Cinta Tanpa Syarat Chapter 2
------ DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE --------
------ DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE --------
Kembang api menghiasi malam yang
kelam. Dentuman-dentuman yang terus menerus tak hanya membentuk lukisan tetapi
juga orkestra. Siapapun yang melihat akan terbawa suasana hangat meski tak
seluruh dari mereka merasakannya. Seperti halnya dua makhluk yang baru saja
dilanda kehilangan.
Mata Ify berkaca-kaca memandang
langit yang sepertinya kewalahan menampung letusan.Dentuman itu mengingatkannya
akan peristiwa ulang tahunnya. Tentu mengingatkannya akan malam terakhir ia
melihat ayahnya. “Andai aku tahu Ayah akan pergi secepat ini, mungkin aku tidak
akan melepaskan pelukan itu.”
Ify teringat sesuatu, berlian.
Yah, berlian, berlian apa maksudnya?
****
Dalam kebisuan menanti sesuatu
yang tak akan pernah kembali. Meringkuk lm dinginnya malam. Apa yang salah?
Apkah waktu sudah berjalan terlalu lama? Jika iya, mengapa seakan cepat berlalu
hingga tanpa disadari kini hanya tinggal kenangan. Acha Krysabel. Bukankah kita
punya tujuan hidup yang sama? Mengapa justru kau lebih mendahului.
Kau bahkan tak melihat betapa
indahnya langit saat letusan itu membaur.Entah mengapa ulu hati kian tertohok
setiap kali kembang api berbunyi. Letusan itu seakan menghina kemirisan hidup.
“Aku akan cari pembunuhnya!”
****
Masih dengan nyeri di kepala, Ify
melangkahkan kakinya. Lingkaran hitam disekitar kelopak matanya sudah cukup
menjadi bukti bahwa gadis itu tidak tidur semalaman. Tak ada sedikit pun garis
lengkung yang tercetak di bibir tipisnya. Hanya wajah kusut penuh duka.
Kakinya terus melangkah menuju
kantor Ayahnya, Denizer Holding. Tak ada niat sedikit pun mengambil alih
perusahaan Ayahnya, hanya sekedar menjalankan moto hidup harus lanjut terus.
“Wajah mu sangat pucat, Fy. Ayo
kita minum teh dulu!” Shilla melangkah berusaha menyamakan posisinya dengan
Ify.
Minum teh? Tawaran yang bagus.
Tapi ada yang lebih bagus lagi. Mencari berlian itu, lalu terbebas dari ancaman
dua pria gila kemaren.
“Ah.. tidak usah Shil. Aku baik.”
Dengan cepat kaki mungil Ify
berpindah ke ruangan kerja Ayahnya yang kini resmi menjadi miliknya.
Meninggalkan Shilla yang tampaknya tak mau repot-repot memaksa Ify untuk minum
teh bersama dirinya.
Mata Ify bergerak lincah mencari
tempat yang sekiranya dihuni oleh berlian. Hatinya menggerutu kesal karena pria
aneh itu hanya menyuruhnya mencari berlian, sementara ia sama sekali tidak
diberi tahu ciri-cirinya.
Nothing. Tak ada apa-apa kecuali
hanya ornamen ruangan atau berkas-berkas. Ify mengacak rambutnya frustasi.
Hanya tinggal esok baginya untuk menyerahkan berlian itu. Jangankan
menyerahkannya, letaknya saja Ify tidak tahu.
Nomor tak dikenal. Hanya itu yang
tampak dari indra penglihatannya saat memeriksa telepon gnggam. Dengan lihai
gadis berdagu tirus itu menekan tombol hijau.
“Selamat pagi cantik. Apa kau
sudah menemukan berliannya?”
Ify meneguk ludah dalam sekedar
membasahi kerongkongan yang mendadak mengering. Bagaimana pria ini tau nomor
handphonenya? Jantungnya memompa lebih cepat, keringat dingin sudah mengalir
dari dahinya. Siapa mereka?
“Kau datang ke pelabuhan. Dalam
waktu sepuluh menit kalau tidak datang kau akan tahu apa akibatnya!”
****
“Aku mohon kembalilah ke PAM,
Rio!”
“Tidak kak. Aku akan pindah tugas
ke Istanbul. Dan aku akan menemukan pembunuhnya.”
Pria yang rambutnya sudah memutih
sebagian itu menghela napas. Gurat kekecewaan terpampang di wajahnya, mengingat
sang adik yng sangat keras kepala. Bukannya tak ingin melihat Rio bertugas di
Istanbul, tapi dengan keadaan Rio seperti ini ia sangat tak yakin jika adiknya
yang kepala batu itu berhasil memecahkan kasus. Ditambah lagi korbannya adalah
tunangan Rio.
“Aku kira setelah aku menjadi
polisi, tidak ada lagi orang yang ku sayangi meninggal karena dibunuh seperti
ayah.” Rio memejamkan matanya. Saat itu, ia memang sangat kecil untuk memahami
semuanya. Ketika ayahnya terbunuh dan ia melihat sendiri kejadian pahit itu.
Cakka masuk ke dalam ruangan dan
mendapati Rio beserta kakanya –Obiet- saling terdiam. Melihat hal itu, Cakka
kembali melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Tak sampai dua langkah pria itu
berjalan, Rio sudah menahannya. “Ada yang ingin ku tanyakan kepada mu.”
Cakka mengangguk. Ia
memperhatikan komandannya –Obiet- untuk membiarkan ia dan Rio sendiri. Obiet
mengerti, dengan cepat ia keluar dari ruangan.
“Apa yang kau ketahui, Cakka?”
Rio sudah bisa mengontrol emosinya, terlihat dari nada bicaranya yang sedikit
bersahabat.
“Kita hanya melihat mereka
tertembak pada saat mobil sedang parkir. Kita belum tahu pria itu menjemput ke
rumah atau di jalan. Kita akan segera mengetahui dari kamera pengintai.
Entahlah banyak kemungkinan terjadi, dia adalah pria yang sangat kaya dan
satunya seorang wanita yang.... Acha” Kata Cakka saat Rio menatapnya.
“Acha hanyalah seorang guru
sekolah dasar. Apa yang dilakukan seorang pengusaha besar dengan Acha? Pati ada
yang salah disini.” Sahut Rio.
Cakka dan Rio keluar dari ruangan
tersebut untuk mencari udara segar. Mereka tidak akan bisa berpikir dengan
jernih, jika berada di ruangan yang rasanya punya sedikit oksigen. Rio melihat
Ibu dan adiknya Acha disana. “Apakah Bu Fatma siap diwawancara?” Sungguh, Rio
tidak mampu melihat wanita paruh baya itu menangis karena kehilangan anaknya.
“Bu Fatma, Rio mengantar Acha
pulang sekitar jam 10 malam, jam berapa dia pergi meninggalkan rumah?” Tanya
Cakka yang tampaknya tak mau kehilangan waktu sedikit pun.
“Dia tidak pergi kemana-mana.
Sekitar jam 11 dia bilang jika dia akan pergi tidur, begitupun dengan kami
semua. Aku tidak mendengar suara pintu atau apa pun.”
“Coba Bu Fatma ingat lagi. Karena
detail sekecil apa pun sangat berguna untuk kami.” Rio mengambil selembar foto, Ahmed Denizer. “Pria
ini bernama Ahmed Denizer. Apa ibu tau orang ini?”
Bu Fatma memperhatikan serinci
mungkin Foto tersebut. Kemudian ia menatap Rio kecewa, Bu Fatma menggeleng.
*****
Seorang wanita mengeluh pada
mertuanya. “Acha akan menjadi bagian dari keluarga kita, dia bisa mati dimana
saja. Tapi dalam pelukan pria berusia 60 tahun, ini sangat memalukan!”
Mertuanya hanya menggeleng pelan melihat menantunya –Melike- yang sangat suka
sekali bergosip.
“Keke!”
Bibi Elvant –Ibu Rio&Obiet-
mengelus dadanya. Teriakan Melike mampu
membuatnya serangan jantung.
“Hapus make up mu! Kita tidak
akan pergi ke acara pernikahan tapi pemakaman!”
****
Bu Fatma membawa Rio ke kamar
Acha. Kedua manik mata Rio langsung menangkap gaun pertunangan Acha yang
tergantung di pintu. Hatinya kian remuk saat melihat foto mereka berdua yang
terselip di cermin. Rio merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Acha. Merasakan
setiap kehangatan gadis itu yang mampu membuatnya tenang.
Kedua telaga bening Rio terbuka,
mendadak kepalanya mendapat pencerahan. Rio bangkit dan mulai memeriksa
ruangan. Dia membuka semua lemari dan buku. Tapi tidak ada apa-apa. Disela-sela
keputus asaannya, dia melihat sesuatu yang memancar dibawah tatakan di dinding.
Rio mengambil benda tersebut yang tertempel dengan permen karet, ternyata
sebuah berlian biru. Rio mengerutkan keninganya, “kenapa benda ini bisa ada di
kamar Acha?”
Pada saat yang bersamaan, Cakka menelpon dan
mengatakan ada hal yang penting. Dengan gesit, pria jangkung itu memasukkan
berlian yang baru saja ditemukannya kedalam saku jaketnya dan berjalan
meninggalkan kamar Acha.
****
“Nona Ify, Ayah mu mencuri
berlian itu dari kami. Kami ingin berlian itu kembali. Berlian yang bernilai
110 juta. Kami membayarnya tetapi ayah mu tidak memberikannya kepada kami. Kau
adalah penerusnya, kau yang akan memberikan berlian itu sendiri kepada kami.”
Pria bermata sipit itu menatap Ify tajam. Tak ada sedikit pun ketakutan yang
terpancar di wajahnya.
Ify hanya diam menatap pria yang
mengaku bahwa dirinya bernama Mathin. Harus bagaimana lagi caranya agar pria
ini mengerti bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu dengan berlian itu.
Mathin menarik kasar rambut Ify.
“Kau tak tahu kami, tapi kami tahu semua tentang diri mu. Kau adalah perancang
perhiasan juga kan?” Pria bermata sipit itu menguatkan tarikan rambut Ify. “Kau
tidak boleh memberi tahu hal ini kepada siapa pun, termasuk ibu mu. Jika kau
melapor kepada polisi, aku akan tahu.” Mathin tersenyum licik.
****
“Kami baru saja menemukan rekaman
cctv.”Ucap Cakka saat Rio tiba di kantor polisi.
Seorang petugas di koridor
mendatangi mereka. “Dari record sambungan telepon ahmed Denizer dan Acha
Krysabel,mereka berdua tidak saling berhubungan dengan via telepon.” Ucapan
petugas itu yang mampu membuat Rio tersenyum setelah berita kematian
tunangannya.
“Aku tahu itu.” Gumam Rio puas.
Mereka membuka pintu dan
mendapati Obiet yang sedang murka. Cakka dan Rio saling berpandangan, ada apa?
“Beberapa bagian rusak dan
berhenti.” Merasa diperhatikan, Obiet menjelaskan kemarahannya. Mereka terlalu
antusias tapi tak ada satu pun yang memberi petunjuk, bukankah itu menyebalkan?
“Boleh aku lihat rekamannya kak?”
Ijin Rio. Obiet mempersilahkan adiknya melihat rekaman cctv tersebut. Tak jauh
berbeda, Rio mengumpat kesal.
“Video rekamannya telah diubah!”
Cakka mendekat ke arah Rio, untuk
memperhatikan rekaman tersebut. Tak ada yang aneh tertangkap oleh indra
penglihatan Cakka. Ya meskipun ada beberapa bagian rusak, tapi tidak begitu
mengubah rekamannya.
“Lihatlah! Ada waktu jeda yang
hilang sekitar 1 jam.” Rio menggerakkan jari telunjuknya ke arah monitor
komputer.
“Ya bisa saja itu digunakan
mereka untuk relax.” Cakka berkata dengan wajah tanpa dosanya yang diberi
hadiah tatapan maut dari Rio. “Mmm, itu hanya asumsi ku saja.” Ucap Cakka salah
tingkah.
“Aku mau lihat file tentang
pembunuhan itu.”Rio tak menghiraukan hipotesis konyol Cakka. Karena baginya,
tak mungkin gadisnya seperti itu.
“Buat apa?”
“Lakukan saja perintah ku!”
“Ya terserah mu saja.” Cakka
mendengus kesal. Ingin sekali ia diberi mukjizat pada saat itu juga untuk
memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain.
“Acha Krysabel dan Ahmed Denizer
dibunuh dengan senjata yang sama..” Gumam Rio sambil mempelajari file tersebut.
Mata Rio terhenti saat menemukan sesuatu pada tubuh Acha. Sebuah luka akibat
goresan. Kemungkinan Acha diseret, itu berarti Acha dibunuh ditempat lain dan kemudian dimasukkan ke
dalam mobil.
Rio mengambil dua buah kursi dan
mensejajarkannya. Cakka hanya diam melihat semangat Rio. “Cakka kau duduk
disini!” Perintah Rio khas dengan nada otoriternya. Cakka menautkan kedua
alisnya, meskipun begitu ia tetap menuruti perintah Rio
Cakka duduk di kursi satunya,
sementara kursi yang lain dibiarkan kosong. Rio menodongkan pistolnya ke arah
Cakka. Cakka terkejut, tanpa disadari ia mengelakkan tubuhnya. “Kau terlalu
bersemangat, kawan.” Desis Cakka.
“Apa yang akan kau lakukan jika
aku menodongkan pistol dari samping?”
“Mmm aku akan berbalik menatap
mu.” Jawab Cakka sambil berpikir.
“Tak!” Rio menirukan suara jika
pelatuk pistol ditarik. Rio menggigit bibir bawahnya, kemudian sedikit mundur
ke belakang dan kembali menirukan hal yang sama. Cakka hanya diam meskipun Rio
menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan.
“Kemungkinan besar pembunuhnya
menbunuh dari sini.” Jawab Rio sambil menujukkan posisinya. “Dan aku yakin,
Acha dibunuh di tempat lain setelah Ahmed Denizer terbunuh.”
Cakka memiringkan kepalanya.
“Bagaimana jika dari belakang mobil?”
“Ah iya. Kau benar.” Jawab Rio.
“Aku akan memeriksa mobilnya.” Rio
melangkahkan kakinya, meninggalkan Cakka.
“Tapi mobil itu telah diambil
oleh pemiliknya.” Ucap Cakka menahan Rio.
‘”Apa kau bilang?” Rio memutar
tubuhnya. Wajahnya penuh dengan amarah. “PENYELIDIKAN BELUM SELESAI, TAPI
BARANG BUKTI SUDAH DIKEMBALIKAN!”
“Itu terjadi karena tekanan dari atas,
pihak keluarga Ahmed ingin menutup kasus ini.”
Rio keluar dengan membanting
pintu.
****
“Aku butuh uang tunai.” Keluh Ify
pada majemen keuangan kantornya. Ia putus asa mencari berlian itu. Lebih baik
ia membayarnya dengan uang tunai, dari pada harus dihantui pria yang selalu
bertanya, Dimana-berliannya?
“Berapa yang nona butuhkan?”
“110 juta.” Ify memegang
kepalanya yang terasa semakin memberat. “Aku butuh 110 juta lira.”
“Maaf nona, satu tahun belakangan
ini penjualan menuruh drastis. Kita tidak punya uang tunai sebanyak itu.” Pria
itu berkata hati-hati, meskipun begitu Ify tetap saja emosi.
“Kita bisa jual rumah atau pun
bangunan-bangunan lainnya.”
“Tapi semuanya sudah digadaikan
nona.”
Ify terdiam, berusaha memastikan
bahwa ia tidak salah dengar. “Denizer Holding bangkrut?”
Pria itu mengangguk pelan.
****
Ify berjalan tanpa tujuan. Kenapa
mimpi buruk ini lama sekali berakhir? Ia sudah lelah dengan segala masalah yang
menghimpitnya.
“Fy, akan kita apakan mobil itu?
Apa kita kirim saja ke perusahaan?” Tanya Shilla yang mengikuti Ify dari tadi.
Ify mengangkat kedua bahunya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.”
****
Kenangan akan kematian Acha terus
menghantui Rio. Sudah sepuluh menit Rio melakukan pemeriksaan terhadap mobil
tersebut untuk mencari bukti-bukti baru. Tiba-tiba tangannya memegang sesuatu,
sebuah benda mengkilap. Berlian biru yang sama ditemuinya di kamar Acha.
“Apa yang kau lakukan disini?”
Suara lengking Ify menghentikan Rio. Rio menggenggam berlian tersebut dan
kemudian mematikan senternya.
“Aku akan telepon polisi!” Ify
sudah bersiap-siap mengambil telepon genggam miliknya di dalam tas sandang yang
dikenakannya.
“Aku polisi.”
Ify memicingkan matanya, ia sama
sekali tak percaya dengan pria yang ada dihadapannya saat ini. “Bagus! Aku
tidak percaya.” Sedetik lagi ia akan menghubungi polisi, but it was in vain.
“Aku Inspectur Rio.” Rio
menujukkan tanda pengenalnya. “Bergerak di bidang pembunuhan.”
Ify meletakkan kembali ponselnya.
“Apa kau menemukan sesuatu?” Sumpah demi apa, nada bicaranya seakan membalikkan
perkataannya semenit yang lalu. “Kalau pun iya, kau tak akan mengatakannya
kepada ku.” Lanjutnya.
“Itu pasti.” Jawab Rio sambil
berlalu pergi.
“Bagaimana jika aku minta
bantuan?” Rio menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan tubuhnya, berusaha
memastikan bahwa perempuan di depannya ini sedang tidak bercanda.
“Aku tahu kita memang tidak
saling mengenal, tapi apa yang terjadi pada keluarga kita tidak lah normal. Apa
yang terjadi membuat kita menderita dan bertanya-tanya setiap saat, bagaimana
ayah ku dan tunangan mu bisa saling mengenal dan mengapa mereka terbunuh.
Mungkin jika kita bekerja sama kita bisa saling membantu dan membongkar kasus
ini. Aku turut berduka cita..” Ify mengulurkan tangannya. Ia menggigit bibir
bawahnya dan berharap pria bernama Rio itu mau berjabat tangan dengannya.
Rio hanya memandangi Ify tanpa
ada niat untuk menjabat tangan wanita sombong itu. Enak saja dia mengajaknya
damai setelah berkata kasar akan tunangannya. “Aku punya banyak pekerjaan.”
“KAU BENAR-BENAR!” Ify menggeram
kesal. “AKU BERHARAP TIDAK BERTEMU LAGI DENGAN MU! KAU DENGAR ITU?!”
“Aku mendengarnya.” Sahut Rio
sambil terus berjalan.
Rio mengambil ponselnya, dan
menelpon Cakka. “Aku ingin kau menyelidiki keluarga Ahmed Denizer.” Rio
memutuskan ponselnya, tanpa memberi kesempatan bagi Cakka untuk membantah.
Tinggallah sumpah serapah dari Cakka untuk Rio.
Rio menuju TKP. Semenjak
menyelidiki kasus ini, dia belum Melihat TKP. Rio berjalan santai. Tak banyak
yang ia lihat selain jejak ban mobil dan jejak lainnya yang Rio duga sebagai
jejak Acha diseret. Tak sengaja kakinya menginjak sebuh benda. Rio sangat hapal
benda itu, anting milik Acha. Dari kejauhan, Rio melihat sebuah gubuk. Dengan
cepat pria hitam manis itu melangkahkan kakinya menuju gubuk. Darah. Ia bisa
merasakan bahwa itu adalah darah manusia dan masih segar. Itu artinya Acha
dibunuh di gubuk ini. Rio kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Cakka.
Tidak sempat Rio mendengar suara Cakka menjawab panggilannya, sebuah kayu telah
memukul bagian belakang kepalanya.
****
Ify memandang sekelilingnya
bingung. Kenapa semua keluarganya begitu sedih? Dia tahu jika keluarganya
sedang berduka, tapi sepertinya ini duka yang lain. Sivia berhamburan memeluk
Ify. “Kak, perusahaan Ayah bangkrut.”
Ify tercenung. Dia membelai
lembut rambut Sivia. “Tenanglah! Aku akan bertanggung jawab. Aku akan cari
jalan keluarnya.”
Pengecara keluarga Denizer
–Sebnem- mendekati Ify. “Kami akan tunda penyitaannya.”
“Terima kasih Sebnem.”
****
Rio membuka kelopak matanya, saat
menyadari terik matahari yang sedikit menyengat. Matanya membulat saat
mendapati gubuk tersebut sudah terbakar. Tiba-tiba mobil polisi datang. Cakka
dan Obiet mendekatinya. “Apa yang terjadi?” Tanya Obiet.
“Sudah jelas, pembunuhnya ingin
menghilangkan barang bukti.” Rio menunjukkan gubuk yang telah lenyap dimakan
api.
****
“Kau ini keras kepala sekali!”
“Kak, Sibel masih gadis.” Jawab
Rio yang tak mau disudutkan.
Obiet terdiam. “Aku dicabut dari
kasus ini.”
Rio terkejut. Apa karena dirinya
ini terjadi? Dia sungguh menyesal. “Maafkan aku kak.”
“Coba kau pikirkan kembali niat
mu untuk mengundurkan diri.” Obiet tidak menggubris permintaan maaf Rio. Ia
teringat bagaimana kepala polisi sangat marah sekali dengan adiknya. “Aku
melakukan segalanya agar kau bisa masuk akademi. Dan aku tak ingin pengorbanan
ku dulu sia-sia belaka.”
Rio tersenyum, “Aku tidak akan
bisa mngkhianati pekerjaan ku dan juga tuangan ku.”
****
“Jaga diri mu baik-baik disana.”
“Baik kak.” Sivia tersenyum pada
kakak tertuanya –Zevana-
Sivia memperhatikan ibunya yang
semenjak tadi pagi tidak mau berbicara dengannya. “Aku harap Ibu tidak akan
menyesal karena tidak sempat memeluk ku, sebelum pesawat ku jatuh.”
Ny.Zerin memeluk Sivia erat.
Membiarkan anaknya seorang diri bersekolah di negeri paman sam, bukankah itu
perkara yang cukup sulit? “Ibu pasti akan merindukan mu, Nak.”
“Kakak dari mana saja?” Ucap
Sivia saat menemui kakaknya –Ify- baru saja datang.
“Aku ada kabar baik. Ayo masuk.”
Dengan wajah sumringahnya Ify menceritakan apa yang telah terjadi. “Paman
Tayyar bersedia membiayai studi mu di Amerika.”
“Kau tidak bercanda kan Fy?”
Sivia memekik terharu. Ia memeluk tubuh Ify. Ini adalah kabar bahagia yang diterimanya
semenjak kematian ayahnya.
Mobil tiba-tiba berhenti, membuat
dua gadis yang sedang berpelukan itu bingung. Dua orang pria masuk ke dalam
mobil dan menondongkan pistol kepada mereka. Mata Ify dan Sivia ditutup oleh
kain. Mereka tidak bisa melihat apa-apa selain merasakan mobil yang melaju
kencang.
****
Sebuah gudang kosong yang sangat
berantakan ditambah lagi kayu yang sudah melapuk. Ify sedikit bahagia saat
mendapati adiknya masih berada dengannya. Namun kebahagiaan itu memudar seiring
dengan empat orang pria bertubuh kekar dihadapannya. Dan satu diantara mereka
adalah Mathin.
Mathin menampar Sivia. Ify sangat
kaget. Ingin sekali ia membalas perlakuan pria bermata sipit itu, apa daya
tangannya sedang terikat tali.
“Dimana berliannya?”
“Sampai detik ini aku belum
menemukan berlian itu.”
Sivia hanya diam menyaksikan
perbincangan Ify dengan pria menakutkan itu. Apakah kakaknya mengenal
orang-orang ini?
“Kau telah menemukannya kan?”
Tanya Mathin. “Kau tidak mau memberikannya karena sekarang keluarga kalian
sedang bangkrut dan uang adalah obat yang mujarab.”
Mathin memisahkan Sivia dan Ify.
Mereka berdua memberontak. Tapi apa artinya dua tenaga perempuan dengan empat
tenaga pria?
****
“Dimana adik ku? Apa yang kau
lakukan kepadanya?” Tanya Ify saat mendapati bahwa hanya ada ia, 4 orang pria,
dan tak ada Sivia. Ify sangat tahu bahwa saat ini ia sedang berada di hutan.
“Sekarang dia baik, tapi semua
tergantung kepada mu. Kau harus merahasiakan ini dan segera membawa berlian itu
atau aku akan memotong-motong adik mu menjadi banyak bagian. Jika kau pintar,
kau tidak akan dikubur disebelah ayah mu. Jangan sampai polisi tahu tentang hal
ini!”
****
Ify turun dari mobil van hitam
itu dengan lemah, tak berdaya, dan putus asa. Dia hampir tak bisa menahan
kakinya untuk berjalan. Apa yang harus ia katakan kepada ibunya? Sivia dalam
bahaya.
Rio yang melihat Ify berjalan
seperti mayat hidup, mendekatinya. Ify terkejut saat mendapatkan perlakuan
tiba-tiba dari Rio. “Ini aku Rio”. Ucap Rio berusaha menenangkan gadis itu.
“Apa kau mencari ini?” Tanya Rio
sambil menyodorkan sebuah berlian biru yang telah ditemukannya. Ify menatap
berlian itu serinci mungkin, dan kemudian teleponnya berbunyi.
~~~~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~~~~
