Jumat, 22 Januari 2016

Ruang dan Waktu

RUANG DAN WAKTU

-------------------------------DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE-------------------------------








Saat bibir tak mampu lagi bertutur. Saat kelenjar terbesar dalam tubuh tak mampu lagi menampung beban. Saat kepala tak mampu lagi mencerna. Dan masih banyak saat-saat yang lain dimana hanyalah mata yang berperan ketika tetes demi tetes terjun bebas membanjiri asa. Ketahuilah semua akan indah pada waktunya.

                                              ****

Rambut indah yang bergelombang itu kini hanya tampak seperti gulungan benang hitam, karena pemiliknya dengan sadis menjadikan landasan air yang terjun curam membasahi tubuh. Gurat kesedihan tercetak pada wajahnya yang selalu menampilkan keceriaan. Bibir yang memutih mampu terkalahkan dengan rasa panas menyelimuti jiwa.

Keluarga. Satu kata yang mungkin tidak selalu kau lafalkan setiap harinya. Satu kata yang mungkin tak pernah kau ucapkan secara lisan bahwa kau menyayangi atau bahkan mencintainya. Karena semua itu tidak perlu.Karena keluarga terukir manis dalam sanubari tanpa perlu diungkapkan.

Apa arti keluarga untuk mu? Tanpa mereka, mungkin kau tidak akan melihat betapa indahnya ciptaan sang kuasa. Tanpa mereka, mungkin kau tidak bisa berdiri menapaki bumi sambil menantang matahari. Tapi bagaimana jika suatu yang sangat berharga dan utama itu, rusak, dan kau tidak tahu apa penyebabnya?

Perceraian. Satu kata yang juga jarang terlontar dari bibir dan tak pernah pula singgah di otak. Namun bagaimana jika kata yang selalu terabaikan itu menyelinap masuk ke setiap aliran tubuh? Kata yang akan melekat abadi menjadi bagian kehidupan. Keluarga yang selalu tampak utuh, namun kini terpecah. Lalu, apa keharmonisan yang tercipta selama ini? Apakah semua hanya topeng?

“Gue benci semuanya!”

                                                  ****

“Satu kelas heboh gara-gara lo gak masuk kelas.” Pemuda itu –Gabriel- memecah keheningan.Ia menatap penuh kagum pada semua lukisan di kamar sahabatnya. Walaupun banyak dari lukisan itu yang Iel tak mengerti karena hanya berupa perpaduan antara garis horizontal dan vertikal, namun ada sensasi damai menyapu matanya.

Agni, gadis yang jadi lawan bicara Iel hanya diam tanpa ekspresi. Tak ada niat untuk mengucap sepatah kata atau setidaknya merespon dengan bahasa tubuh.

“Ini semua lukisan lo? Keren banget!” Iel memiringkan kepalanya menunjuk semua lukisan yang sejak tadi menyita perhatiannya. Sekelabat pertanyaan memenuhi kepalanya. Bahkan pria jangkung itu sempat berpikir bahwa Agni sudah salah minum obat.

Agni mengangguk. Bibirnya sulit sekali terangkat barang tersenyum sekali pun. Iel bahkan tak melihat raut over-PD yang selalu tergambar di setiap perkataan Agni. Tapi tak bisakah gadis itu sedikit membuat lelucon, agar tak hanya dirinya saja yang kelihatan bersemangat?

“Orang tua lo mana? Kok sepi?” Kembali mengulangi hal yang sama, Iel mencari pertanyaan yang sekiranya dijawab dengan lisan.

Agni menunduk dalam. Ucapan Gabriel seakan hantaman baginya yang sejak tadi berusaha dihindari. Di matanya masih tersimpan dengan jelas peristiwa bersejarah yang mungkin tak perlu repot-repot baginya untuk menghapal tanggal kejadian. Peristiwa dimana ia dengan senyum polosnya tidak sabar bertemu dengan sang Ayah. Dimana ia disambut kedua orang tuanya tak kalah pula dengan wajah tanpa dosa mereka. Dimana kedua orang tuanya dengan tenang mengatakan bahwa mereka telah resmi berpisah. Ingin sekali gadis dengan watak periang itu terbangun dari tidur panjangnya.

“Gue capek Iel. Mau istirahat.” Agni menarik selimut Angry Birdnya dan sengaja menutupi seluruh tubuh. Agar ia dengan leluasa menangis melepaskan beban hidup.

Iel terhenyak. Ini bukan lah Agni yang dikenalnya. Seberapa kesalnya gadis itu kepadanya, tak pernah Iel melihat Agni sedingin ini. Mau tidak mau pria jangkung itu melangkahkan kakinya menjauhi Agni, sang gadis yang entah sejak kapan memenuhi ruang kosong hatinya. “Get well soon Ag!”

                                            ****

Sakit. Perih. Sesak. Semua bercampur aduk membuat siapa pun penderitanya mual. Tiga hari berlalu dan tak ada yang dapat mengobati luka mendalam gadis ini. Agni menggigit jarinya. Suatu kebiasaan buruk yang selalu dilakukannya untuk menutupi kerapuhan. Tentunya dalam dekapan Iel.

Iel bisa merasakan betapa hangatnya nafas Agni. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat pria ini bisa merasakan setiap kesulitan yang sedang dialami Agni. Wajah Agni yang memar karena bekas tamparan ayahnya sungguh membuat Iel meringis. Hatinya kian remuk saat mengetahui bahwa dirinya masih berstatuskan tokoh polos dan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada gadis pujaannya.

“Bisa lo jelasin ke gue sebenarnya ada apa?” Tanya Iel sambil tersenyum. Kedua bola matanya tak sedikit pun beranjak dari wajah cantik Agni. Demi Tuhan dia tidak tau, sejak kapan rasa itu muncul. Tapi biarlah mengalah, biarkan dia mengalah dengan sang pedang. Biarkan sepotong hati tulusnya mengalah dengan ruang dan waktu. Because true space without true time, just in vain.

“Everything has changed. Gue gak penah nyangka kalau gue  bakalan masuk dibagian deretan anak korban broken home. Jauh lebih sakit dari yang gue bayangin. Mereka bukan lagi 2 orang anak remaja yang dengan gampangnya memutuskan semua sudah berakhir. Disini ada gue, ada gue yang gak tau harus gimana, ada gue yang bahkan takut dengan kenyataan.”

Agni menyeka air mata yang memenuhi pelupuk matanya. Gadis berponi sealis itu menyandarkan kepalanya ke bahu Gabriel. Tidak tahu jika pemuda yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu menahan napas. Entahlah, Gabriel seperti merasakan setruman kecil di tubuhnya. Tidak ada yang salah. Hanya saja cinta telah mengubah semuanya. “Jika memang ini nyatanya, salahkah jika aku minta agar Tuhan memberi mimpi yang lebih baik dari realita hidup ku? Aku rela meskipun tidur panjang untuk mimpi yang indah.”
Iel terdiam. Dia tidak tahu jika pujaannya sedang terluka. Kenapa gadis periang itu merahasiakan ini darinya? Sebegitu tidak pentingkah ia dari kehidupan Agni? Perlahan, pelukan Iel merenggang.

 “Jangan lepaskan!” Agni merangkul tangan Gabriel. Mendekatkan tubuhnya kepada pemuda jangkung itu. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tapi entah mengapa setiap mendengar jantung Gabriel berdetak ada susunan nada harmonis memenuhi gendang telinganya. Dan seketika itu juga, ia dapat memejam mata dengan melupakan beban masalah. “Gue gak yakin jika nanti gue bisa ngejalanin ini semua. Tapi ketahuilah, detak jantung lo buat gue hidup kembali.”

                                               ****

“Ag, bintang itu indah ya..” Iel mengadahkan kepalanya menghadap langit. Tidak tahu kenapa pria itu mendadak menyukai bintang. Tangannya masih setia memetik asal senar gitar tanpa menekan chord mana pun.

“Oh ya? Tapi menurut gue, bulan lebih indah.” Jawab Agni sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Iel. Aroma teh hijau menyeruak masuk kedalam paru-parunya, seakan memberikan jalan agar sesak di dadanya hilang. Gadis itu melongok melihat langit yang sepenuhnya telah berubah menjadi kelam. Ia melirik Iel yang ikut-ikutan menatap bulan yang sama. Agni tersenyum.

“Bagusan juga bintang kemana-mana Ag. Bintang itu kaya permata. Bintang juga sulit ditebak, buktinya gak ada yang tau pasti berapa jumlah bintang kan?” Balas Iel dengan bermacam argumennya. Pemuda hitam manis itu menatap dengan teliti wajah Agni saat tersenyum ditambah lagi terpaan angin yang mengenai anak rambut Agni. Tanpa sadar bibir tipisnya ikut melengkung.

“Itulah sebabnya mengapa pria cendrung menilai sesuatu dengan fisik atau berpikir secara logika.” Agni menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Iel. “Memang bintang jauh lebih indah dibandingkan bulan. Tapi perempuan lebih suka sesuatu yang bermakna khias. Saat gue melihat bulan, saat itu juga ada milyaran manusia di dunia memandang buan yang sama. Dan mungkin, diantara milyaran manusia itu, terdapat orang yang gue sayangi. Dengan begitu, bulan akan menyampaikan pesan gue kepada mereka.”

“Jujur, gue gak ngerti Ag.” Iel tertawa, Agni pun ikut tertawa. Wajar saja Iel tiak mengerti. Makna seperti itu tidak mungkin dimengerti otak Iel yang hanya berorientasi pada logika.

Iel memandang ombak. Deburan ombak yang saling berpacu membuatnya damai. Dia tidak tahu mengapa mengajak Agni ke pantai. Tapi, melihat tak banyak manusia yang menyesakkan membuat Iel yakin bahwa pilihannya tidak salah. “Ag, gimana kalau semuanya udah berubah?”

“Maksudnya?”

“Ya.. semuanya udah berubah.” Iel menarik napas dalam, semoga keputusannya kali ini tepat. “Tentang persahabatan kita, tentang semua yang kita lewati, dan juga tentang perasaan ku.”

“Apa maksudnya Iel? Jangan bilang..” Agni mengangkat sebelah alisnya. Ini adalah kalimat paling abstrak yang pernah didengarnya dari mulut Iel.

“Ya kau benar. Aku jatuh cinta pada mu. Tentang segala yang ada dalam diri mu. Mata mu, wajah mu, rambut mu, kepribadian mu, semuanya Ag. Cinta telah menghancurkan segalanya. Jika boleh memilih, aku tidak ingin merasakan perasaan menjijikan ini. Aku hanya ingin menatap mu sebagai sahabat yang akan selalu disamping ku.”

Agni terhenyak. Apa ini maksud dari segala perhatian Iel kepadanya? Jika iya, sungguh ia merasa bodoh sekali. Ia secara tidak langsung telah menyakiti perasaan Iel.

I’d never ask you ‘cause deep down I’m certain I know what you’d say. You’d say, I’m sorry, believe me, I love you but not in that way.

Agni terperangah. Iel memainkan lagu Not in that way-Sam Smith dengan gitarnya. Dia bingung apa yang harus dikatakannya. Yeah Iel, everything has changed. Pengakuan Iel telah merubah segalanya. Agni akui, ia mencintai Iel, tapi bukan begini caranya. Ia tak ingin persahabatan yang mereka jalin hancur hanya karena perasaan menggelikan ini. “I’m sorry..”

“Aku mengerti, memang tidak sepantasnya aku menyimpan perasaan ini.” Iel terseyum. Tangannya meraih tangan Agni dan mengenggamnya. Iel menatap Agni lurus. Perlahan pria itu mulai mendekatkan wajahnya ke arah Agni, dan beberapa detik selanjutnya bibir mereka saling bertautan di tengah deburan ombak pantai, ditengah malam yang dingin, dan tentunya ditengah kehangatan bulan dan bintang.

Agni tersenyum simpul. Wajahnya sedikit kemerahan mengingat ini adalah yang pertama. Oi, siapa sangka bahwa yang merebutnya adalah sahabatnya sendiri, Iel. Iel tersenyum geli dengan apa yang telah dilakukannya. Mau dikatakan apa, semuanya sudah berlalu bukan? “Biar ruang dan waktu yang menjawab.”

Iel meraih gitar yang telah disandarkannya tadi. Pria  itu kembali menekan chord gitar yang sudah susah payah dihapalnya. Bukan perkara gampang, karena dirinya sama sekali tidak mengerti alat musik dan hal yang berbau dengan itu. Tapi biarlah, biarlah demi gadis yang dicintainya ia berlatih. Dan malam itu, Not in thay way milik Sam Smith mengalun indah.

And I hate to say I love you
When it’s so hard for me
And I hate to say I wan’t you
When you make it so clear
You don’t want me
I’d never ask you cause deep down
I’m certai I know what you’d say
You’d say I’m sorry belive me
I love you but not in that way

And I hate to say I need you
I’m so reliant
I’m so dependant
I’m such a fool

Wwhen you’re not there
I find myself singing the blues
Can’t bear
Can’t face the truth

You will never know that feeling
You will never see through these eyes

 I’d never ask you cause deep down
I’m certai I know what you’d say
You’d say I’m sorry belive me
I love you but not in that way

You’d say I’m sorry belive me
I love you but not in that way
(Not in That Way-Sam Smith)