua yang kita lewati, dan juga tentang perasaan ku.”
“Apa maksudnya Iel? Jangan
bilang..” Agni mengangkat sebelah alisnya. Ini adalah kalimat paling abstrak
yang pernah didengarnya dari mulut Iel.
“Ya kau benar. Aku jatuh cinta
pada mu. Tentang segala yang ada dalam diri mu. Mata mu, wajah mu, rambut mu,
kepribadian mu, semuanya Ag. Cinta telah menghancurkan segalanya. Jika boleh
memilih, aku tidak ingin merasakan perasaan menjijikan ini. Aku hanya ingin
menatap mu sebagai sahabat yang akan selalu disamping ku.”
Agni terhenyak. Apa ini maksud
dari segala perhatian Iel kepadanya? Jika iya, sungguh ia merasa bodoh sekali.
Ia secara tidak langsung telah menyakiti perasaan Iel.
“I’d never ask you ‘cause deep down I’m certain I know what you’d say.
You’d say, I’m sorry, believe me, I love you but not in that way.”
Agni terperangah. Iel memainkan
lagu Not in that way-Sam Smith dengan gitarnya. Dia bingung apa yang harus
dikatakannya. Yeah Iel, everything has changed. Pengakuan Iel telah merubah
segalanya. Agni akui, ia mencintai Iel, tapi bukan begini caranya. Ia tak ingin
persahabatan yang mereka jalin hancur hanya karena perasaan menggelikan ini. “I’m
sorry..”
“Aku mengerti, memang tidak
sepantasnya aku menyimpan perasaan ini.” Iel terseyum. Tangannya meraih tangan
Agni dan mengenggamnya. Iel menatap Agni lurus. Perlahan pria itu mulai
mendekatkan wajahnya ke arah Agni, dan beberapa detik selanjutnya bibir mereka saling
bertautan di tengah deburan ombak pantai, ditengah malam yang dingin, dan
tentunya ditengah kehangatan bulan dan bintang.
Agni tersenyum simpul. Wajahnya
sedikit kemerahan mengingat ini adalah yang pertama. Oi, siapa sangka bahwa
yang merebutnya adalah sahabatnya sendiri, Iel. Iel tersenyum geli dengan apa
yang telah dilakukannya. Mau dikatakan apa, semuanya sudah berlalu bukan? “Biar
ruang dan waktu yang menjawab.”
Iel meraih gitar yang telah
disandarkannya tadi. Pria itu kembali
menekan chord gitar yang sudah susah payah dihapalnya. Bukan perkara gampang,
karena dirinya sama sekali tidak mengerti alat musik dan hal yang berbau dengan
itu. Tapi biarlah, biarlah demi gadis yang dicintainya ia berlatih. Dan malam
itu, Not in thay way milik Sam Smith mengalun indah.
And I hate to say I love you
When it’s so hard for me
And I hate to say I wan’t you
When you make it so clear
You don’t want me
I’d never ask you cause deep down
I’m certai I know what you’d say
You’d say I’m sorry belive me
I love you but not in that way
And I hate to say I need you
I’m so reliant
I’m so dependant
I’m such a fool
Wwhen you’re not there
I find myself singing the blues
Can’t bear
Can’t face the truth
You will never know that feeling
You will never see through these
eyes
I’d never ask you cause deep down
I’m certai I know what you’d say
You’d say I’m sorry belive me
I love you but not in that way
You’d say I’m sorry belive me
I love you but not in that way
(Not in That Way-Sam Smith)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar