Minggu, 08 November 2015

Cinta Tanpa Syarat Chapter 2

                        Cinta Tanpa Syarat Chapter 2




        ------ DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE --------








Kembang api menghiasi malam yang kelam. Dentuman-dentuman yang terus menerus tak hanya membentuk lukisan tetapi juga orkestra. Siapapun yang melihat akan terbawa suasana hangat meski tak seluruh dari mereka merasakannya. Seperti halnya dua makhluk yang baru saja dilanda kehilangan.

Mata Ify berkaca-kaca memandang langit yang sepertinya kewalahan menampung letusan.Dentuman itu mengingatkannya akan peristiwa ulang tahunnya. Tentu mengingatkannya akan malam terakhir ia melihat ayahnya. “Andai aku tahu Ayah akan pergi secepat ini, mungkin aku tidak akan melepaskan pelukan itu.”

Ify teringat sesuatu, berlian. Yah, berlian, berlian apa maksudnya?
                                           ****
Dalam kebisuan menanti sesuatu yang tak akan pernah kembali. Meringkuk lm dinginnya malam. Apa yang salah? Apkah waktu sudah berjalan terlalu lama? Jika iya, mengapa seakan cepat berlalu hingga tanpa disadari kini hanya tinggal kenangan. Acha Krysabel. Bukankah kita punya tujuan hidup yang sama? Mengapa justru kau lebih mendahului.

Kau bahkan tak melihat betapa indahnya langit saat letusan itu membaur.Entah mengapa ulu hati kian tertohok setiap kali kembang api berbunyi. Letusan itu seakan menghina kemirisan hidup. “Aku akan cari pembunuhnya!”
                                      ****
Masih dengan nyeri di kepala, Ify melangkahkan kakinya. Lingkaran hitam disekitar kelopak matanya sudah cukup menjadi bukti bahwa gadis itu tidak tidur semalaman. Tak ada sedikit pun garis lengkung yang tercetak di bibir tipisnya. Hanya wajah kusut penuh duka.

Kakinya terus melangkah menuju kantor Ayahnya, Denizer Holding. Tak ada niat sedikit pun mengambil alih perusahaan Ayahnya, hanya sekedar menjalankan moto hidup harus lanjut terus.

“Wajah mu sangat pucat, Fy. Ayo kita minum teh dulu!” Shilla melangkah berusaha menyamakan posisinya dengan Ify.

Minum teh? Tawaran yang bagus. Tapi ada yang lebih bagus lagi. Mencari berlian itu, lalu terbebas dari ancaman dua pria gila kemaren.

“Ah.. tidak usah Shil. Aku baik.”

Dengan cepat kaki mungil Ify berpindah ke ruangan kerja Ayahnya yang kini resmi menjadi miliknya. Meninggalkan Shilla yang tampaknya tak mau repot-repot memaksa Ify untuk minum teh bersama dirinya.

Mata Ify bergerak lincah mencari tempat yang sekiranya dihuni oleh berlian. Hatinya menggerutu kesal karena pria aneh itu hanya menyuruhnya mencari berlian, sementara ia sama sekali tidak diberi tahu ciri-cirinya.

Nothing. Tak ada apa-apa kecuali hanya ornamen ruangan atau berkas-berkas. Ify mengacak rambutnya frustasi. Hanya tinggal esok baginya untuk menyerahkan berlian itu. Jangankan menyerahkannya, letaknya saja Ify tidak tahu.

Nomor tak dikenal. Hanya itu yang tampak dari indra penglihatannya saat memeriksa telepon gnggam. Dengan lihai gadis berdagu tirus itu menekan tombol hijau.

“Selamat pagi cantik. Apa kau sudah menemukan berliannya?”

Ify meneguk ludah dalam sekedar membasahi kerongkongan yang mendadak mengering. Bagaimana pria ini tau nomor handphonenya? Jantungnya memompa lebih cepat, keringat dingin sudah mengalir dari dahinya. Siapa mereka?

“Kau datang ke pelabuhan. Dalam waktu sepuluh menit kalau tidak datang kau akan tahu apa akibatnya!”
                                           ****
“Aku mohon kembalilah ke PAM, Rio!”

“Tidak kak. Aku akan pindah tugas ke Istanbul. Dan aku akan menemukan pembunuhnya.”

Pria yang rambutnya sudah memutih sebagian itu menghela napas. Gurat kekecewaan terpampang di wajahnya, mengingat sang adik yng sangat keras kepala. Bukannya tak ingin melihat Rio bertugas di Istanbul, tapi dengan keadaan Rio seperti ini ia sangat tak yakin jika adiknya yang kepala batu itu berhasil memecahkan kasus. Ditambah lagi korbannya adalah tunangan Rio.

“Aku kira setelah aku menjadi polisi, tidak ada lagi orang yang ku sayangi meninggal karena dibunuh seperti ayah.” Rio memejamkan matanya. Saat itu, ia memang sangat kecil untuk memahami semuanya. Ketika ayahnya terbunuh dan ia melihat sendiri kejadian pahit itu.

Cakka masuk ke dalam ruangan dan mendapati Rio beserta kakanya –Obiet- saling terdiam. Melihat hal itu, Cakka kembali melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Tak sampai dua langkah pria itu berjalan, Rio sudah menahannya. “Ada yang ingin ku tanyakan kepada mu.”

Cakka mengangguk. Ia memperhatikan komandannya –Obiet- untuk membiarkan ia dan Rio sendiri. Obiet mengerti, dengan cepat ia keluar dari ruangan.

“Apa yang kau ketahui, Cakka?” Rio sudah bisa mengontrol emosinya, terlihat dari nada bicaranya yang sedikit bersahabat.

“Kita hanya melihat mereka tertembak pada saat mobil sedang parkir. Kita belum tahu pria itu menjemput ke rumah atau di jalan. Kita akan segera mengetahui dari kamera pengintai. Entahlah banyak kemungkinan terjadi, dia adalah pria yang sangat kaya dan satunya seorang wanita yang.... Acha” Kata Cakka saat Rio menatapnya.

“Acha hanyalah seorang guru sekolah dasar. Apa yang dilakukan seorang pengusaha besar dengan Acha? Pati ada yang salah disini.” Sahut Rio.

Cakka dan Rio keluar dari ruangan tersebut untuk mencari udara segar. Mereka tidak akan bisa berpikir dengan jernih, jika berada di ruangan yang rasanya punya sedikit oksigen. Rio melihat Ibu dan adiknya Acha disana. “Apakah Bu Fatma siap diwawancara?” Sungguh, Rio tidak mampu melihat wanita paruh baya itu menangis karena kehilangan anaknya.

“Bu Fatma, Rio mengantar Acha pulang sekitar jam 10 malam, jam berapa dia pergi meninggalkan rumah?” Tanya Cakka yang tampaknya tak mau kehilangan waktu sedikit pun.

“Dia tidak pergi kemana-mana. Sekitar jam 11 dia bilang jika dia akan pergi tidur, begitupun dengan kami semua. Aku tidak mendengar suara pintu atau apa pun.”

“Coba Bu Fatma ingat lagi. Karena detail sekecil apa pun sangat berguna untuk kami.” Rio  mengambil selembar foto, Ahmed Denizer. “Pria ini bernama Ahmed Denizer. Apa ibu tau orang ini?”

Bu Fatma memperhatikan serinci mungkin Foto tersebut. Kemudian ia menatap Rio kecewa, Bu Fatma menggeleng.
                                       *****
Seorang wanita mengeluh pada mertuanya. “Acha akan menjadi bagian dari keluarga kita, dia bisa mati dimana saja. Tapi dalam pelukan pria berusia 60 tahun, ini sangat memalukan!” Mertuanya hanya menggeleng pelan melihat menantunya –Melike- yang sangat suka sekali bergosip.

“Keke!”

Bibi Elvant –Ibu Rio&Obiet- mengelus dadanya. Teriakan Melike mampu  membuatnya serangan jantung.
“Hapus make up mu! Kita tidak akan pergi ke acara pernikahan tapi pemakaman!”
                                            ****
Bu Fatma membawa Rio ke kamar Acha. Kedua manik mata Rio langsung menangkap gaun pertunangan Acha yang tergantung di pintu. Hatinya kian remuk saat melihat foto mereka berdua yang terselip di cermin. Rio merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Acha. Merasakan setiap kehangatan gadis itu yang mampu membuatnya tenang.

Kedua telaga bening Rio terbuka, mendadak kepalanya mendapat pencerahan. Rio bangkit dan mulai memeriksa ruangan. Dia membuka semua lemari dan buku. Tapi tidak ada apa-apa. Disela-sela keputus asaannya, dia melihat sesuatu yang memancar dibawah tatakan di dinding. Rio mengambil benda tersebut yang tertempel dengan permen karet, ternyata sebuah berlian biru. Rio mengerutkan keninganya, “kenapa benda ini bisa ada di kamar Acha?”
 Pada saat yang bersamaan, Cakka menelpon dan mengatakan ada hal yang penting. Dengan gesit, pria jangkung itu memasukkan berlian yang baru saja ditemukannya kedalam saku jaketnya dan berjalan meninggalkan kamar Acha.
                                             ****
“Nona Ify, Ayah mu mencuri berlian itu dari kami. Kami ingin berlian itu kembali. Berlian yang bernilai 110 juta. Kami membayarnya tetapi ayah mu tidak memberikannya kepada kami. Kau adalah penerusnya, kau yang akan memberikan berlian itu sendiri kepada kami.” Pria bermata sipit itu menatap Ify tajam. Tak ada sedikit pun ketakutan yang terpancar di wajahnya.
Ify hanya diam menatap pria yang mengaku bahwa dirinya bernama Mathin. Harus bagaimana lagi caranya agar pria ini mengerti bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu dengan berlian itu.

Mathin menarik kasar rambut Ify. “Kau tak tahu kami, tapi kami tahu semua tentang diri mu. Kau adalah perancang perhiasan juga kan?” Pria bermata sipit itu menguatkan tarikan rambut Ify. “Kau tidak boleh memberi tahu hal ini kepada siapa pun, termasuk ibu mu. Jika kau melapor kepada polisi, aku akan tahu.” Mathin tersenyum licik.
                                            ****
“Kami baru saja menemukan rekaman cctv.”Ucap Cakka saat Rio tiba di kantor polisi.
Seorang petugas di koridor mendatangi mereka. “Dari record sambungan telepon ahmed Denizer dan Acha Krysabel,mereka berdua tidak saling berhubungan dengan via telepon.” Ucapan petugas itu yang mampu membuat Rio tersenyum setelah berita kematian tunangannya.

“Aku tahu itu.” Gumam Rio puas.

Mereka membuka pintu dan mendapati Obiet yang sedang murka. Cakka dan Rio saling berpandangan, ada apa?

“Beberapa bagian rusak dan berhenti.” Merasa diperhatikan, Obiet menjelaskan kemarahannya. Mereka terlalu antusias tapi tak ada satu pun yang memberi petunjuk, bukankah itu menyebalkan?

“Boleh aku lihat rekamannya kak?” Ijin Rio. Obiet mempersilahkan adiknya melihat rekaman cctv tersebut. Tak jauh berbeda, Rio mengumpat kesal.

“Video rekamannya telah diubah!”

Cakka mendekat ke arah Rio, untuk memperhatikan rekaman tersebut. Tak ada yang aneh tertangkap oleh indra penglihatan Cakka. Ya meskipun ada beberapa bagian rusak, tapi tidak begitu mengubah rekamannya.

“Lihatlah! Ada waktu jeda yang hilang sekitar 1 jam.” Rio menggerakkan jari telunjuknya ke arah monitor komputer.

“Ya bisa saja itu digunakan mereka untuk relax.” Cakka berkata dengan wajah tanpa dosanya yang diberi hadiah tatapan maut dari Rio. “Mmm, itu hanya asumsi ku saja.” Ucap Cakka salah tingkah.

“Aku mau lihat file tentang pembunuhan itu.”Rio tak menghiraukan hipotesis konyol Cakka. Karena baginya, tak mungkin gadisnya seperti itu.

“Buat apa?”
“Lakukan saja perintah ku!”

“Ya terserah mu saja.” Cakka mendengus kesal. Ingin sekali ia diberi mukjizat pada saat itu juga untuk memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain.

“Acha Krysabel dan Ahmed Denizer dibunuh dengan senjata yang sama..” Gumam Rio sambil mempelajari file tersebut. Mata Rio terhenti saat menemukan sesuatu pada tubuh Acha. Sebuah luka akibat goresan. Kemungkinan Acha diseret, itu berarti Acha dibunuh  ditempat lain dan kemudian dimasukkan ke dalam mobil.

Rio mengambil dua buah kursi dan mensejajarkannya. Cakka hanya diam melihat semangat Rio. “Cakka kau duduk disini!” Perintah Rio khas dengan nada otoriternya. Cakka menautkan kedua alisnya, meskipun begitu ia tetap menuruti perintah Rio

Cakka duduk di kursi satunya, sementara kursi yang lain dibiarkan kosong. Rio menodongkan pistolnya ke arah Cakka. Cakka terkejut, tanpa disadari ia mengelakkan tubuhnya. “Kau terlalu bersemangat, kawan.” Desis Cakka.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku menodongkan pistol dari samping?”

“Mmm aku akan berbalik menatap mu.” Jawab Cakka sambil berpikir.

“Tak!” Rio menirukan suara jika pelatuk pistol ditarik. Rio menggigit bibir bawahnya, kemudian sedikit mundur ke belakang dan kembali menirukan hal yang sama. Cakka hanya diam meskipun Rio menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan.

“Kemungkinan besar pembunuhnya menbunuh dari sini.” Jawab Rio sambil menujukkan posisinya. “Dan aku yakin, Acha dibunuh di tempat lain setelah Ahmed Denizer terbunuh.”

Cakka memiringkan kepalanya. “Bagaimana jika dari belakang mobil?”

“Ah iya. Kau benar.” Jawab Rio. “Aku akan memeriksa mobilnya.”  Rio melangkahkan kakinya, meninggalkan Cakka.

“Tapi mobil itu telah diambil oleh pemiliknya.” Ucap Cakka menahan Rio.

‘”Apa kau bilang?” Rio memutar tubuhnya. Wajahnya penuh dengan amarah. “PENYELIDIKAN BELUM SELESAI, TAPI BARANG BUKTI SUDAH DIKEMBALIKAN!”

“Itu terjadi karena tekanan dari atas, pihak keluarga Ahmed ingin menutup kasus ini.”

Rio keluar dengan membanting pintu.
                                          ****
“Aku butuh uang tunai.” Keluh Ify pada majemen keuangan kantornya. Ia putus asa mencari berlian itu. Lebih baik ia membayarnya dengan uang tunai, dari pada harus dihantui pria yang selalu bertanya, Dimana-berliannya?

“Berapa yang nona butuhkan?”

“110 juta.” Ify memegang kepalanya yang terasa semakin memberat. “Aku butuh 110 juta lira.”

“Maaf nona, satu tahun belakangan ini penjualan menuruh drastis. Kita tidak punya uang tunai sebanyak itu.” Pria itu berkata hati-hati, meskipun begitu Ify tetap saja emosi.

“Kita bisa jual rumah atau pun bangunan-bangunan lainnya.”

“Tapi semuanya sudah digadaikan nona.”

Ify terdiam, berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar. “Denizer Holding bangkrut?”

Pria itu mengangguk pelan.
                                              ****
Ify berjalan tanpa tujuan. Kenapa mimpi buruk ini lama sekali berakhir? Ia sudah lelah dengan segala masalah yang menghimpitnya.

“Fy, akan kita apakan mobil itu? Apa kita kirim saja ke perusahaan?” Tanya Shilla yang mengikuti Ify dari tadi.

Ify mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.”
                                            ****
Kenangan akan kematian Acha terus menghantui Rio. Sudah sepuluh menit Rio melakukan pemeriksaan terhadap mobil tersebut untuk mencari bukti-bukti baru. Tiba-tiba tangannya memegang sesuatu, sebuah benda mengkilap. Berlian biru yang sama ditemuinya di kamar Acha.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara lengking Ify menghentikan Rio. Rio menggenggam berlian tersebut dan kemudian mematikan senternya.

“Aku akan telepon polisi!” Ify sudah bersiap-siap mengambil telepon genggam miliknya di dalam tas sandang yang dikenakannya.

“Aku polisi.”

Ify memicingkan matanya, ia sama sekali tak percaya dengan pria yang ada dihadapannya saat ini. “Bagus! Aku tidak percaya.” Sedetik lagi ia akan menghubungi polisi, but it was in vain.

“Aku Inspectur Rio.” Rio menujukkan tanda pengenalnya. “Bergerak di bidang pembunuhan.”

Ify meletakkan kembali ponselnya. “Apa kau menemukan sesuatu?” Sumpah demi apa, nada bicaranya seakan membalikkan perkataannya semenit yang lalu. “Kalau pun iya, kau tak akan mengatakannya kepada ku.” Lanjutnya.

“Itu pasti.” Jawab Rio sambil berlalu pergi.

“Bagaimana jika aku minta bantuan?” Rio menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan tubuhnya, berusaha memastikan bahwa perempuan di depannya ini sedang tidak bercanda.

“Aku tahu kita memang tidak saling mengenal, tapi apa yang terjadi pada keluarga kita tidak lah normal. Apa yang terjadi membuat kita menderita dan bertanya-tanya setiap saat, bagaimana ayah ku dan tunangan mu bisa saling mengenal dan mengapa mereka terbunuh. Mungkin jika kita bekerja sama kita bisa saling membantu dan membongkar kasus ini. Aku turut berduka cita..” Ify mengulurkan tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya dan berharap pria bernama Rio itu mau berjabat tangan dengannya.

Rio hanya memandangi Ify tanpa ada niat untuk menjabat tangan wanita sombong itu. Enak saja dia mengajaknya damai setelah berkata kasar akan tunangannya. “Aku punya banyak pekerjaan.”

“KAU BENAR-BENAR!” Ify menggeram kesal. “AKU BERHARAP TIDAK BERTEMU LAGI DENGAN MU! KAU DENGAR ITU?!”

“Aku mendengarnya.” Sahut Rio sambil terus berjalan.

Rio mengambil ponselnya, dan menelpon Cakka. “Aku ingin kau menyelidiki keluarga Ahmed Denizer.” Rio memutuskan ponselnya, tanpa memberi kesempatan bagi Cakka untuk membantah. Tinggallah sumpah serapah dari Cakka untuk Rio.

Rio menuju TKP. Semenjak menyelidiki kasus ini, dia belum Melihat TKP. Rio berjalan santai. Tak banyak yang ia lihat selain jejak ban mobil dan jejak lainnya yang Rio duga sebagai jejak Acha diseret. Tak sengaja kakinya menginjak sebuh benda. Rio sangat hapal benda itu, anting milik Acha. Dari kejauhan, Rio melihat sebuah gubuk. Dengan cepat pria hitam manis itu melangkahkan kakinya menuju gubuk. Darah. Ia bisa merasakan bahwa itu adalah darah manusia dan masih segar. Itu artinya Acha dibunuh di gubuk ini. Rio kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Cakka. Tidak sempat Rio mendengar suara Cakka menjawab panggilannya, sebuah kayu telah memukul bagian belakang kepalanya.
                                            ****
Ify memandang sekelilingnya bingung. Kenapa semua keluarganya begitu sedih? Dia tahu jika keluarganya sedang berduka, tapi sepertinya ini duka yang lain. Sivia berhamburan memeluk Ify. “Kak, perusahaan Ayah bangkrut.”

Ify tercenung. Dia membelai lembut rambut Sivia. “Tenanglah! Aku akan bertanggung jawab. Aku akan cari jalan keluarnya.”

Pengecara keluarga Denizer –Sebnem- mendekati Ify. “Kami akan tunda penyitaannya.”
“Terima kasih Sebnem.”
                                             ****
Rio membuka kelopak matanya, saat menyadari terik matahari yang sedikit menyengat. Matanya membulat saat mendapati gubuk tersebut sudah terbakar. Tiba-tiba mobil polisi datang. Cakka dan Obiet mendekatinya. “Apa yang terjadi?” Tanya Obiet.

“Sudah jelas, pembunuhnya ingin menghilangkan barang bukti.” Rio menunjukkan gubuk yang telah lenyap dimakan api.
                                             ****
“Kau ini keras kepala sekali!”

“Kak, Sibel masih gadis.” Jawab Rio yang tak mau disudutkan.
Obiet terdiam. “Aku dicabut dari kasus ini.”

Rio terkejut. Apa karena dirinya ini terjadi? Dia sungguh menyesal. “Maafkan aku kak.”

“Coba kau pikirkan kembali niat mu untuk mengundurkan diri.” Obiet tidak menggubris permintaan maaf Rio. Ia teringat bagaimana kepala polisi sangat marah sekali dengan adiknya. “Aku melakukan segalanya agar kau bisa masuk akademi. Dan aku tak ingin pengorbanan ku dulu sia-sia belaka.”

Rio tersenyum, “Aku tidak akan bisa mngkhianati pekerjaan ku dan juga tuangan ku.”
                                             ****
“Jaga diri mu baik-baik disana.”

“Baik kak.” Sivia tersenyum pada kakak tertuanya –Zevana-

Sivia memperhatikan ibunya yang semenjak tadi pagi tidak mau berbicara dengannya. “Aku harap Ibu tidak akan menyesal karena tidak sempat memeluk ku, sebelum pesawat ku jatuh.”

Ny.Zerin memeluk Sivia erat. Membiarkan anaknya seorang diri bersekolah di negeri paman sam, bukankah itu perkara yang cukup sulit? “Ibu pasti akan merindukan mu, Nak.”

“Kakak dari mana saja?” Ucap Sivia saat menemui kakaknya –Ify- baru saja datang.

“Aku ada kabar baik. Ayo masuk.” Dengan wajah sumringahnya Ify menceritakan apa yang telah terjadi. “Paman Tayyar bersedia membiayai studi mu di Amerika.”

“Kau tidak bercanda kan Fy?” Sivia memekik terharu. Ia memeluk tubuh Ify. Ini adalah kabar bahagia yang diterimanya semenjak kematian ayahnya.

Mobil tiba-tiba berhenti, membuat dua gadis yang sedang berpelukan itu bingung. Dua orang pria masuk ke dalam mobil dan menondongkan pistol kepada mereka. Mata Ify dan Sivia ditutup oleh kain. Mereka tidak bisa melihat apa-apa selain merasakan mobil yang melaju kencang.

                                            ****
Sebuah gudang kosong yang sangat berantakan ditambah lagi kayu yang sudah melapuk. Ify sedikit bahagia saat mendapati adiknya masih berada dengannya. Namun kebahagiaan itu memudar seiring dengan empat orang pria bertubuh kekar dihadapannya. Dan satu diantara mereka adalah Mathin.

Mathin menampar Sivia. Ify sangat kaget. Ingin sekali ia membalas perlakuan pria bermata sipit itu, apa daya tangannya sedang terikat tali.

“Dimana berliannya?”

“Sampai detik ini aku belum menemukan berlian itu.”

Sivia hanya diam menyaksikan perbincangan Ify dengan pria menakutkan itu. Apakah kakaknya mengenal orang-orang ini?

“Kau telah menemukannya kan?” Tanya Mathin. “Kau tidak mau memberikannya karena sekarang keluarga kalian sedang bangkrut dan uang adalah obat yang mujarab.”

Mathin memisahkan Sivia dan Ify. Mereka berdua memberontak. Tapi apa artinya dua tenaga perempuan dengan empat tenaga pria?
                                             ****
“Dimana adik ku? Apa yang kau lakukan kepadanya?” Tanya Ify saat mendapati bahwa hanya ada ia, 4 orang pria, dan tak ada Sivia. Ify sangat tahu bahwa saat ini ia sedang berada di hutan.

“Sekarang dia baik, tapi semua tergantung kepada mu. Kau harus merahasiakan ini dan segera membawa berlian itu atau aku akan memotong-motong adik mu menjadi banyak bagian. Jika kau pintar, kau tidak akan dikubur disebelah ayah mu. Jangan sampai polisi tahu tentang hal ini!”
                                            ****
Ify turun dari mobil van hitam itu dengan lemah, tak berdaya, dan putus asa. Dia hampir tak bisa menahan kakinya untuk berjalan. Apa yang harus ia katakan kepada ibunya? Sivia dalam bahaya.

Rio yang melihat Ify berjalan seperti mayat hidup, mendekatinya. Ify terkejut saat mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Rio. “Ini aku Rio”. Ucap Rio berusaha menenangkan gadis itu.


“Apa kau mencari ini?” Tanya Rio sambil menyodorkan sebuah berlian biru yang telah ditemukannya. Ify menatap berlian itu serinci mungkin, dan kemudian teleponnya berbunyi.


                     ~~~~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~~~~

Sabtu, 07 November 2015

Cinta Tanpa Syarat Chapter 1

              Cinta Tanpa Syarat Chapter 1


------------Dilarang keras mengcopy paste--------------







Gagang telepon rumah yang digenggam tangannya jatuh seakan tak ada sedikitpun tenaga yang menyangga. Suara berat disebrang sana sayup-sayup terdengar mengisyaratkan bahwa orang itu berbicara dengan keras. Seluruh tubuh gadis itu bergetar. Sungguh, sesuatu yang sangat tak ingin didengarnya. Tidak butuh waktu lama, hingga tubuh tegapnya tumbang. Dadanya penuh sesak. Ingin sekali ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, namun isak tangis menahan paru-parunya. Isak tangis yang terdengar begitu pilu. Rambut ikalnya yang tertata rapi menjadi sasaran amukan. Ditatapnya lekat-lekat gagang telepon rumah yang sudah terjatuh ke lantai. Untuk pertama kali, ia berharap jika salah dengar.
****
Gadis dengan koper besar memeluk satu-satu orang-orang yang menyambutnya. Raut kerinduan terpampang nyata di wajah gadis itu. Dia tersenyum hangat.

"Fy, ada apa kau datang jauh-jauh dari Roma ke Istanbul?" Tanya wanita paruh baya yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa bahagia dengan kejutan yang didapatkannya.

"Why not? Turki adalah negara kelahiran ku." Wanita itu -Ify- berpura-pura kesal. Pertanyaan ibunya seakan tak ingin mengharapkan kedatangannya. Walaupun Ify tahu bahwa itu tidak benar.

"Tentunya juga untuk merayakan ulang tahun ku." Ulang tahun. Sesuatu yang selalu ditunggu-tunggunya. Sungguh, kehangatan keluarga membuatnya damai dari segala kesibukan yang menghimpit selama ini.

"Ooh, beberapa hari lagi kau akan dewasa." Pria dengan setelan jas yang rapi memasukkan tangannya ke dalam kantung celana. Meskipun rambutnya sudah memutih, namun karismatik yang ia miliki tak pernah pudar. Memimpin perusahaan terbesar di Istanbul, bukankan itu sesuatu yang 'Wah' ? Pria yang selalu suka membuat orang lain terkejut. Ify sangat menyayanginya. Gadis itu berusaha menahan haru jika mengenang masa kecilnya dengan ayahnya.

"Aku ingin kado yang istimewa di ulang tahun ku dari ayah."
****
Begitu polosnya langit malam ini, hanya bertemankan rembulan. Tak ada sedikitpun bintang yang menghiasi. Lain halnya dengan gadis cantik ini. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Matanya terpejam menikmati bau khas kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu pertumbuhannya. Kamar yang sangat luas untuk ditempati satu orang.

"Bagaimana keadaan di Roma, Kak?" Perempuan dengan rambutnya yang terurai menghentikan aksi Ify. Perempuan yang terlihat lebih muda beberapa tahun dari Ify, menjabat sebagai adik kandungnya.

"Baik." Ify tersenyum. Kini adiknya sudah tumbuh besar sama seperti dirinya. Waktu sungguh cepat berlalu. "Bagaimana dengan sekolah mu?" Lanjut Ify. Mendadak gadis cantik ini teringat akan kelulusan adiknya, karena seharusnya adiknya yang bernama Sivia itu sudah lulus tahun ini.

Sivia tersenyum penuh kemenangan. Senyum yang selalu membuat Ify berdecak. Perempuan yang satu ini selalu punya jiwa saing, batin Ify.

"AKU LULUS DENGAN NILAI TERBAIK SE-ISTANBUL!!" Sivia menjerit-jerit tak karuan. Suara lengking Sivia terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

"Astaga! Suaramu menggema di setiap sudut rumah."

Sivia terkekeh malu karena dirinya ibunya terganggu.

"Kemana ayah, bu?" Pertanyaan Ify menghentikan tawa Sivia, mau tak mau gadis berbehel itu mengalihkan pandangannya mengikuti pandangan Ify. Benar saja, ayah mereka sudah rapi dengan setelan jas kebanggaannya dan berjalan menuju lift.

"Ayah mu memang selalu mengecek beberapa file setiap jam segini ."

Ify tidak menyalahkan pekerjaan ayahnya. Dia sering melihat ayahnya seperti itu. Namun ada hal lain yang membuatnya tidak setuju jika ayahnya pergi malam ini juga.

Ify mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar, mencoba memastikan bahwa yang dilihatnya beberapa waktu yang lalu bukanlah ilusi semata. Langit mendung dan angin berhembus kencang.

"Cuacanya sedang buruk. Sebentar lagi akan hujan."
****
Cahaya matahari menembus ventilasi kamar. Mencoba mengintip siapa yang ada di dalamnya. Gadis berdagu tirus itu menyerah. Dia sudah tidak kuat dengan cahaya matahari yang menyilaukan mata. Ify menggeliat berusaha melenturkan otot-ototnya yang kaku. Badannya masih penat, namun matahari mampu mengalahkannya. Sebenarnya gadis itu sudah terjaga dari setengah jam yang lalu, hanya saja matanya sangat berat untuk terbuka.

"Pagi yang cerah!" Sapa Ify menantang matahari. Kebiasaan yang tak pernah hilang dari dulu.

KRING! KRING!

Ify sudah dihadiahi sebuah panggilan telepon rumah. Dengan langkah setengah berlari, gadis berdagu lancip itu mengangkat telepon.

"Halo. Dengan kediaman Denaizer disini. Ada yang bisa saya bantu?"

"Kami dari kepolisian."

Ify terdiam. Berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Polisi? Untuk apa polisi menelpon pagi-pagi? Apakah Sivia membuat ulah lagi? Sekelebat pertanyaan muncul di otaknya. Adiknya itu memang hobi membuat masalah.

"Kami membawa kabar buruk. Saya harap keluarga Denaizer tabah menghadapinya."

Ify mengernyitkan keningnya. Tak ada sedikit pun kata terlontar dari bibir tipisnya. Ingin rasanya ia menutup telepon dan mengabaikan saja. Hanya saja ada sisi lain yang membuat Ify penasaran, kabar buruk apa yang dibahas polisi ini?

"Tuan Ahmed Denaizer ditemukan tewas tertembak pistol bersama seorang remaja di mobilnya."

Seketika itu, suasana haru biru menyelimuti gadis berdagu tirus itu.
*****
"Apakah benar dia tunangan mu?"

Pria bertubuh jangkung itu terdiam. Berita kematian tunangannya mampu menghentikan kerja syaraf otaknya. Hati kecilnya terus mematahkan bahwa semua ini hanyalah mimpi dan ketika dia terbangun semuanya akan lenyap dan kembali seperti semula. Dengan ragu, pria itu menyibak kain putih yang menutupi wajah gadisnya. Wajah yang membingkai indah setiap mimpinya.

Benar. Sangat benar. Yaa! Itu tunangannya. Perempuan yang bernama Acha Krysabel. Perempuan yang sudah lama mengisi kekosongan hatinya. Perempuan yang sudah ia tetapkan sebagai "yang terakhir" Perempuan yang dua hari lagi akan resmi menjabat sebagai tunangannya. Kenapa takdir cinta sepahit ini?

"Aku harap kau sabar menghadapinya Rio." Agni mengusap pelan bahu sahabatnya. Dia tahu betapa terpukulnya Rio. Kehilangan bukan hal yang mudah bukan?

Rio memeluk tubuh dingin Acha. Memperhatikan serinci mungkin wajah Acha agar ia tak akan melupakannya. Rio mengeluarkan sebuah benda dari kantung jaketnya. Benda yang sangat berharga baginya. Bahkan Rio tak rela meninggalkan benda itu sendirian. Tapi apa daya, kini benda itu hanya tinggal kenangan bahwa ia pernah akan bertunangan dengan seorang perempuan bernama Acha Krysabel. Rio memasukkan cincin pertunangannya ke jari manis Acha. Sedetik kemudian Rio tersenyum miris, andai saja ia diberi kesempatan melihat senyum Acha ketika ia menyematkan cincin itu.
****
Derap langkah terdengar menggema mewarnai suasana hitam putih rumah sakit. Sekumpulan manusia menangis karena kehilangan. Ify berada diantara mereka. Entah mengapa langkah kakinya terdengar begitu penasaran. Pikirannya bahkan kosong.

"Kau saja yang lihat Fy. Aku tidak tahan melihatnya."

Tak ada yang yakin jika Ify mendengar perkataan ibunya. Langkah kakinya terus menggema. Kontras dengan isi hatinya yang seakan berkata bahwa Ayahnya baik-baik saja.

"Apakah dia Ayah mu?"

Jemari mungil Ify mulai menelusuri kain putih itu. Dan kenyataan memang begitu menyakitkan untuk diterima. Semua keraguan yang melandanya kini sirna tanpa bekas. Apa mau dikata. Memang Ayahnya yang tengah terbujur kalu dihadapannya saat ini.

"Ya dia memang ayah ku." Ify menangis di tubuh ayahnya. Ify masih tidak terima dengan kepergian ayahnya.

"Maaf nona, kau bisa merusak bukti."

"AYAH KU KEDINGINAN DISINI"

Entah apa yang terpikirkan oleh gadis berambut ikal itu. Ia sangat takut jika dihadapkan kenyataan buruk ini.

"Nona Ify. Maaf sebelumnya. Polisi membutuhkan penjelasan mu."
*****
Wartawan masih setia dengan kamera mereka sambil berlari-lari kecil. Berusah mengejar objek untu meminta penjelasannya barang sepatah dua patah kata. Gadis berkaca mata hitam itu berjalan tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya yang hampir putus asa agar ia angkat bicara. Dibalik kaca mata hitam yang membingkai indah matanya, tersimpan gurat kesedihan yang begitu mendalam. Hatinya terus meracau agar orang-orang disekitarnya ini pergi dan tidak menambah keperihan di hatinya lagi. Kenapa mereka hanya mementingkan tugas mereka saja? Tak mengertikah mereka sakitnya ditinggalkan orang yang kita cintai dimalam kebahagian?
****
Ify takjub dengan semua ini. Ledakan yang sempat dikiranya bom, malah kini menjadi unsur ketakjubannya. Lihatlah! Potongan pita yang berkelap kelip jatuh mendarat di puncak kepalanya. Layaknya kupu-kupu yang baru saja mencapai tahap akhir metamorfosis. Ify sangat suka itu, terlebih lagi semua orang yang disayanginya telah berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

"Demi tuhan yah, Ify suka semuanya." Gadis berdagu tirus itu sama sekali tak merenggangkan pelukannya. Entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya tertahan dan ingin lebih lama lagi memeluk Ayahnya.

"Kau bilang kau sudah besar." Ayahnya tanpa ragu membalas pelukan Ify. Sebuah pelukan yang sangat dirindukan tentunya. Karena saat kau beranjak dewasa, kau tak bisa dengan bebas memeluk ayah mu. Entah mengapa ada benteng pembatas antara ayah dan anak. "Anak ayah..."
****
Kenangan manis tentang pesta ulang tahunnya terputar tanpa ada yang meminta. Ify masih kekeuh bahwa ayahnya belum meninggalkan dunia yang fana ini. Ia tak habis pikir bagaima mungkin ayahnya terbunuh karena tertembak pistol dan ditambah lagi dengan seorang gadis yang seumuran dengannya ikut terbunuh bersama ayahnya. Syok. Stres. Depresi. Mungkin hanya kata-kata itu yang bisa dideskripsikan dari gadis ini.

"Bisa kau katakan nona, bagaimana keadaan malam sebelum Tuan Denaizer meninggal?" Cakka -sang pengintograsi- mengajukan satu pertanyan.

"Saat itu.. Ayah ku mengadakan pesta menyambut kepulangan ku dan juga pesta ulang tahun ku. Tidak banyak yang diundang. Hanya keluarga, sahabat dan karyawan Denaizer holding. Usai pesta, aku kembali ke kamar ku. Dan kemudian adik dan ibu ku ikut bergabung. Aku melihat ayah menaiki lif sekitar jam 12 malam. Ibu bilang ayah memang selalu ke kantor jam segitu untuk memeriksa beberapa file. Setelah itu kami pergi tidur, dan aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya..." Ify menangis terisak. Sesak di dadanya tak mampu diluapkan. Cakka terus mengetik semua ucapan Ify. Tangannya terhenti ketika gadis itu menangis.

"Tenanglah nona."

"Aku bangun dan sudah mendapatkan kabar bahwa ayah ku sudah meninggal."

"Lalu, apa kau tau siapa gadis itu? Apakah kau mengenalnya? Namanya Acha Krysabel."

Ify menggeleng pelan. Jangankan mengenal gadis itu, kalau bukan karena pria ini mungkin ia tak pernah mendengar nama itu.

Merasa belum cukup untuk mendapatkan informasi, Cakka kembali melontarkan pertanyaan.
"Apakah Tuan Denaizer punya wanita simpanan? Apa nona punya hipotesis mengapa wanita itu bisa bersama Tuan Denaizer saat pembunuhan terjadi?"

Entah mengapa ucapan Cakka seakan sindiran telak untuknya. Hatinya yang begitu rapuh kini seperti terbakar batu bara yang begitu panas.

BRAAKK!

Siapapun disana pastinya akan terlonjak kaget. Ify memukul meja mengakibatkan suara hantaman yang terdengar begitu keras. Siapa yang menyangka jika gadis mungil ini kuat juga.

"Jaga bicara mu Pak Polisi! Aku baru saja kehilangan ayah ku dan kau bilang ayah ku punya wanita simpanan?! Dimana hati nurani mu?!"
Ify berdiri. Kilatan mata terpancar di matanya. Siapa anak di dunia ini yang ingin ayahnya direndahkan?

"Tenanglah nona!" Entah untuk ke berapa kalinya Cakka mengatakan kalimat yang sama. Namun setidaknya, usahanya sedikit berhasil. Ify kembali duduk. Tak ada gunanya bukan, jika ia membuat masalah dengan polisi?

"Coba nona ingat-ingat lagi." Sekarang gantian, Cakka yang berdiri. Entah mengapa pria dengan style harajukunya itu berjalan-jalan mengelilingi Ify sambil berpikir. Mata Ify bergerak mengikuti arah kaki Cakka, menunggu apa yang harus diingatnya. "Mungkin Tuan Denaizer penah mengatakan sesuatu tentang gadis itu atau bahkan tak sengaja menyebut nama gadis itu."

Ify bangkit dan menggeram kesal. "TIDAKKAH KAU MENGERTI, AKU BARU SAJA KEHILANGAN. AKU SAMA SEKALI TIDAK TAHU MENAHU TENTANG GADIS ITU. APAKAH KAU SUDAH PUAS?!!" Walaupun Ify berbicara dengan volume yang tak bisa dikatakan normal, tapi isak tangis terdengar jelas di sela-sela kata yang diucapkannya. Posisi mereka sama-sama berdiri. Ify sepertinya lebih suka marah sambil berdiri, mungkin dengan begitu ia bisa dengan bebas meluapkan amarahnya.

"Nona! Ini bukan masalah puas atau tidak puas. Kami sedang menyelidiki pembunuhan ayah nona. Maka dari itu kami butuh penjelasan yang lengkap." Sepertinya Cakka terpancing emosi. Kesabarannya benar-benar diuji hari ini.

"AKU YAKIN DIA BUKAN WANITA SIMPANAN AYAH KU. DIA HANYALAH GADIS MURAHAN YANG INGIN MEREBUT KEKAYAAN AYAH KU!"

BRAAKK!

Bukan. Bukan Ify yang melakukannya. Apalagi Cakka. Bahkan itu bukanlah pukulan meja melainkan dobrakan pintu. Dobrakan pintu dari seorang pria bernama Rio dan tentunya dengan seorang petugas yang berusaha menahannya dari belakang. "ACHA BUKAN GADIS MURAHAN!" Raut wajahnya sudah tak bisa dijelaskan.

Ify terdiam. Acha? Bukankan dia gadis yang dikatakan tadi? Lalu siapa siapa pria ini? Mengapa dia begitu marah? Apakah dia keluarganya. Batin Ify terus bertanya-tanya.

"Rio, keluarlah!"

Rio sama sekali tak bergeming dari posisinya. Ia menatap lekat-lekat gadis yang telah menghina tunangannya itu. Cakka menghela napas. Seharusnya dia yang paling marah karena menghadapi dua insan yang sama-sama tak bisa diajak kompromi.

"Kalian dengar semuanya!" Rio mengedarkan pandangannya ke arah Cakka dan Ify tak lupa pula petugas yang menahannya. "Aku akan membuktikan sendiri bahwa tunangan ku. Acha Krysabel. Bukan wanita simpan ayah mu atau pun gadis murahan." Telunjuk Rio tepat mengarah pada Ify. Hatinya sangat panas, bahkan untuk berpikir jernih sedikit saja. Rio keluar dari ruangan itu.

Ify terhenyak. Ia sangat merasa bersalah mengatakan hal itu kepada pemuda yang mengaku tunangan Acha. Ify menatap Cakka dalam. "Ini semua salah mu! Karena kau aku bicara kasar!"
****
Rumah dengan kayunya yang telah melapuk menjadi latar selanjutnya. Seorang wanita yang tentunya sudah tua karena rambut yang memutih terlihat sangat cemas. Dan ketika mendapati sang anak pulang dengan wajah kusut kian menambah kecemasannya.

"Bagaimana nak?" Tanya wanita tua itu sekedar memastikan bahwa dugaannya salah.

Rio terdiam. Dalam sekejap ia berlari memeluk ibunya. Tangis yang berusaha ia tahan sedari tadi, kini tumpah ruah dalam dekapan ibunya.

Ibunya mengusap punggung Rio pelan berusaha menenangkan anaknya. "Tabahkan hati mu nak!"
****
"Nona, ada yang ingin berjumpa dengan nona. Katanya ingin mengucapkan belasungkawa."

Lamunan Ify buyar seketika. Dengan terburu-buru jari lentiknya mengusap air mata yang membentuk sungai kecil di pipi.

"Ah.. Kau suruh masuk saja Hulliya."

"Baik nyonya."

Dua orang berpenampilan rapi muncul dari balik pintu. Ify menyipitkan matanya, berusaha mengingat siapa dua pemuda itu. Matanya benar-benar asing dengan mereka. Keheranannya kian bertambah ketika mendapati pria yang satu menjaga pintu masuk sementara pria kedua menghampirinya.

"Saya turut berduka cita atas kepergian Tuan Denaizer." Kata pria itu.

"Ya terima kasih!" Antara sadar dan tidak sadar Ify mengatakannya. Matanya terus meneliti lebih dalam pria yang dihadapannya melalui gerak gerik. "Apakah anda kesini hanya ingin mengucapkan terimakasih?" Entah mengapa firasat Ify mengatakan suatu hal yang buruk akan terjadi.

Pria itu duduk, menampakkan seringaian liciknya. Ia menarik kursi Ify agar lebih dekat dengannya menggunakan kaki. Ify yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba, terlonjak kaget. Pemuda itu mencengkeram dagu Ify dengan jarinya disertai tatapan membunuhnya. Mampu membuat gadis yang sangat tidak suka dagunya dipegang terdiam tak melawan. "Dimana berliannya?"

Ify mengernyitkan keningnya. Dia benar-benar tak mengerti arah pembicaraan pria ini. Apakah dia salah orang?
"Berlian apa?" Ify mulai berani menyuarakan suara.

Pria itu semakin mengeratkan tangannya. Membuat Ify sedikit meringis kesakitan. "Jangan pura-pura tidak tahu!"

"Aku memang tidak tahu." Suara Ify tidak begitu jelas terdengar mungkin karena efek cengkeraman pemuda itu.

"Kau harus menemukan berlian itu!" Ify mengangguk dengan cepat agar pria ini hilang dari hadapannya. "Waktunya sampai lusa. Jika kau tidak juga memberikan berlian itu, kau akan tahu akibatnya." Pria itu melepaskan cengkeramannya. Ify hanya diam berusaha meresapi apa yang baru saja didengarnya. Apakah 2 pria ini yang telah membunuh ayahnya hanya karena berlian? Siapa mereka? Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan satu kalimat saja.

"Jangan sampai ada yang tahu!" Pria itu berdiri meninggalkan ruang kerja Ify bersamaan dengan masuknya Ny.Zerin -Ibu Ify-

"Fy, siapa mereka?" Tanyanya.

"Teman Ayah bu. Mereka ingin mengucapkan belasungkawa."

Ify dengan cepat menyesap air putih yang ada di hadapannya. Berusaha menghilangkan kegugupan yang telah tercipta. "Ooh.. Tapi kenapa yang satunya berjaga di pintu."

Tak bisa dipungkiri tangan Ify bergetar kencang sehingga menjatuhkan gelas berisi air tersebut. Tentu saja itu membuat Ny. Zerin kaget. Ada apa dengan anak gadisnya?

"Kau baik-baik saja Fy?"

"Hmm,, aku baik bu."

~~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~