Minggu, 13 Desember 2015

Cinta Tanpa Syarat Chapter 3

                                         Cinta Tanpa Syarat Chapter 3
--------------Dilarang Keras Mengcopy Paste----------------





“Siapa dia?”

Ify memutar kepalanya ke segala arah. Bagaimana pria itu bisa tahu jika saat ini ia sedang tidak sendiri? Dari arah mana pria itu membuntutinya? Nihil. Ia bahkan sama sekali tak melihat kejanggalan. Entah karena pria itu sangat pandai menyamar atau dirinya yang terlalu panik.

“Dia.. kekasih ku.” Ify merutuki dirinya sendiri karena terlalu gegabah mengambil keputusan. Bagaimana mungkin ada yang mempercayai Rio adalah kekasihnya. Tapi lebih tidak waras lagi jika dirinya mengatakan Rio adalah seorang polisi. Dia masih ingin melihat adiknya –Sivia- bernyawa.

“Ya dia kekasih ku.” Ify berusaha meyakinkan pria itu yang kalau Ify tidak salah kira adalah Mathin.

Dari kejauhan Rio memandang Ify bingung. Seolah-olah gadis cantik itu adalah objek yang aneh. Berputar-putar di keramaian tepatnya di depan kantor Ify sendiri, bukankah itu hal yang abnormal?

Ify kehilangan akal dan kembali mengambil keputusan yang salah. Dengan tak berdosa gadis cantik itu menarik tangan Rio dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Rio, tentunya tanpa mempedulikan apa yang sedang dipikirkan Rio tentang dirinya.

CUP!!

Ini memang bukan yang pertama bagi mereka maing-masing untuk berciuman. Hanya saja, ini adalah yang pertama kalinya mereka berciuman dengan lawan jenis yang bahkan belum mereka kenal tiga hari.

Ify meneguk ludah dalam. Apa yang telah dilakukannya? Lupakan masalah Mathin yang sudah memutus sambungan teleponnya setengah menit yang lalu! Sekarang, apa yang harus dijelaskannya pada pria yang tampaknya sedang menahan napas?

Betul. Rio menahan napas. Tampaknya menunjukkan ekspresi kaget pada wanita sombong dihadapannya lebih penting dari pada menghirup oksigen. Ify Denizer, gadis cantik dari keluarga yang terhormat mencium seorang polisi yang baru dikenalnya di tempat keramaian, apa dia sedang bermimpi?

Ify sadar apa yang telah dilakukannya bukan sesuatu yang sepele. Kesalah pahaman bisa terjadi, mengingat keterkejutan Rio. Gadis berambut pirang itu menarik tangan Rio masuk ke dalam. “Aku berutang kepada mu. Aku tidak akan melupakan ini.” Kata Ify sambil terus menaiki tangga.

“Apa yang terjadi? Kau utang penjelasan kepada ku.” Rio terus mengikuti Ify. Ia tak ingin urusan ini hanya berakhir tanpa penjelasan. Bukannya terayu dengan ciuman gadis itu, hanya saja gerak gerik Ify sangat mencurigakan.

“Hey! Kenapa kau diam saja?”

Ify tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang hanya terlintas di benaknya hanya gengsi dan bagaimana terbebas dari Mathin.

“Apa yang kau takut kan? Tampak sekali kau dalam masalah. Jangan keras kepala aku bisa membantu mu.” Kata Rio

Ify berhenti dari segala pergerakannya. Bukan karena kesadaran diri atau sejenisnya, tapi Rio yang telah menahan langkahnya. “Bukan sesuatu yang penting.”

Gadis bermata coklat itu menyerah. Ia kehabisan akal bagaimana cara mengusir Rio dengan cara halus. Ify seperti melihat bayangannya sendiri, kepala batu. “Aku akan jelaskan nanti. Kau masuk saja ke ruangan itu dulu. Minum teh atau semacamnya.” Ify menunjuk sebuah ruangan dengan dagu tirusnya. “Aku akan cuci wajah terlebih dahulu.”
                                            ****
Mathin menatap ponselnya penuh selidik. Ia memperhatikan foto Ify dan Rio berciuman dengan teliti. Sedikit kesal karena gambar yang dihasilkan sangat buram.

“Kau yakin mereka sedang tidak bersandiwara?”

“Sepertinya tidak, Tuan.”
                                               ****
Sensasi sejuk menyelimuti wajah gadis ini saat air kran bersentuhan dengan kulitnya. Meskipun begitu pikiran takut akan keselamatan Sivia terus menghujamnya. Ify mendesah pelan melihat bayangannya di cermin. Wajahnya yang dulu berseri kini tampak pucat karena tekanan yang menghimpit.

Nomor tak dikenal. Ify memicingkan matanya. Seingatnya dia baru saja menyimpan nomor pria itu, tapi kenapa nomor ponselnya berbeda lagi? Apakah dia punya perusahaan kartu ponsel?

“Sudah berapa lama kau berpacaran dengan pria itu?”

Ify tidak menjawab, karena tidak tahu harus berkata apa. Berbohong bukanlah keahliannya.

“Kau harus memutuskan hubungan dengan pria itu! Jika tidak, kau akan mendapat kiriman potongan tubuh Sivia.”
                                              ****
Kristal bening tak kunjung lenyap dari kelopak matanya. Bukan ia yang meminta, tapi tekanan dan kecemasan seakan menghantuinya hingga tanpa disadari butiran halus itu menetes tanpa jeda. Sivia terus menangis tanpa peduli akan maskara yang sudah meluntur. Tak lupa pula jeritan ketakutan yang berdampingan disela-sela tangisnya. Sivia bahkan tak peduli dengan pria yang tampaknya sangat kesal dengan suara lengkingnya. Terlihat jelas karena pria itu menutup kupingnya dengan kedua telapak tangan.

Telinga Sivia dapat menangkap gelombang suara yang tentunya hampir setiap hari didengar. Gadis itu menghentikan tangisannya mencoba memastikan bahwa yang baru saja didengarnya bukanlah khayalan semata. Ponsel yang diletakkan didalam tas nya berbunyi. Secercah harapan bahwa orang terdekatnya mengkhawatirkan dirinya.

Ada masalah lain. Karena yang memiliki gendang telinga tak hanya Sivia, pria anarkis itu juga mendengarnya.

“Bagaimana aku bisa melupakan nya?” Dengan tangkas pria itu mengambil ponsel Sivia dan membantingnya hingga handphone keluaran terbaru itu tidak berfungsi. Kakinya menginjak ponsel tersebut hingga hancur berkeping-keping. Merusak secercah harapan bagi Sivia dan gadis itu kembali menangis.
                                            ****
Ny.Zerin menatap ponselnya tidak percaya. Sudah berjam-jam berlalu, namun kenapa pesawat Sivia belum juga berangkat. Terlihat dari sambungan telepon Sivia yang artinya anak gadisnya masih berada di Istanbul. Wanita paruh baya itu kemabali menekan beberapa digit angka yang sudah dihapalnya di luar kepala.

“Fy, apa semuanya baik-baik saja?” Tanyanya penuh selidik.

“Mmm, maksud Ibu?” Tak mau kalah dengan Ibunya, gadis bermata cokelat itu malah melontarkan pertanyaan.

“Apa pesawat Sivia sudah berangkat?”

“Tentu saja sudah. Kenapa Ibu menanyakan itu?” Jika saja pertahanannya runtuh, mungkin gadis itu sudah menitikkan air mata. Tak ada yang baik. Adiknya bahkan diculik, bagaimana mungkin dia mengatakan semuanya ?

“Lalu kenapa Ibu bisa meneleponnya? Itu artinya Sivia ada di Istanbul.” Ny.Zerin mengerutkan keningnya sehingga menghasilkan lipatan-lipatan kasar.

Ify menggigit bibir bawahnya. Sekarang, bagaimana cara menjelaskan kepada Ibunya. Apakah dirinya harus berbohong –lagi- ? “Ibu jangan cemas. Ponsel Sivia tertinggal di bandara.”

“Hhh. Anak itu memang ceroboh.” Ny.Zerin bernapas lega bahwa tak ada hal buruk yang terjadi pada anaknya. “Fy, tolong ingatkan kepada Sivia agar ia membeli ponsel yang baru?!”

“Baik bu.”

Itulah alasan dilarangnya berbohong. Dari satu kebohongan kecil akan bercabang hingga diri mu sendiri dililit berjuta kebohongan. Hingga kau lupa dimulai dari mana untuk mengatakan kejujuran.
                                              ****
Ify menyeka titik air yang meluap dari kelopak matanya tanpa permisi. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah toko tanpa memperhatikan para penjaga toko yang tampak heran dengan mata sembabnya. Ify mengambil sebuah bungkusan yang didalamnya adalah obat penenang dikala kekacauan melanda dirinya. Apalagi kalau bukan sebatang coklat. Memakan makanan yang manis, begitulah cara gadis itu meredam kesedihannya.

“Nona, kembalian mu!” Ucap penjaga toko sambil berteriak. Bukannya menolak rezeki, tapi rezeki yang diberikan sangatlah banyak untuk sebatang coklat.

“Ambil saja!”

Ify terus melangkahkan kakinya sambil mengunyah cokelat yang baru saja dibelinya.  Telinganya seakan tuli sementara karena terlalu antusias memakan cokelat. Tanpa terasa, Ify sudah berada di depan tokonya. Ify teringat bagaimana ayahnya yang telah tiada mengajaknya ke tempat itu.
                                           ****
Pria jangkung itu tak kunjung menghentikan langkahnya. Sudah berapa lama ia berputar-putar tanpa arah. Bukan karena tersesat atau semacamnya, hanya saja begitulah caranya menunggu seseorang yang juga tak menampakkan batang hidungnya.

Rio menggeram kesal. Pasti gadis itu telah membohonginya. Hal ini kian mempererat kecurigaan Rio. Jika tak ada apa-apa kenapa wanita itu menghindarinya?

Rio keluar dari ruangan dan mendapati Shilla yang memandangnya penuh selidik. “Dimana Nona Ify?” Rio tidak peduli apa yang ada di pikiran gadis cantik di hadapannya.

“Mmm ada apa?”

“Tidak usah banyak tanya!”

“Semua terserah pada mu. Aku akan beri tahu dimana Ify, jika kau mengatakan ada urusan apa kau dengannya?”

Rio mengepal tangannya. Kenapa hari ini begitu menyebalkan? “Jika kau tak ingin memberi tahu. Aku akan cari tahu sendiri.” Jawab pemuda hitam manis itu dingin.
                                             ****
“Apa kalian sudah menemukan perkembangan?”

“Belum pak.” Keluh Agni sambil menggigit bibir bawahnya. Tampak sekali gadis berlesung pipi itu kelelahan. Tangannya tak henti mengobrak-abrik berkas.

“Jangan sampai pembunuhnya lepas dari pengawasan kita!” Kepala polisi itu menatap tajam pada Obiet yang tampaknya sedikit canggung. Tentu saja pria itu canggung. Ia sudah dikeluarkan dari kasus ini.

“Kau keluar dari ruangan! Aku tidak ingin kau memberi tahu hasil rapat kepada saudara mu, Rio.”
                                               ****
Ify berjalan menurun menyusuri tangga. Gadis itu mulai mencari-cari sesuatu, berharap agar ia dapat menemukan berliannya. Pada saat yang bersamaan, Rio muncul dihadapannya. Ify terperangah, terlebih kini Rio tidak sedang sendirian. Ada 2 orang yang mengikutinya di belakang. Bagaimana dia bisa tahu?

“Aku tahu kau sedang dalam masalah.” Rio memulai pembicaraannya. Nada bicaranya sedikit melembut.

“Mereka Cakka dan Agni.” Rio menunjuk kedua sahabatnya. “Mereka juga polisi. Kami semua akan membantu mu.”

Cakka dan Agni tersenyum. Ada sedikit keraguan dari diri mereka masing-masing. Dan tentunya kebingungan dengan apa yang telah terjadi antara Rio dan Ify.

Ify menatap 3 insan yang ada dihadapannya. Ingin sekali gadis itu menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Penculikan Sivia, peneroran dirinya, dan tentunya juga kematian Ayah. Dan sekali lagi, lidahnya kelu. Ify teringat akan ancaman Mathin agar ia tak memberi tahu siapa pun. Lagi pula ada 3 polisi disini.

“Apa kau berpikir seperti itu setelah aku mencium mu?” Tanya Ify.
Cakka dan Agni saling berpandangan. Mereka mengernyitkan dahi meminta kepastian.

“Ada seseorang yang begitu terobsesi kepada ku. Dia mengikuti ku. Kemudian aku mengambil seseorang dan menciumnya.” Jelas Ify.

“Jadi kau lari dari pacar mu?” Tanya Rio tetap dengan pandangan tidak percaya. Namun, gadis itu mengangguk pasti.

Rio, Cakka, dan Agni beranjak pergi meninggalkan toko. Mereka memilih makan di warung kaki lima dekat toko Ify. Terlihat jelas bahwa Rio masih tidak puas dengan penjelasan Ify.

“Kenapa tidak?” Tanya Cakka yang sangat mengerti kegelisahan Rio. “Dia orang kaya dan kau pria yang tampan. Ciuman bukan lah hal yang penting untuk nya.” Lanjut Cakka.

“Ya Tuhan..” Rio memegang dahinya. Tidak percaya bagaimana mungkin sesingkat itu jalan pikiran Cakka. “Ayahnya baru saja meninggal. Apa itu sesuatu yang wajar?”

Agni mengambil ponselnya dan mulai menelusuri internet. Gadis itu menemukan wawancara Ify setengah bulan yang lalu. “Ify Denizer, Designer berlian.” Agni membaca judul wawancara tersebut. Matanya bergerak lincah mencari informasih yang berkaitan dengan kisah asmara Ify.

 “Ify Denizer, apa kah kau memiliki kekasih? Tidak, sudah 1 tahun aku tidak memiliki kekasih.” Ucapan Agni membuat Rio tersenyum bangga.

“Tidak berarti kita harus menginvestigasi dia kan?” Tanya Cakka yang masih bersikeras.

“Ada seseorang yang berusaha menutup kasus ini secepatnya. Sejak dia mencium ku hari ini, aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan dan aku akan mengetahuinya.” Kata Rio lalu pergi setelah melihat Ify keluar dari tokonya.
                                              ****
Ify menekan bel. Dia tidak yakin dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini, namun apa salahnya mencoba? Pintu terbuka dan gadis berdagu lancip itu mendapati seorang wanita paruh baya yang menatapnya heran.
“Aku teman sekolahnya Acha.” Jawab Ify.

“Ah.. kau temannya Acha ternyata. Kami sudah mengirim undangan ke sekolahnya, namun tidak ada yang datang. Syukurlah kau hadir nak.” Jawab Bu Fatma sambil mempersilahkan Ify masuk.

Ify mengikuti pengajian kematian Acha. Adik Acha menangis dalam pelukan Ify. Ify dapat merasakan betapa terpukulnya gadis yang berada dalam pangkuannya saat ini. Sedangkan Rio menunggu dengan tidak sabar di luar rumah Acha.
                                             ****
Ny.Zerin datang memimpin rapat. Matanya bergerak mencari seseorang, namun orang itu tetap tidak ada. “Dimana Ify?”

“Nona Ify tidak datang, Nyonya.”

Ny.Zerin menghela napas. “Rapat dibatalkan.” Perkataannya mampu membuat beberapa pegawai memaki dalam hati. Bagaimana tidak? Mereka sudah menunggu satu jam dan rapat dibatalkan. Sungguh, hal yang sangat menyebalkan.

“Shilla, dimana Ify?”
Shilla menggelang pelan. Dia memang tidak tahu dimana keberadaan gadis itu saat ini.

“Perempuan itu masih perawan.” Ucap Ny.Zerin teringat dengan berita di koran yang baru saja dibacanya pagi ini. “Aku ingin mengadakan jumpa pers untuk membersihkan nama suami ku.”
                                             ****
Ify memutar knop pintu. Ia masuk ke kamar Acha tentunya tanpa izin siapa pun. Kedua telaga beningnya menangkap sebuah kotak. Sebuah kotak yang sama seperti milik ayahnya. Gadis itu mengambil kotak tersebut dan memasukkannya ke dalam tas sandang yang dikenakanya dan membawanya keluar.

Ify membuka kotak itu dan berharap agar berlian yang dicarinya ada di sana. Namun ia kalah cepat dengan Rio yang sudah merebut kotaknya.

“Saat aku menunjukkan berlian di tangan ku, kau sama sekali tidak tertarik. Kau bahkan lebik tertarik dengan kotak ini.” Kata Rio sambil mengamati kotak tersebut. “Karena kau tahu, jika berlian itu palsu. Kau ahlinya kan?” Tanya Rio. Ify mengetatkan rahangnya agar rasa kesal bercampur gugup yang melandanya dapat hilang.

Rio membawa kotak itu dan berlalu pergi dengan mobilnya.Ia melirik kaca spionnya dan mendapati Ify mengikutinya. Rio menambah laju mobilnya dan tersenyum saat Ify mengambil lajur yang berbeda dengannya. Ia tidak menyangka jika Ify punya jurus jitu sehingga mobilnya menghadang mobil Ro. Rio terpaksa menarik hand remnya dengan keras agar mobilnya tidak menabrak mobil Ify. Rio terperangah melihat kenekatan Ify.

Ify turun dari mobil dan mendatangi Rio. “Buka jendelanya dan aku akan mengatakan apa yang aku cari.” Kata Ify.

Io turun dan tetap memegang kotak itu seakan-akan takut kehilangan benda berbentuk balok tersebut. “Kau melakukan adegan yang sangat berbahaya. Kau yang paling putus asa. Maka katakan pada ku terlebih dahulu.” Kata Rio.

“Aku mengetahui jika ayah ku menyembunyikan berlian dan aku harus menemukannya segera.” Jawab Ify yang berusaha menahan kemarahan.

“Apakah kematian ayah mu ada hubungannya dengan kotak ini?”

“Dengar! Kami bangkrut, ada beberapa orang datang untuk menagih hutang. Kau mengerti?!” Kata Ify sambil merebut kotak itu dari tangan Rio.

“Biar aku yang buka!” Kata Rio yang masih tidak mau merelakan kotak tersebut.

Ify menghela napas panjang, “Hanya aku yang bisa membuka kotak itu.”

“Benarkah?” Tanya Rio sambil memicingkan mata. Rio menyerahkan kotak tersebut, “Aku mau kau membukanya di depan ku.”

Ify membuka gelang yang di kenakannya di tangan kanan, kemudian menempelkan gelang tersebut ke kotak berwana cokelat itu. Kotak iu terbuka. Tapi tidak ada apa pun disana. Gadis itu mengguncang dengan kuat namun sekali lagi tidak ada apa pun disana.

“Untuk apa ayah mu membuat kotak-kotak seperti itu?” Tanya Rio sebelum Ify membanting kotak tersebut.

“Untuk membuat orang lain bahagia. Di dalamnya sering terdapat permen, mainan dan hadiah-hadiah lainnya.” Kata Ify sambil tersenyum mengingat kenangannya bersama ayahnya.

Ify masuk ke dalam mobil, namun Rio menutup pintu mobil tersebut dengan keras. “ Aku tidak percaya kepada mu. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dan aku tidak pernah salah.”

Ify mendorong Rio, sudah cukup dirinya menahan emosi. “Jangan ikuti aku lagi! Ayah ku meninggal, jiwa ku mati, kau pun berduka. Aku hanya mencoba mengerti. Pergilah dan lampiaskan kepada orang lain.” Kata Ify hampir menangis.

Rio hanya diam melihat gadis itu yang sudah berlalu pergi dengan mobilnya.
                                                 ****
“Aku butuh uang.” Ucap Shilla kepada Debo, manajer keuangan.

“Maaf Shil, tapi tidak bisa. Kondisi perusahaan tidak memungkinkan.”

“Aku mohon sekali ini saja!”

“Ify juga membutuhkan uang dalam jumlah yang sangat besar.”

“Ify?” Tanya Shilla menaikkan alis kirinya.
                                               ****
“Apa aku boleh masuk?” Tanya Shilla meminta izin masuk ke ruang kerja Ify.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Ayo masuk!”

“Aku tahu kau sedang dalam masalah Fy.” Ucap Shilla mengwali pembicaraaan. “Katakan kepada ku. Kita sudah berteman sejak sekolah menengah pertama. Aku mohon jangan ada yang disembunyikan antara kita berdua.”

“Aku tidak bisa mengatakannya.” Ify menggenngam tangan Shilla, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa ia tidak ingin menutupi sesuatu dari Shilla. “Jika aku mengatakannya maka masalah juga akan menghampiri mu Shilla.”

“Baiklah.” Shilla tersenyum. “Oh iya. Tadi ada paket untuk mu dan aku meletakkannya di atas meja.” Ucap Shilla yang teringat sesuatu hal.

Tubuh Ify menegang. Pikiran buruk mulai menguasai otaknya. Ia dengan tidak sabar membuka paket itu dan mendapati kalung Sivia dan sebuah pesan, “Saudara mu mengirim ini dan dia mengirim pesan kepada mu agar tidak melupakannya, dia ingin agar kau cepat menemukan berliannya.”

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Kata Ify sambil memegang kepalanya.
Debo masuk ke ruangan Ify. Ia menatap heran pada Ify yang tampaknya sangat putus asa.

“Ada apa?” Tanya Ify.

“Tuan Ahmed menyimpan sesuatu di deposit box.”
                                               ****
Bu Fatma memberi barang-barang milik Acha kepada Rio. Rio mengambil barang tersebut, “ Apakah ada sesuatu yang Ibu sembunyikan atau curigai?”

Bu Fatma mengingat malam dimana anaknya meregang nyawa. Sebenarnya setelah Rio mengantarkan Acha, gadis tersebut keluar dari rumah. Acha berjanji kepadanya bahwa ia hanya pergi selama satu jam saja. Namun, takdir tak dapat ditolak. “Apa kau mulai percaya dengan perkataan orang lain tentang Acha” Tanyanya yang seola-olah tidak tahu apa-apa. “Aku tidak mencurigainya dan seharusnya kau juga begitu.”

Di dalam mobilnya, Rio membuka barang milik Acha. Pemuda hitam manis itu tertawa saat mengingat bagaimana barang tersebut ia berikan kepada Acha. Hatinya kian luluh saat melihat foto Acha di pasport. Dia ingat pasti setiap detik perempuan itu tertawa karena mereka akan pergi ke Italia. Buliran hangat itu kembali menitik.
                                                ****
Kedua telapak kaki Ify tak hentinya mengetuk-ngetukkan ubin. Tampak sekali gadis berleher jenjang itu sedang gelisah. Pikirannya campur aduk. Setidaknya, ada secercah harapan bahwa di dalam deposit box itu terdapat berlian sumber masalah hidupnya.

Ify membuka deposit box itu dengan hati-hati layaknya jika sedikit saja gadis itu ceroboh maka benda tersebut akan rusak. Ny.Zerin yang melihat sikap tegang anaknya pun ikut tegang. Pemandangan pertama kali yang disuguhkan adalah sekumpulan dokumen. Tentu, gadis itu tidak akan menyerah begitu saja. Jarinya mulai mengobrak-abrik isi depoit box tersebut, mana tahu ada berlian yang terselip di dalamnya.

Tidak ada berlian. Namun ada selembar foto yang mungkin lebih mengejutkan dibandingkan jika berlian di dalamnya. Foto Acha, tunangan Rio, gadis yang sedang dibicarakan. Sungguh, foto itu telah menghancurkan kepercayaan Ify terhadap ayahnya.

“Ada apa Fy?”

Ny.zerin melihat foto itu dengan tanpa ekspresi. Tentu dengan perasaan yang jauh lebih kacau dari anaknya.

                                             ****
Seorang pemuda bermata biru terbangun dari tidurnya. Pria itu mengecek ponselnya dan mendapati pesan dari seseorang yang sangat dirindukannya. Dan ternyata pesan tersebut berupa video Sivia.

“Aku akan sekolah ke New York, Ray. Jangan ganggu aku!”

Ray tersenyum sinis. Ke New York? Aku akan menyusul mu Sivia.

                                               ****
Mathin melirik sadis dengan apa yang ada di hadapannya. Seorang mayat yang baru saja terbunuh dan berlumuran darah, tentunya sedikit bau amis. Mathin meneguk ludah dalam dengan apa yang telah dilakukan pamannya, Tayyar.

“Ada apa?” Tanya Tayyar sambil membersihkan wajahnya yang terkena semburan darah dengan tissue. “Aku harap, itu adalah kabar baik.”

“Aku tidak tahu ini kabar baik atau buruk. Namun, Ify punya seorang kekasih.”

“Kekaih? Siapa namanya?

Mathin menggeleng menunjukkan ketidak tahuannya. Memang itu lah nyatanya. Bagaimana mungkin dia tahu, sementara fotonya saja buram.

“Cepat kau cari tahu!”

“Baik Paman!”
                                                  ****
“Aku tidak menemukan berliannya.” Keluh Ify. Gadis cantik itu menatap langit yang berhiaskan bintang. Mata bulatnya mentap penuh kagum pada setiap bintang disana. Ingin sekali gadis itu terbang ke langit dan menjelma menjadi salah satu diantara milyaran bintang.

“Kita lupakan berliannya.” Jawab Mathin dengan tenang.

“Apa maksud mu?” Ify tersedak mendengar penuturan Mathin. Oi, bukankah pria ini yang memaksanya menemukan berlian tersebut?

“Kita buat kesepakatan baru.”

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Ify penuh selidik. Penjahat tidak mungkin selembut ini.

“Kau harus mencuci uang kotor kami. Kau pergi ke Roma dan mengirim uang kotor itu melalui rekening mu ke rekening kami.”

Ify mengernyitkan dahinya. Sungguh demi apa pun, gadis bermata cokelat itu tidak mengerti. Tapi ia yakin, apa yang telah diminta Mathin adalah sesuatu yang buruk. “Aku tidak bisa. Ini tidak benar. Aku tak pernah melakukan kejahatan selama hidup ku.”

“Oh ya? Sayangnya, aku dan Ahmed Denizer adalah partner.” Kata Mathin santai tanpa mempedulikan Ify yang benar-benar kalut saat ini. “Aku tidak ingin membuang waktu ku.” Mathin meninggalkan Ify dengan mobilnya.

“Hey! Apa yang akan terjadi kepada Sivia?!” Teriak Ify sambil berusaha mengejar mobil Mathin.

Sebuah video terkirim kepadanya. Gadis itu dengan buru-buru melihat video tersebut dan mendapati bagaimana para mafia tersebut menyiksa Sivia. Ify kembali menangis. Gadis itu lemah dan jatuh terduduk di lantai memandangi adik nya yang menderita di sana. Ingin rasanya ia saja yang disiksa. Kenapa harus Sivia?!

Ponsel Ify berdering. “Kau binatang! Kau binatang! Bagaimana kau bisa melakukan hal sekejam itu?” Tanya Ify sambil berteriak.

“Diam! Kalau kau tidak diam, aku akan merobek tenggorokan adik mu!” Kata Mathin.

Ify berusaha tenang meskipun dadanya naik turun menahan emosi. “Baiklah aku diam. Aku berjanji akan melakukan perintah mu.”

“Bagus. Kamis pagi jam 10. Kau harus sudah berada di bandara. Tunggu perintah selanjutnya.”
                                            ****
“Aku tidak yakin jika Ify bisa melakukannya.” Kata Mathin sambil menatap Ify dibaik jendela mobil.

“Serahkan pada ku. Kita lihat apa dia menutup mulutnya atau tidak.” Kata Tayyar dingin.
                                           ****
“Aku tahu kau keluar dari pekerjaan mu.” Kata Shilla berusaha menenangkan kekasihnya.

Gabriel menghela napas, memang itu lah adanya. Ia di keluarkan dari pekerjaanya dan dia sama sekali tidak tahu harus apa sekarang. “Terima kasih atas segalanya. Aku akan mencari rumah. Sudah hampir satu bulan aku tinggal di sini.”

“Jangan begitu, itu tidak masalah. Asalkan kau tidak bosan kepada ku, aku akan senang.” Jawab Shilla sambil tersenyum.

“Mmm, apa kau sudah memecahkan misteri tentang sahabat mu itu?” Tanya Gabriel yang sepertinya teringat seuatu.

“Ify menyembunyikan sesuatu dari ku. Tapi, aku akan tahu nanti.Aku sangat yakin Ahmed Denizer punya simpanan harta.”

“Sudahlah, ini bukan urusan kita.” Gabriel bingung dengan apa yang ada di pkiran Shilla. Memang apa untungnya mengurusi urusan orang lain?

“Bukan urusan kita?” Tanya Shilla sambil mengangkat sebelah alisnya. “Aku bekerja mati-matian untuk mereka. Aku tahu cepat atau lambat mereka akan melempar ku ke jalan. Tapi tidak akan semudah itu,. Aku tidak akan pergi tanpa membawa apa pun.Aku akan mendapat kan milik ku dan pergi.” Ucap Shilla. Keduanya saling menautkan bibir dalam kedinginan malam.
                                               ****
“Mungkin saja pria itu Ahmed menyukai Acha dan memberinya banyak hadiah. Setelah tahu berlian yang Ahmed berikan palsu, Acha kemudian membunuh Ahmed.”

Sudah satu jam yang lalu, Cakka dan Rio beradu mulut. Cakka masih kekeuh dengan pendapatnya. Rio tak menerima analisa Cakka dan menghadiahi pria berkulit putih itu dengan tamparan. Ujung bibir Cakka menitikkan darah. Ia tak percaya dengan apa yang dilakukan Rio kepadanya. Sementara Agni hanya diam tanpa tahu apa yang harus dilakukan.

Rio pergi dari rumah Agni. Agni mengejarnya dari belakang. “Kau jangan terlalu memikirkan perkataan Cakka.”

Rio membalikkan tubunya. “Kau juga berpikiran sama dengan dia?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku setuju dengan pendapat mu, jika kunci dari semuanya adalah Ify.”

Rio tersenyum karena Agni masih mempercayainya. “Terima kasih.”
                                              ****
“Mengapa kau tidak mengatakan hal penting itu kepada ku?” Tanya Ny.Zerin.

Ify meneguk ludah dalam. Kemungkinan besar Ibunya sudah tahu apa yang terjadi pada Sivia, mengingat Paman Tayyar berada di rumahnya.

“Aku berterima kasih atas bantuan mu Tayyar. Sivia tinggal di hotel mu. Kami telah merepotkan mu Tayyar.” Ucap Ny.Zerin dengan wajah cerianya.

“Ah tidak usah berlebihan! Baiklah, aku harus pergi sekarang.”

“Biar aku yang mengantar mu Paman!” Ucap Ify yang berusaha menutupi kekagetannya. Ia mengambil jaket tebalnya dan mengantarkan Paman Tayyar ke luar.

“Ada apa Fy? Apa yang terjadi? Aku tidak bisa berkata di depan Ibu mu. Dimana Sivia? Apakah ada sesuatu yang mencemaskan?” Tanya Tayyar pura-pura tidak tahu.

Ify menghela napas. Ia ingin menceritakan apa yang terjadi namun ia ragu. “Sivia tinggal bersama temannya. Karena Ibu tidak suka pada temannya Sivia maka kami menyembunyikan hal itu. Aku harap paman merahasiakan hal ini.”

“Baiklah.” Tayyar tersenyum.

Tayyar masuk ke dalam mobilnya dan dihadiahi pertanyaan dari Mathin. “Bagaimana paman?”

“Ify lolos tes. Dia akan melakukan pekerjaan kita. Dia gadis dengan kemauan yang kuat.”
                                                      ****


~~~~~~~~~~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~~~~~~~~~~~

Minggu, 08 November 2015

Cinta Tanpa Syarat Chapter 2

                        Cinta Tanpa Syarat Chapter 2




        ------ DILARANG KERAS MENGCOPY PASTE --------








Kembang api menghiasi malam yang kelam. Dentuman-dentuman yang terus menerus tak hanya membentuk lukisan tetapi juga orkestra. Siapapun yang melihat akan terbawa suasana hangat meski tak seluruh dari mereka merasakannya. Seperti halnya dua makhluk yang baru saja dilanda kehilangan.

Mata Ify berkaca-kaca memandang langit yang sepertinya kewalahan menampung letusan.Dentuman itu mengingatkannya akan peristiwa ulang tahunnya. Tentu mengingatkannya akan malam terakhir ia melihat ayahnya. “Andai aku tahu Ayah akan pergi secepat ini, mungkin aku tidak akan melepaskan pelukan itu.”

Ify teringat sesuatu, berlian. Yah, berlian, berlian apa maksudnya?
                                           ****
Dalam kebisuan menanti sesuatu yang tak akan pernah kembali. Meringkuk lm dinginnya malam. Apa yang salah? Apkah waktu sudah berjalan terlalu lama? Jika iya, mengapa seakan cepat berlalu hingga tanpa disadari kini hanya tinggal kenangan. Acha Krysabel. Bukankah kita punya tujuan hidup yang sama? Mengapa justru kau lebih mendahului.

Kau bahkan tak melihat betapa indahnya langit saat letusan itu membaur.Entah mengapa ulu hati kian tertohok setiap kali kembang api berbunyi. Letusan itu seakan menghina kemirisan hidup. “Aku akan cari pembunuhnya!”
                                      ****
Masih dengan nyeri di kepala, Ify melangkahkan kakinya. Lingkaran hitam disekitar kelopak matanya sudah cukup menjadi bukti bahwa gadis itu tidak tidur semalaman. Tak ada sedikit pun garis lengkung yang tercetak di bibir tipisnya. Hanya wajah kusut penuh duka.

Kakinya terus melangkah menuju kantor Ayahnya, Denizer Holding. Tak ada niat sedikit pun mengambil alih perusahaan Ayahnya, hanya sekedar menjalankan moto hidup harus lanjut terus.

“Wajah mu sangat pucat, Fy. Ayo kita minum teh dulu!” Shilla melangkah berusaha menyamakan posisinya dengan Ify.

Minum teh? Tawaran yang bagus. Tapi ada yang lebih bagus lagi. Mencari berlian itu, lalu terbebas dari ancaman dua pria gila kemaren.

“Ah.. tidak usah Shil. Aku baik.”

Dengan cepat kaki mungil Ify berpindah ke ruangan kerja Ayahnya yang kini resmi menjadi miliknya. Meninggalkan Shilla yang tampaknya tak mau repot-repot memaksa Ify untuk minum teh bersama dirinya.

Mata Ify bergerak lincah mencari tempat yang sekiranya dihuni oleh berlian. Hatinya menggerutu kesal karena pria aneh itu hanya menyuruhnya mencari berlian, sementara ia sama sekali tidak diberi tahu ciri-cirinya.

Nothing. Tak ada apa-apa kecuali hanya ornamen ruangan atau berkas-berkas. Ify mengacak rambutnya frustasi. Hanya tinggal esok baginya untuk menyerahkan berlian itu. Jangankan menyerahkannya, letaknya saja Ify tidak tahu.

Nomor tak dikenal. Hanya itu yang tampak dari indra penglihatannya saat memeriksa telepon gnggam. Dengan lihai gadis berdagu tirus itu menekan tombol hijau.

“Selamat pagi cantik. Apa kau sudah menemukan berliannya?”

Ify meneguk ludah dalam sekedar membasahi kerongkongan yang mendadak mengering. Bagaimana pria ini tau nomor handphonenya? Jantungnya memompa lebih cepat, keringat dingin sudah mengalir dari dahinya. Siapa mereka?

“Kau datang ke pelabuhan. Dalam waktu sepuluh menit kalau tidak datang kau akan tahu apa akibatnya!”
                                           ****
“Aku mohon kembalilah ke PAM, Rio!”

“Tidak kak. Aku akan pindah tugas ke Istanbul. Dan aku akan menemukan pembunuhnya.”

Pria yang rambutnya sudah memutih sebagian itu menghela napas. Gurat kekecewaan terpampang di wajahnya, mengingat sang adik yng sangat keras kepala. Bukannya tak ingin melihat Rio bertugas di Istanbul, tapi dengan keadaan Rio seperti ini ia sangat tak yakin jika adiknya yang kepala batu itu berhasil memecahkan kasus. Ditambah lagi korbannya adalah tunangan Rio.

“Aku kira setelah aku menjadi polisi, tidak ada lagi orang yang ku sayangi meninggal karena dibunuh seperti ayah.” Rio memejamkan matanya. Saat itu, ia memang sangat kecil untuk memahami semuanya. Ketika ayahnya terbunuh dan ia melihat sendiri kejadian pahit itu.

Cakka masuk ke dalam ruangan dan mendapati Rio beserta kakanya –Obiet- saling terdiam. Melihat hal itu, Cakka kembali melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Tak sampai dua langkah pria itu berjalan, Rio sudah menahannya. “Ada yang ingin ku tanyakan kepada mu.”

Cakka mengangguk. Ia memperhatikan komandannya –Obiet- untuk membiarkan ia dan Rio sendiri. Obiet mengerti, dengan cepat ia keluar dari ruangan.

“Apa yang kau ketahui, Cakka?” Rio sudah bisa mengontrol emosinya, terlihat dari nada bicaranya yang sedikit bersahabat.

“Kita hanya melihat mereka tertembak pada saat mobil sedang parkir. Kita belum tahu pria itu menjemput ke rumah atau di jalan. Kita akan segera mengetahui dari kamera pengintai. Entahlah banyak kemungkinan terjadi, dia adalah pria yang sangat kaya dan satunya seorang wanita yang.... Acha” Kata Cakka saat Rio menatapnya.

“Acha hanyalah seorang guru sekolah dasar. Apa yang dilakukan seorang pengusaha besar dengan Acha? Pati ada yang salah disini.” Sahut Rio.

Cakka dan Rio keluar dari ruangan tersebut untuk mencari udara segar. Mereka tidak akan bisa berpikir dengan jernih, jika berada di ruangan yang rasanya punya sedikit oksigen. Rio melihat Ibu dan adiknya Acha disana. “Apakah Bu Fatma siap diwawancara?” Sungguh, Rio tidak mampu melihat wanita paruh baya itu menangis karena kehilangan anaknya.

“Bu Fatma, Rio mengantar Acha pulang sekitar jam 10 malam, jam berapa dia pergi meninggalkan rumah?” Tanya Cakka yang tampaknya tak mau kehilangan waktu sedikit pun.

“Dia tidak pergi kemana-mana. Sekitar jam 11 dia bilang jika dia akan pergi tidur, begitupun dengan kami semua. Aku tidak mendengar suara pintu atau apa pun.”

“Coba Bu Fatma ingat lagi. Karena detail sekecil apa pun sangat berguna untuk kami.” Rio  mengambil selembar foto, Ahmed Denizer. “Pria ini bernama Ahmed Denizer. Apa ibu tau orang ini?”

Bu Fatma memperhatikan serinci mungkin Foto tersebut. Kemudian ia menatap Rio kecewa, Bu Fatma menggeleng.
                                       *****
Seorang wanita mengeluh pada mertuanya. “Acha akan menjadi bagian dari keluarga kita, dia bisa mati dimana saja. Tapi dalam pelukan pria berusia 60 tahun, ini sangat memalukan!” Mertuanya hanya menggeleng pelan melihat menantunya –Melike- yang sangat suka sekali bergosip.

“Keke!”

Bibi Elvant –Ibu Rio&Obiet- mengelus dadanya. Teriakan Melike mampu  membuatnya serangan jantung.
“Hapus make up mu! Kita tidak akan pergi ke acara pernikahan tapi pemakaman!”
                                            ****
Bu Fatma membawa Rio ke kamar Acha. Kedua manik mata Rio langsung menangkap gaun pertunangan Acha yang tergantung di pintu. Hatinya kian remuk saat melihat foto mereka berdua yang terselip di cermin. Rio merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Acha. Merasakan setiap kehangatan gadis itu yang mampu membuatnya tenang.

Kedua telaga bening Rio terbuka, mendadak kepalanya mendapat pencerahan. Rio bangkit dan mulai memeriksa ruangan. Dia membuka semua lemari dan buku. Tapi tidak ada apa-apa. Disela-sela keputus asaannya, dia melihat sesuatu yang memancar dibawah tatakan di dinding. Rio mengambil benda tersebut yang tertempel dengan permen karet, ternyata sebuah berlian biru. Rio mengerutkan keninganya, “kenapa benda ini bisa ada di kamar Acha?”
 Pada saat yang bersamaan, Cakka menelpon dan mengatakan ada hal yang penting. Dengan gesit, pria jangkung itu memasukkan berlian yang baru saja ditemukannya kedalam saku jaketnya dan berjalan meninggalkan kamar Acha.
                                             ****
“Nona Ify, Ayah mu mencuri berlian itu dari kami. Kami ingin berlian itu kembali. Berlian yang bernilai 110 juta. Kami membayarnya tetapi ayah mu tidak memberikannya kepada kami. Kau adalah penerusnya, kau yang akan memberikan berlian itu sendiri kepada kami.” Pria bermata sipit itu menatap Ify tajam. Tak ada sedikit pun ketakutan yang terpancar di wajahnya.
Ify hanya diam menatap pria yang mengaku bahwa dirinya bernama Mathin. Harus bagaimana lagi caranya agar pria ini mengerti bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu dengan berlian itu.

Mathin menarik kasar rambut Ify. “Kau tak tahu kami, tapi kami tahu semua tentang diri mu. Kau adalah perancang perhiasan juga kan?” Pria bermata sipit itu menguatkan tarikan rambut Ify. “Kau tidak boleh memberi tahu hal ini kepada siapa pun, termasuk ibu mu. Jika kau melapor kepada polisi, aku akan tahu.” Mathin tersenyum licik.
                                            ****
“Kami baru saja menemukan rekaman cctv.”Ucap Cakka saat Rio tiba di kantor polisi.
Seorang petugas di koridor mendatangi mereka. “Dari record sambungan telepon ahmed Denizer dan Acha Krysabel,mereka berdua tidak saling berhubungan dengan via telepon.” Ucapan petugas itu yang mampu membuat Rio tersenyum setelah berita kematian tunangannya.

“Aku tahu itu.” Gumam Rio puas.

Mereka membuka pintu dan mendapati Obiet yang sedang murka. Cakka dan Rio saling berpandangan, ada apa?

“Beberapa bagian rusak dan berhenti.” Merasa diperhatikan, Obiet menjelaskan kemarahannya. Mereka terlalu antusias tapi tak ada satu pun yang memberi petunjuk, bukankah itu menyebalkan?

“Boleh aku lihat rekamannya kak?” Ijin Rio. Obiet mempersilahkan adiknya melihat rekaman cctv tersebut. Tak jauh berbeda, Rio mengumpat kesal.

“Video rekamannya telah diubah!”

Cakka mendekat ke arah Rio, untuk memperhatikan rekaman tersebut. Tak ada yang aneh tertangkap oleh indra penglihatan Cakka. Ya meskipun ada beberapa bagian rusak, tapi tidak begitu mengubah rekamannya.

“Lihatlah! Ada waktu jeda yang hilang sekitar 1 jam.” Rio menggerakkan jari telunjuknya ke arah monitor komputer.

“Ya bisa saja itu digunakan mereka untuk relax.” Cakka berkata dengan wajah tanpa dosanya yang diberi hadiah tatapan maut dari Rio. “Mmm, itu hanya asumsi ku saja.” Ucap Cakka salah tingkah.

“Aku mau lihat file tentang pembunuhan itu.”Rio tak menghiraukan hipotesis konyol Cakka. Karena baginya, tak mungkin gadisnya seperti itu.

“Buat apa?”
“Lakukan saja perintah ku!”

“Ya terserah mu saja.” Cakka mendengus kesal. Ingin sekali ia diberi mukjizat pada saat itu juga untuk memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain.

“Acha Krysabel dan Ahmed Denizer dibunuh dengan senjata yang sama..” Gumam Rio sambil mempelajari file tersebut. Mata Rio terhenti saat menemukan sesuatu pada tubuh Acha. Sebuah luka akibat goresan. Kemungkinan Acha diseret, itu berarti Acha dibunuh  ditempat lain dan kemudian dimasukkan ke dalam mobil.

Rio mengambil dua buah kursi dan mensejajarkannya. Cakka hanya diam melihat semangat Rio. “Cakka kau duduk disini!” Perintah Rio khas dengan nada otoriternya. Cakka menautkan kedua alisnya, meskipun begitu ia tetap menuruti perintah Rio

Cakka duduk di kursi satunya, sementara kursi yang lain dibiarkan kosong. Rio menodongkan pistolnya ke arah Cakka. Cakka terkejut, tanpa disadari ia mengelakkan tubuhnya. “Kau terlalu bersemangat, kawan.” Desis Cakka.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku menodongkan pistol dari samping?”

“Mmm aku akan berbalik menatap mu.” Jawab Cakka sambil berpikir.

“Tak!” Rio menirukan suara jika pelatuk pistol ditarik. Rio menggigit bibir bawahnya, kemudian sedikit mundur ke belakang dan kembali menirukan hal yang sama. Cakka hanya diam meskipun Rio menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan.

“Kemungkinan besar pembunuhnya menbunuh dari sini.” Jawab Rio sambil menujukkan posisinya. “Dan aku yakin, Acha dibunuh di tempat lain setelah Ahmed Denizer terbunuh.”

Cakka memiringkan kepalanya. “Bagaimana jika dari belakang mobil?”

“Ah iya. Kau benar.” Jawab Rio. “Aku akan memeriksa mobilnya.”  Rio melangkahkan kakinya, meninggalkan Cakka.

“Tapi mobil itu telah diambil oleh pemiliknya.” Ucap Cakka menahan Rio.

‘”Apa kau bilang?” Rio memutar tubuhnya. Wajahnya penuh dengan amarah. “PENYELIDIKAN BELUM SELESAI, TAPI BARANG BUKTI SUDAH DIKEMBALIKAN!”

“Itu terjadi karena tekanan dari atas, pihak keluarga Ahmed ingin menutup kasus ini.”

Rio keluar dengan membanting pintu.
                                          ****
“Aku butuh uang tunai.” Keluh Ify pada majemen keuangan kantornya. Ia putus asa mencari berlian itu. Lebih baik ia membayarnya dengan uang tunai, dari pada harus dihantui pria yang selalu bertanya, Dimana-berliannya?

“Berapa yang nona butuhkan?”

“110 juta.” Ify memegang kepalanya yang terasa semakin memberat. “Aku butuh 110 juta lira.”

“Maaf nona, satu tahun belakangan ini penjualan menuruh drastis. Kita tidak punya uang tunai sebanyak itu.” Pria itu berkata hati-hati, meskipun begitu Ify tetap saja emosi.

“Kita bisa jual rumah atau pun bangunan-bangunan lainnya.”

“Tapi semuanya sudah digadaikan nona.”

Ify terdiam, berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar. “Denizer Holding bangkrut?”

Pria itu mengangguk pelan.
                                              ****
Ify berjalan tanpa tujuan. Kenapa mimpi buruk ini lama sekali berakhir? Ia sudah lelah dengan segala masalah yang menghimpitnya.

“Fy, akan kita apakan mobil itu? Apa kita kirim saja ke perusahaan?” Tanya Shilla yang mengikuti Ify dari tadi.

Ify mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.”
                                            ****
Kenangan akan kematian Acha terus menghantui Rio. Sudah sepuluh menit Rio melakukan pemeriksaan terhadap mobil tersebut untuk mencari bukti-bukti baru. Tiba-tiba tangannya memegang sesuatu, sebuah benda mengkilap. Berlian biru yang sama ditemuinya di kamar Acha.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara lengking Ify menghentikan Rio. Rio menggenggam berlian tersebut dan kemudian mematikan senternya.

“Aku akan telepon polisi!” Ify sudah bersiap-siap mengambil telepon genggam miliknya di dalam tas sandang yang dikenakannya.

“Aku polisi.”

Ify memicingkan matanya, ia sama sekali tak percaya dengan pria yang ada dihadapannya saat ini. “Bagus! Aku tidak percaya.” Sedetik lagi ia akan menghubungi polisi, but it was in vain.

“Aku Inspectur Rio.” Rio menujukkan tanda pengenalnya. “Bergerak di bidang pembunuhan.”

Ify meletakkan kembali ponselnya. “Apa kau menemukan sesuatu?” Sumpah demi apa, nada bicaranya seakan membalikkan perkataannya semenit yang lalu. “Kalau pun iya, kau tak akan mengatakannya kepada ku.” Lanjutnya.

“Itu pasti.” Jawab Rio sambil berlalu pergi.

“Bagaimana jika aku minta bantuan?” Rio menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan tubuhnya, berusaha memastikan bahwa perempuan di depannya ini sedang tidak bercanda.

“Aku tahu kita memang tidak saling mengenal, tapi apa yang terjadi pada keluarga kita tidak lah normal. Apa yang terjadi membuat kita menderita dan bertanya-tanya setiap saat, bagaimana ayah ku dan tunangan mu bisa saling mengenal dan mengapa mereka terbunuh. Mungkin jika kita bekerja sama kita bisa saling membantu dan membongkar kasus ini. Aku turut berduka cita..” Ify mengulurkan tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya dan berharap pria bernama Rio itu mau berjabat tangan dengannya.

Rio hanya memandangi Ify tanpa ada niat untuk menjabat tangan wanita sombong itu. Enak saja dia mengajaknya damai setelah berkata kasar akan tunangannya. “Aku punya banyak pekerjaan.”

“KAU BENAR-BENAR!” Ify menggeram kesal. “AKU BERHARAP TIDAK BERTEMU LAGI DENGAN MU! KAU DENGAR ITU?!”

“Aku mendengarnya.” Sahut Rio sambil terus berjalan.

Rio mengambil ponselnya, dan menelpon Cakka. “Aku ingin kau menyelidiki keluarga Ahmed Denizer.” Rio memutuskan ponselnya, tanpa memberi kesempatan bagi Cakka untuk membantah. Tinggallah sumpah serapah dari Cakka untuk Rio.

Rio menuju TKP. Semenjak menyelidiki kasus ini, dia belum Melihat TKP. Rio berjalan santai. Tak banyak yang ia lihat selain jejak ban mobil dan jejak lainnya yang Rio duga sebagai jejak Acha diseret. Tak sengaja kakinya menginjak sebuh benda. Rio sangat hapal benda itu, anting milik Acha. Dari kejauhan, Rio melihat sebuah gubuk. Dengan cepat pria hitam manis itu melangkahkan kakinya menuju gubuk. Darah. Ia bisa merasakan bahwa itu adalah darah manusia dan masih segar. Itu artinya Acha dibunuh di gubuk ini. Rio kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Cakka. Tidak sempat Rio mendengar suara Cakka menjawab panggilannya, sebuah kayu telah memukul bagian belakang kepalanya.
                                            ****
Ify memandang sekelilingnya bingung. Kenapa semua keluarganya begitu sedih? Dia tahu jika keluarganya sedang berduka, tapi sepertinya ini duka yang lain. Sivia berhamburan memeluk Ify. “Kak, perusahaan Ayah bangkrut.”

Ify tercenung. Dia membelai lembut rambut Sivia. “Tenanglah! Aku akan bertanggung jawab. Aku akan cari jalan keluarnya.”

Pengecara keluarga Denizer –Sebnem- mendekati Ify. “Kami akan tunda penyitaannya.”
“Terima kasih Sebnem.”
                                             ****
Rio membuka kelopak matanya, saat menyadari terik matahari yang sedikit menyengat. Matanya membulat saat mendapati gubuk tersebut sudah terbakar. Tiba-tiba mobil polisi datang. Cakka dan Obiet mendekatinya. “Apa yang terjadi?” Tanya Obiet.

“Sudah jelas, pembunuhnya ingin menghilangkan barang bukti.” Rio menunjukkan gubuk yang telah lenyap dimakan api.
                                             ****
“Kau ini keras kepala sekali!”

“Kak, Sibel masih gadis.” Jawab Rio yang tak mau disudutkan.
Obiet terdiam. “Aku dicabut dari kasus ini.”

Rio terkejut. Apa karena dirinya ini terjadi? Dia sungguh menyesal. “Maafkan aku kak.”

“Coba kau pikirkan kembali niat mu untuk mengundurkan diri.” Obiet tidak menggubris permintaan maaf Rio. Ia teringat bagaimana kepala polisi sangat marah sekali dengan adiknya. “Aku melakukan segalanya agar kau bisa masuk akademi. Dan aku tak ingin pengorbanan ku dulu sia-sia belaka.”

Rio tersenyum, “Aku tidak akan bisa mngkhianati pekerjaan ku dan juga tuangan ku.”
                                             ****
“Jaga diri mu baik-baik disana.”

“Baik kak.” Sivia tersenyum pada kakak tertuanya –Zevana-

Sivia memperhatikan ibunya yang semenjak tadi pagi tidak mau berbicara dengannya. “Aku harap Ibu tidak akan menyesal karena tidak sempat memeluk ku, sebelum pesawat ku jatuh.”

Ny.Zerin memeluk Sivia erat. Membiarkan anaknya seorang diri bersekolah di negeri paman sam, bukankah itu perkara yang cukup sulit? “Ibu pasti akan merindukan mu, Nak.”

“Kakak dari mana saja?” Ucap Sivia saat menemui kakaknya –Ify- baru saja datang.

“Aku ada kabar baik. Ayo masuk.” Dengan wajah sumringahnya Ify menceritakan apa yang telah terjadi. “Paman Tayyar bersedia membiayai studi mu di Amerika.”

“Kau tidak bercanda kan Fy?” Sivia memekik terharu. Ia memeluk tubuh Ify. Ini adalah kabar bahagia yang diterimanya semenjak kematian ayahnya.

Mobil tiba-tiba berhenti, membuat dua gadis yang sedang berpelukan itu bingung. Dua orang pria masuk ke dalam mobil dan menondongkan pistol kepada mereka. Mata Ify dan Sivia ditutup oleh kain. Mereka tidak bisa melihat apa-apa selain merasakan mobil yang melaju kencang.

                                            ****
Sebuah gudang kosong yang sangat berantakan ditambah lagi kayu yang sudah melapuk. Ify sedikit bahagia saat mendapati adiknya masih berada dengannya. Namun kebahagiaan itu memudar seiring dengan empat orang pria bertubuh kekar dihadapannya. Dan satu diantara mereka adalah Mathin.

Mathin menampar Sivia. Ify sangat kaget. Ingin sekali ia membalas perlakuan pria bermata sipit itu, apa daya tangannya sedang terikat tali.

“Dimana berliannya?”

“Sampai detik ini aku belum menemukan berlian itu.”

Sivia hanya diam menyaksikan perbincangan Ify dengan pria menakutkan itu. Apakah kakaknya mengenal orang-orang ini?

“Kau telah menemukannya kan?” Tanya Mathin. “Kau tidak mau memberikannya karena sekarang keluarga kalian sedang bangkrut dan uang adalah obat yang mujarab.”

Mathin memisahkan Sivia dan Ify. Mereka berdua memberontak. Tapi apa artinya dua tenaga perempuan dengan empat tenaga pria?
                                             ****
“Dimana adik ku? Apa yang kau lakukan kepadanya?” Tanya Ify saat mendapati bahwa hanya ada ia, 4 orang pria, dan tak ada Sivia. Ify sangat tahu bahwa saat ini ia sedang berada di hutan.

“Sekarang dia baik, tapi semua tergantung kepada mu. Kau harus merahasiakan ini dan segera membawa berlian itu atau aku akan memotong-motong adik mu menjadi banyak bagian. Jika kau pintar, kau tidak akan dikubur disebelah ayah mu. Jangan sampai polisi tahu tentang hal ini!”
                                            ****
Ify turun dari mobil van hitam itu dengan lemah, tak berdaya, dan putus asa. Dia hampir tak bisa menahan kakinya untuk berjalan. Apa yang harus ia katakan kepada ibunya? Sivia dalam bahaya.

Rio yang melihat Ify berjalan seperti mayat hidup, mendekatinya. Ify terkejut saat mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Rio. “Ini aku Rio”. Ucap Rio berusaha menenangkan gadis itu.


“Apa kau mencari ini?” Tanya Rio sambil menyodorkan sebuah berlian biru yang telah ditemukannya. Ify menatap berlian itu serinci mungkin, dan kemudian teleponnya berbunyi.


                     ~~~~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~~~~